SAMARINDA – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda tengah serius mempersiapkan transformasi sistem transportasi massal untuk mengurai kepadatan lalu lintas di wilayah perkotaan. Langkah strategis ini dirancang sebagai solusi jangka panjang guna menyediakan layanan angkutan umum yang modern sekaligus mengajak warga mulai beralih dari penggunaan kendaraan pribadi.
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengungkapkan bahwa perencanaan teknis mulai dari penentuan jalur, ketersediaan armada, hingga integrasi tarif saat ini sedang dimatangkan. Sebagai langkah awal, program ini akan mengoperasikan 16 unit armada jenis minibus yang akan melayani dua rute utama. Dalam pelaksanaannya, setiap rute akan diperkuat oleh tujuh armada aktif dan satu unit cadangan guna memastikan layanan tetap berjalan stabil meskipun terjadi kendala operasional.
Sektor anggaran menjadi aspek krusial dalam proyeksi ini, dengan estimasi kebutuhan dana mencapai Rp35 miliar. Anggaran tersebut dialokasikan untuk membiayai operasional di dua trayek utama serta dua jalur penghubung atau feeder, termasuk antisipasi penggunaan bahan bakar non-subsidi guna menjamin kelancaran mobilitas armada setiap harinya.
Keunggulan utama yang ditawarkan dalam sistem baru ini adalah integrasi tarif yang ramah di kantong. Dishub merancang skema di mana penumpang yang sudah membayar di trayek utama tidak akan dikenakan biaya tambahan saat berpindah ke layanan feeder. Tarif yang diusulkan pun sangat kompetitif, yakni Rp1.000 untuk pelajar dan sekitar Rp2.500 bagi masyarakat umum, mengadopsi pola layanan transportasi maju seperti yang telah diterapkan di Jakarta.
Selain biaya yang murah, Dishub Samarinda menekankan pada perubahan standar pelayanan, khususnya terkait ketepatan waktu. Berbeda dengan angkutan konvensional yang sering kali menunggu penumpang hingga penuh, armada baru ini akan beroperasi berdasarkan jadwal yang ketat dengan waktu tunggu atau headway yang sangat singkat, yakni berkisar antara 1 hingga 2 menit saja. Transformasi pelayanan ini diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa angkutan umum bisa menjadi pilihan transportasi yang efisien, cepat, dan nyaman. (*)
Editor : Indra Zakaria