PROKAL.CO- Istilah Londo Ireng belakangan kembali mencuri perhatian publik. Namun, jauh sebelum dikaitkan dengan narasi politik modern maupun sindiran bagi pribumi yang memihak kolonial, istilah ini memiliki akar sejarah yang nyata, literal, dan berdarah-darah: serdadu berkulit hitam yang bertempur di bawah panji Kerajaan Belanda.
Salah satu sosok ikonik di balik sejarah tersebut adalah Jan Kooi, seorang kopral Afrika dari St. George d'Elmina, Pantai Barat Afrika. Kooi meraih ketenaran di Belanda berkat aksi-aksi beraninya dalam Perang Aceh—konflik paling lama, paling berdarah, dan paling menguras sumber daya dalam sejarah kolonial Belanda. Karena nama aslinya dianggap sulit diucapkan oleh opsir kolonial, ia dan banyak prajurit Afrika Barat lainnya dianugerahi nama panggilan berbahasa Belanda.
Sebagai prajurit yang dikenal sangat pemberani, Jan Kooi mencatatkan deretan aksi militer fenomenal di medan perang. Misalnya 31 Januari 1878 ia menyelamatkan nyawa Kapten Bloom dengan membunuh dua pejuang Aceh, meski Kooi sendiri menderita luka-luka akibat pertempuran tersebut. Lalu ada perebutan senjata dimana dia berhasil merebut sepuluh laras meriam milik pasukan Aceh.
Pada 25 Juli 1878 dia kembali menyelamatkan nyawa perwira Belanda, Letnan van Bijlevelt, dari serangan kritis seorang pejuang Aceh yang bersenjatakan kelewang dan tombak. Atas aksi heroik ini, ia diganjar imbalan 100 gulden. Pada 26 April 1879, bersama dua rekan prajurit Afrika lainnya (Bilk dan Jaap), Kooi sukses menghalau serangan sengit terhadap konvoi pasukan kolonial.
Atas deretan jasa luar biasa tersebut, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 29 tanggal 2 Maret 1878, Jan Kooi dianugerahi medali Kesatria Kelas 4 Militaire Willems-Orde untuk "Atjeh 1877". Pencapaian ini mengukuhkannya sebagai prajurit Afrika Barat pertama yang berhasil meraih penghargaan militer tertinggi dalam sejarah Hindia Belanda. Selain itu, Kooi juga dianugerahi Sebutan Khusus (Eervolle Vermelding), Medali Kraton, serta Salib Ekspedisi Militer (Eretreken voor Belangrijke Krijgsverrichtingen).
Perekrutan warga Afrika Barat seperti Kooi merupakan bagian dari kebijakan resmi Belanda untuk memperkuat barisan KNIL, khususnya pada satuan elit Korps Marechaussee (Marsose), lantaran daya tahan fisik mereka di iklim tropis. Sebagian prajurit yang purna tugas memilih menetap di Nusantara—seperti di Semarang dan Kampung Afrikan di Purworejo—yang kemudian membentuk cikal-bakal komunitas "Belanda Hitam".
Namun, Jan Kooi memilih jalan pulang. Setelah masa tugasnya berakhir di usia 33 tahun, ia kembali ke kampung halamannya di Elmina (yang kala itu telah diserahkan Belanda kepada Inggris) melalui Depot Galangan Kolonial di Harderwijk, Belanda. Surat kabar mingguan Overveluwsche Weekblad mencatat bahwa Kooi fasih berbahasa Belanda dengan sempurna dan kerap mengungkapkan kerinduannya pada tanah kelahirannya.
Saat berada di Harderwijk pada Februari 1883, kehebatannya diabadikan dalam dua buah lukisan potret: satu lukisan impresionistik karya Isaac Israels, serta potret resmi karya J.C. Leich yang hingga kini tersimpan rapi di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda.
Seiring berjalannya waktu, makna istilah Londo Ireng mengalimi pergeseran drastis dari sosok prajurit Afrika seperti Jan Kooi. Pada masa revolusi fisik 1945–1950, para pejuang Republik mengadopsi istilah tersebut sebagai ejekan bagi para tentara KNIL non-Eropa—seperti prajurit asal Ambon, Manado, Timor, hingga bumiputra—yang bertugas membela kepentingan kolonial. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co