VINCENNES – Pagi buta di lapangan militer Vincennes, Prancis, pada 15 Oktober 1917, menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan hidup Margaretha Geertruida MacLeod, atau yang lebih dikenal dunia sebagai Mata Hari. Namun, alih-alih tampil sebagai pesakitan yang hancur, sang penari legendaris itu menghadapi ajalnya dengan keanggunan yang menantang maut.
Mata Hari melangkah menuju tiang eksekusi seolah-olah ia masih menguasai panggung pertunjukan di Paris. Mengenakan sepatu hak tinggi, gaun sutra gelap, dan topi modis, tidak ada gurat ketakutan di wajahnya. Dengan tenang, ia memeluk biarawati yang mendampinginya, lalu menyerahkan mantelnya kepada petugas. Keteguhan hatinya semakin tampak saat ia menolak penutup mata yang ditawarkan; ia bersikeras ingin menghadapi butiran peluru dengan mata terbuka lebar.
Alih-alih memohon pengampunan sebagai permintaan terakhir, ia justru meminta segelas anggur. Di bawah kilatan lampu kamera yang mengabadikan momen bersejarah itu, ia meminumnya perlahan di hadapan dua belas tentara yang tampak gelisah. Keberanian wanita yang menolak untuk tunduk ini membuat suasana di lapangan tersebut terasa begitu mencekam sekaligus emosional.
"Saya sudah siap, Tuan-tuan," ucapnya tegas sembari mengangkat kepala dan menatap tajam ke arah regu tembak.
Sesaat setelah aba-aba "bidik" diteriakkan, Mata Hari melakukan sesuatu yang tak terlupakan: ia melemparkan sebuah kecupan jauh (吹出/blow a kiss) kepada para eksekutornya. Tak lama kemudian, perintah "tembak" menggema. Sebelas peluru melesat menembus udara, sementara satu prajurit dilaporkan pingsan, tak kuat menahan beban emosional saat harus menarik pelatuk ke arah perempuan yang menghadapi kematian dengan senyuman terakhirnya. (*)
Editor : Indra Zakaria