Membongkar Mitos Wajah Gajah Mada: Dari Celengan Trowulan Hingga Propaganda Pemersatu Bangsa

Indra Zakaria • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 10:15 WIB
Terakota dan buku M Yamin.
Terakota dan buku M Yamin.

PROKAL.CO- Wajah Mahapatih Gajah Mada dengan rahang tegas dan tatapan penuh wibawa telah puluhan tahun tertanam kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia. Dari buku pelajaran sejarah sekolah dasar, lukisan di museum, hingga patung-patung di markas kepolisian, visual tersebut dianggap sebagai rupa asli sang penyatu Nusantara. 

Namun, fakta sejarah menunjukkan hal yang bertolak belakang: wajah tersebut hanyalah hasil rekaan.Mitos Arkeologis dan Jejak Tahun 1932Gagasan mengenai rupa fisik ini sering dikaitkan dengan Mohammad Yamin pada era 1940-an. Namun, penafsiran terakota tersebut sejatinya memiliki jejak literatur yang lebih lama.Foto dan pembahasan artefak terakota tersebut sudah muncul sejak tahun 1932 dalam majalah Nederlandsch Indië Oud & Nieuw.

Artikel berjudul "Gajah Mada" itu ditulis oleh Frederic Martin Schnitger, seorang arkeolog Belanda kelahiran Malang. Dalam tulisannya, Schnitger mengunggah foto pecahan terakota dari Trowulan tersebut dan secara spekulatif menyebutnya sebagai "kemungkinan wajah Gajah Mada".

Narasi Pemersatu Era 1940-an

M Yamin dan patung Gajah Mada.
M Yamin dan patung Gajah Mada.

Saat Indonesia merdeka pada pertengahan abad ke-20, negara baru ini berada dalam fase pembangunan karakter bangsa (nation-building). Sebuah bangsa yang baru lahir membutuhkan narasi, pahlawan, dan simbol pemersatu yang kuat.Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya dinilai sebagai sosok paling ideal untuk mewakili cita-cita Nusantara yang bersatu. Namun, muncul kendala mendasar: tidak ada satu pun prasasti, arca, atau catatan sejarah era Majapahit yang mendeskripsikan rupa fisik sang Mahapatih secara pasti.

Di sinilah Mohammad Yamin mengambil peran penting. Menyadari bahwa publik membutuhkan rupa visual untuk dikagumi, Yamin memanfaatkan referensi artefak terakota Trowulan yang sebelumnya pernah diulas oleh Schnitger. Yamin kemudian meminta seniman untuk menggambar sketsa berdasarkan rupa artefak tersebut.Sketsa rekaan ini dipublikasikan pertama kali dalam buku karya Yamin yang terbit pada tahun 1945, Gajah Mada: Pahlawan Persatuan Nusantara.

Buku tersebut meledak di pasaran dan gambaran visual itu dengan cepat diterima secara luas oleh publik serta dicetak berulang kali dalam kurikulum pendidikan nasional.Kesimpulan Para Ahli ModernPara arkeolog dan sejarawan modern sepakat bahwa artefak terakota dari Trowulan tersebut kemungkinan besar hanyalah representasi rakyat biasa, pecahan celengan kuno, atau sekadar ornamen seni buatan pengrajin lokal Majapahit—bukan potret resmi Gajah Mada.

Meski tidak akurat secara arkeologis, langkah yang diambil pada era awal kemerdekaan dipandang dalam konteks zamannya sebagai bagian dari strategi politik kebudayaan. Kebutuhan akan sosok pahlawan berwujud visual jauh lebih mendesak untuk merajut persatuan nasional dibandingkan sekadar ketelitian akademis.

Dengan demikian, gambar atau patung Gajah Mada yang kerap kita lihat hari ini merupakan pengingat akan sebuah rekonstruksi sejarah—sebuah reka cipta visual yang berawal dari spekulasi arkeologi era kolonial hingga dimanfaatkan demi menyatukan sebuah bangsa. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
gajah mada