PROKAL.CO- Sebuah dokumen sejarah penting berupa surat terbuka yang ditulis oleh Ratna Sari Dewi Soekarno (Naoko Nemoto) kepada Presiden Ke-2 RI Soeharto kembali menyita perhatian publik. Surat yang dibuat di Paris pada April 1970 dan tersimpan dalam laman resmi Perpustakaan Digital Sastra Belanda (DBNL) tersebut secara tajam membongkar sudut pandang Dewi Soekarno atas peristiwa kelam Peristiwa 30 September 1965 dan dampaknya di Indonesia.
Dalam surat tersebut, Dewi Soekarno menegaskan keputusannya bertindak sebagai warga negara Indonesia tanpa keterlibatan mantan Presiden Soekarno. Ia mengkritik keras pembantaian massal dan proses hukum tanpa norma pengadilan yang dinilainya berlangsung dalam suasana teror serta kekerasan usai insiden 1965.
"Pengadilan berlangsung dalam suasana kekerasan dan teror. Mereka yang di bawah pimpinan Soekarno tidak punya suara, kemudian melampiaskan diri dengan membunuh dan menteror dari posisi kekuasaan baru. Bila suatu waktu nanti tempat Anda kosong, bisa saja terjadi mereka yang menonjol dalam rezim Anda dihukum mati karena pengkhianatan dan kejahatan korupsi," tulis Dewi Soekarno dalam suratnya.
Ia turut menyoroti laporan media internasional mengenai korban jiwa yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang serta mempertanyakan pengabaian dunia internasional terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Selain itu, Dewi melayangkan kejanggalan-kejanggalan seputar konstruksi narasi Peristiwa 30 September, termasuk instruksi Presiden Soekarno kepada Soeharto untuk mengumpulkan fakta secara netral yang ia nilai telah disimpangkan.
"Presiden Soekarno memerintahkan agar Anda mengumpulkan fakta-fakta dan menyerahkannya kepadanya secara pribadi. Namun, perintah itu Anda interpretasikan sendiri untuk mengenyahkan kekuatan-kekuatan yang tersisa," sorotnya.
Surat terbuka ini menjadi salah satu dokumen historis kritis yang mencatat dinamika politik awal berdirinya rezim Orde Baru serta pertarungan narasi sejarah pasca-1965 dari kacamata orang terdekat Presiden Soekarno. (*)
Berikut isi surat lengkapnya:
Berikut adalah teks surat terbuka tersebut yang telah dirapikan dari segi pemenggalan alinea, penulisan tanda baca, ejaan kata yang disingkat, serta kerapian tata letaknya tanpa mengubah substansi isinya:
Surat Terbuka Ratna Sari Dewi Soekarno kepada Presiden Soeharto (Paris, April 1970)
Yang Mulia, Presiden Soeharto,
Sekali-kali bukanlah maksud saya untuk mengingatkan Anda akan hal-hal yang rupanya ingin Anda lupakan. Tetapi karena saya mengikuti kejadian-kejadian di Indonesia dari dekat, saya anggap tugaskulah untuk berbicara.
Mungkin akan lebih bijaksana untuk tetap membisu seperti sphinx. Pertanggungjawaban untuk melanggar tabu biasanya amat berat, karena itu saya juga sadar bahwa saya akan dikucilkan. Barangkali lebih berat daripada yang saya perkirakan.
Baik di dunia maupun di Indonesia, lambat laun beredar cerita-cerita yang dipalsukan bahwa saatnya sudah tiba saya membeberkan kejadian-kejadian dari sudut pandang saya. Saya telah memutuskan untuk menyampaikan surat kepada Anda sebagai warga negara Indonesia. Selain itu, saya mengharapkan agar tidak timbul keragu-raguan bahwa keputusan saya untuk mengirimkan surat terbuka kepada Anda, maupun isinya, sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, mantan Presiden Indonesia.
Sekarang sudah terlambat untuk membicarakan para perwira yang telah dihukum mati sebagai ‘kontra-revolusioner’ dan sebagai ‘pelaku makar terhadap negara’. Sudah sejak dahulu, sejak hari-hari Soekarno masih berkuasa, saya tidak setuju dengan pendapat bahwa ‘kekuasaan selalu menang’. Saya juga tidak setuju bila kepala negara mengelilingi dirinya dengan yes-man. Saya masih saja berpendapat bahwa di sekitar Anda masih terlalu banyak orang berkumpul, yang selalu bungkam, yang pura-pura setuju dan menaati Anda, agar mendapatkan lebih banyak kekuasaan untuk dirinya.
