Diduga Salah Diagnosis di Puskesmas, Bocah 6 Tahun di Samarinda Jalani Operasi Usus Buntu Pecah

Muhamad Yamin • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 21:33 WIB
Sulung Nugroho ketika menunjukkan bukti rekaman video di Puskesmas Lempake.
Sulung Nugroho ketika menunjukkan bukti rekaman video di Puskesmas Lempake.
 

PROKAL.CO, SAMARINDA - Seorang bocah berusia enam tahun di Samarinda, Kalimantan Timur, harus menjalani operasi usus buntu setelah sebelumnya beberapa kali menjalani pemeriksaan di Puskesmas Lempake. Orang tua pasien menduga terjadi kekeliruan diagnosis yang menyebabkan penanganan terlambat hingga kondisi usus buntu anaknya memburuk dan pecah.

Ayah korban, Sulung Nugroho, menuturkan anaknya mulai mengeluhkan sakit perut pada Rabu (8/7/2026) malam. Karena keluhan muncul di luar jam praktik klinik, keluarga memutuskan membawa sang anak ke Puskesmas Lempake sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama yang terdaftar dalam program BPJS Kesehatan.

"Anak saya dibawa ke Puskesmas Lempake. Awalnya diberikan obat. Saya pikir tidak masalah karena mungkin masih pemeriksaan pertama," kata Sulung kepada wartawan, Senin (27/7/2026). Menurut Sulung, setelah mengonsumsi obat kondisi anaknya tidak kunjung membaik. Saat kembali berobat, dokter disebut mendiagnosis anaknya mengalami diare dan gangguan lambung. Keluarga diminta melanjutkan pengobatan dan kembali jika kondisi pasien belum membaik.

Namun, rasa sakit yang dialami anaknya justru semakin berat. Keluarga kemudian kembali mendatangi Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Lempake untuk meminta surat rujukan ke rumah sakit.

"Kenapa tanggal 13 kami ke rumah sakit, itu karena tanggal 12 hari libur. Jadi setelah dari puskesmas tanggal 11, kami baru dapat surat rujukan di tanggal 13," ujarnya. Setelah dirujuk ke Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada Senin (13/7/2026), dokter spesialis menyatakan anaknya menderita radang usus buntu dengan kondisi yang sudah bernanah dan hampir pecah. Sehari berselang, pasien langsung menjalani operasi.

"Dokternya bilang, 'Kenapa bawanya baru sekarang? Ini sudah mau pecah.' Padahal kami merasa tidak terlambat karena sejak awal sakit langsung kami periksakan," tutur Sulung.

Jalani Perawatan di ICU

Usai menjalani operasi, bocah tersebut harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU selama hampir satu pekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Sulung menduga keterlambatan penanganan terjadi karena saat pemeriksaan kedua di puskesmas tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium, meskipun kondisi anaknya saat itu disebut sudah semakin lemah.

Menurutnya, beberapa tenaga medis di rumah sakit menyampaikan kondisi tersebut seharusnya dapat terdeteksi lebih awal apabila dilakukan pemeriksaan penunjang ketika keluhan tidak kunjung membaik.

"Kalau tanggal 11 itu menurut saya harusnya sudah ada pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui sebenarnya sakit apa," katanya.

Ia juga mengaku baru mengetahui dokter yang menangani anaknya merupakan dokter internship. Selain itu, hingga kini dirinya mengaku belum memperoleh kesempatan bertemu langsung dengan dokter yang memeriksa anaknya untuk meminta penjelasan.

"Kekecewaan saya kenapa anak saya yang sudah datang dua kali tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah benar sakit lambung atau justru usus buntu," ucapnya. Sulung menambahkan, saat pemeriksaan kedua kondisi anaknya sudah sangat lemas dan sulit berdiri. Meski demikian, menurut dia, anaknya kembali diberikan obat tanpa pemeriksaan laboratorium. Keluarga akhirnya yang meminta agar pasien dirujuk ke rumah sakit.

Puskesmas Sebut Pelayanan Sudah Sesuai Prosedur

Menanggapi keluhan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Puskesmas Lempake, Komang Ayu Indah Ardhani, memberikan tanggapan singkat. Ia menyatakan seluruh pelayanan yang diberikan kepada pasien telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang berlaku. "Saya hanya bisa menyampaikan bahwa kami puskesmas sudah melayani sesuai prosedur," kata Komang. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
puskesmas