Yang pertama-tama saya kutuk ialah yang disebut proses-proses, di mana orang dihukum mati untuk ‘kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap negara’ tanpa mengindahkan norma-norma yang lazim dilakukan dalam suatu proses di pengadilan. Proses-proses itu berlangsung dalam suasana kekerasan dan teror. Mereka, yang di bawah pimpinan Soekarno hampir tidak punya suara, kemudian melampiaskan diri dengan sangat tidak bertanggung jawab dan membunuh serta menteror dari posisi kekuasaan yang baru mereka peroleh.
Bila suatu waktu nanti tempat Anda akan kosong untuk diisi oleh orang lain, bisa saja terjadi, bahwa mereka yang menonjol dalam rezim Anda, termasuk di dalamnya tentu Anda sendiri dan sejumlah mitra militer Anda, akan dihukum mati karena pengkhianatan terhadap negara—dan kejahatan-kejahatan lain, misalnya korupsi yang telah menyebar luas ke mana-mana.
Mengapa Anda memberikan contoh seburuk itu kepada negara semuda Indonesia? Dalam hal ini yang saya maksud tidak hanya proses-proses politik yang telah Anda selenggarakan. Tetapi yang teringat olehku adalah orang-orang yang terbunuh oleh yang dinamakan ‘pembersihan merah’ menyusul peristiwa 30 September 1965. Berapa dari orang-orang ini hanyalah pengikut-pengikut Soekarno?
Berita yang merebak menyebutkan bahwa tidak kurang dari 800.000 orang Indonesia, termasuk perempuan dan anak-anak, telah dibunuh karena mereka merupakan pengikut PKI (Partai Komunis Indonesia).
Pada Januari 1966, London Times menulis:
“Setelah kejadian-kejadian di Indonesia, tiga bulan yang lalu, telah dibunuh seratus ribu komunis, angka itu menurut diplomat-diplomat Barat amat rendah. Para usahawan dan turis Eropa, yang baru kembali dari Indonesia mengabarkan bahwa mereka melihat sebuah sungai penuh dengan mayat tanpa kepala, sedangkan di desa-desa anak-anak bermain sepak bola dengan kepala korban.”
Tiga bulan setelah peristiwa 30 September merupakan mimpi buruk dengan kekejaman-kekejaman yang tak terlukiskan yang diwarnai darah—tanpa tandingan dalam sejarah Indonesia. Seorang koresponden Washington Post menulis dari Jakarta, bahwa di Jawa Timur saja telah dibunuh 250.000 orang menurut juru bicara pihak Islam. Koran itu kemudian memberitahukan bahwa:
“Pembunuhan mencapai puncaknya pada bulan November. Kepala orang dipakai sebagai dekorasi di atas jembatan. Di tempat lain orang melihat jenazah-jenazah tanpa kepala berjajar di atas perahu-perahu di sungai. Apa yang terjadi di sini sungguh tak bisa dibayangkan. Rupanya seperti di neraka. Bengawan Solo yang didendangkan dengan begitu indah telah memuat demikian banyaknya jenazah, sehingga airnya pun kadang-kadang tidak tampak. Beberapa pengamat berbicara tentang dasar sungai yang berwarna merah karena darah.”
Koran Inggris The Economist bahkan memperkirakan korban pembunuhan massal berjumlah satu juta.
Mengapa harus terjadi pertumpahan darah besar-besaran terhadap orang-orang yang tak bersalah? Dan mengapa masyarakat dunia membisu seribu bahasa? Bila satu orang saja meninggal di sepanjang Tembok Berlin, seluruh dunia gegap gempita. Tetapi bila 800.000 orang Asia dalam masa damai dibunuh secara terencana, adem-ayem saja di Barat.
Tentu, di antara yang terbunuh itu pasti ada yang komunis. Tetapi apa yang terjadi dengan kebebasan serta hak asasi manusia, bila mereka bekerja dengan mempergunakan cara-cara tertentu terhadap suatu gerakan di bawah tanah yang tidak berkenan di hati pemerintah? Akan lebih bisa diterima bila cara-cara tertentu itu diambil setelah PKI dilarang secara undang-undang dasar. Tetapi justru karena kebebasan manusia harus dihormati ditinjau dari sudut kemanusiaan, tidaklah dapat dibenarkan mengadakan pembantaian di antara pemberontak.
Tuan Soeharto, ke mana pun Anda berpaling untuk mengesahkan kejahatan ini, suatu kejahatan di mana orang yang tidak berdaya dan yang tak terlindung dibunuh dan sebagian lain seolah-olah dibebaskan, terus terang, saya tidak menyetujui apa yang telah terjadi. Bukankah suatu fakta bahwa pemerintah baru di bawah bendera Orde Baru mempergunakan slogan ‘menumpas PKI?’ Apakah Anda begitu ketakutan bahwa kekuasaan Soekarno akan kembali dan bahwa pengikut-pengikutnya akan muncul kembali, karena Anda tahu benar bahwa lebih dari separo orang Indonesia setia padanya? Hal ini tentu belum Anda lupakan, bukan?
Barangkali Anda telah berpendapat bahwa 30 September telah merupakan masa lalu. Menurut saya tidaklah demikian halnya karena sangat banyak pertanyaan yang belum jelas dan disembunyikan. Saya bersyukur bahwa saya mengalami kejadian-kejadian itu dari dekat dan mengambil hikmah darinya, bahwa kejadian-kejadian sebenarnya dalam sejarah selalu diinterpretasikan ulang oleh mereka yang sedang berkuasa, agar dapat memanfaatkannya untuk tujuan-tujuan politik mereka. Saya juga menyadari pengaruh yang amat besar dari media publisitas. Betapa mudahnya bagi pemimpin-pemimpin politik tergiur menerima propaganda yang akan menunjang tujuan-tujuan mereka.
Marilah kita berhenti pada peristiwa 30 September, atau menurut fakta, pada dini hari 1 Oktober 1965. Inti dari insiden ini adalah kesimpulan, diperkuat oleh Dewan Revolusioner yang dipimpin oleh salah seorang anggota pengawal pribadi Soekarno, Letnan Kolonel Untung: “Sekelompok tertentu dari para jenderal berencana untuk menggulingkan pemerintah dan membunuh Presiden. Untuk mencegahnya, enam jenderal dibunuh, satu di antaranya menteri pertahanan, yakni Jenderal Yani.”
Anda telah membuat umat manusia percaya bahwa komplotan yang melakukan peristiwa 30 September adalah anggota PKI. Bukankah pembunuh-pembunuh sebenarnya dari keenam jenderal itu adalah perwira-perwira Angkatan Bersenjata, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan polisi nasional? Saya meragukan apakah pembunuh-pembunuhnya khusus orang-orang komunis. Dan siapa sebenarnya orang yang mengobarkan perasaan dendam rakyat Indonesia dan menyulut api dengan menyatakan: “Itu adalah persekongkolan komunis!”—dan ini malah terjadi sebelum ditemukan suatu bukti mengenai persekongkolan komunis.
Menteri Pertahanan, Jenderal Nasution, yang sebenarnya juga harus dibunuh oleh ‘Dewan Jenderal’, mengucapkan pidato yang mengharukan saat keenam jenderal dimakamkan pada Hari ABRI, 5 Oktober 1965. Dikatakannya:
“Sampai hari ini Hari Angkatan Bersenjata selalu merupakan peristiwa yang penuh rahmat, yang menyinarkan kemenangan. Tetapi hari ini dinodai oleh pengkhianatan dan penyiksaan... Walaupun difitnah oleh para pengkhianat, di dalam hati kami percaya bahwa Anda sekalian termasuk pahlawan dan bahwa akhirnya kebenaran akan menang. Kami difitnah, tetapi kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami.”
Di dalam pidato Nasution, tidak ditemukan petunjuk sekecil apa pun bahwa pembunuhan terhadap keenam jenderal telah dilakukan oleh para komunis. Sebaliknya, segala sesuatu yang diucapkannya menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi karena adanya persengketaan di dalam kekuatan-kekuatan Angkatan Bersenjata sendiri. Dan bolehkah saya bertanya, apa yang dimaksudkan Jenderal Nasution dengan ucapannya ‘fitnah dari para pengkhianat’ dan ‘kami tidak akan melakukannya terhadap musuh-musuh kami?’
Tujuan utama lima puluh orang yang berseragam pasukan pengawal Presiden Soekarno dan pembunuh-pembunuh yang bersenjata berat dari PKI yang bergerak menuju rumah dinas Jenderal Nasution adalah untuk membunuhnya karena dia seorang antikomunis yang terkenal. Atau bukankah begitu? Tetapi sebagai gantinya, mereka melihat ajudan jenderal, yakni Letnan Tendean, sebagai Jenderal Nasution. Saya yakin bahwa tiap anggota pasukan pengawal Presiden Soekarno dengan segera akan mengenali Jenderal Nasution. Teori yang mengatakan bahwa para anggota PKI yang katanya mendapat tugas penting untuk membunuh jenderal tidak mengenali wajahnya, rasanya tidak masuk akal.
Sadarkah Anda bahwa masyarakat di Indonesia mempersoalkan dan curiga bahwa Anda sebagai satu-satunya anggota staf tertinggi dari Angkatan Bersenjata pada malam naas itu tidak diserang, karena para pembunuh dalam perjalanan ke rumah Anda tidak dapat menemukan alamatnya yang tepat?
Dan lebih hebat lagi, dini hari tanggal 1 Oktober 1965 itu Anda mengambil alih komando Angkatan Bersenjata dan dengan kecepatan yang hampir tidak manusiawi Anda bisa membungkam Dewan Revolusi. Setelah Soekarno kehilangan Menteri Pertahanannya, Jenderal Yani, beliau mengangkat Anda, yang pada saat itu masih berpangkat mayor jenderal, sebagai Menteri Pertahanan sekaligus pimpinan tertinggi Angkatan Bersenjata. Itu terjadi tanggal 14 Oktober 1965.
Pada kesempatan itu Soekarno berkata:
“Tidak bisa dihindarkan ketertiban dan keamanan harus dikembalikan untuk menciptakan suasana damai, agar emosi baik dari pihak kiri maupun dari pihak kanan bisa mereda... dan untuk menemukan jalan keluar politik dari peristiwa 30 September ini sangat perlu untuk mengetahui dan mengenali fakta-fakta umum dan fakta-fakta yang menyangkut berbagai hal mengenai peristiwa itu. Fakta-fakta itu tidak akan meresahkan saya, dengan warna politik mana pun mereka menampakkan diri, merah, hijau, atau pun kuning.”
Menurut instruksinya, Presiden Soekarno memerintahkan agar Anda mengumpulkan ‘fakta-fakta’ dan menyerahkannya kepadanya secara pribadi. Jadi, seharusnya Anda segera mulai mengadakan penyelidikan. Akan tetapi, perintah Soekarno itu Anda interpretasikan sendiri dan Anda malah mengatakan: “Sekarang saya telah mendapatkan kepercayaan presiden. Sekarang saya akan melanjutkan mengenyahkan kekuatan-kekuatan yang masih tersisa dari insiden itu.” Ini semua mempunyai arti.
Presiden Soekarno menghendaki dan mengharapkan dari Anda bahwa Anda akan setia dan akan loyal menaati perintahnya. Presiden telah bertekad untuk menemukan hukuman yang adil bagi pelaku-pelaku makar, siapa pun pelakunya, PKI atau militer. Anda tidak menyampaikan fakta-faktanya kepada presiden dan Anda juga tidak mendapatkan persetujuannya untuk menggerakkan Angkatan Bersenjata, dengan jenderal-jenderal seperti Sarwo Edhie.
Dan segera setelah itu mulailah pembunuhan terhadap orang-orang yang tak bersalah, yakni yang disebut para komunis. Sudah menjadi fakta yang diketahui secara umum bahwa Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atas perintah khusus dari Anda mulai dengan menyiksa, membakar, merampok, dan memperkosa di seluruh negeri. Angkatan Bersenjata melakukan teror yang Anda lindungi.
Dengan publikasi besar-besaran mengenai pembunuhan terhadap para jenderal, rakyat yang cinta damai terpicu sampai titik kemarahan yang memuncak. Rakyat mulai membenci PKI karena melakukan kekejian-kekejian tersebut dan sering Cina dianggap sebagai biang keladi peristiwa ini.
Sebagian besar rakyat Indonesia tidak percaya bahwa pernah ada ‘Dewan Jenderal’. Selanjutnya, Soekarno dipaksa menempatkan PKI di luar hukum dan menyatakan bahwa PKI-lah yang bertanggung jawab atas peristiwa 30 September. Selama satu tahun penuh, para mahasiswa dan kelompok-kelompok lain yang tidak puas berdemonstrasi dengan cara melakukan kekerasan-kekerasan terhadap Soekarno, justru karena ia menolak untuk menyatakan PKI sebagai partai yang ilegal tanpa adanya bukti bahwa PKI adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas insiden itu.
Para pemimpin demonstrasi itu yang disebut para ‘mahasiswa’, yang usianya jauh di atas 30 tahun, yang menghadiahkan pada para pengikutnya perlengkapan-perlengkapan parasut yang bagus yang entah dari mana asalnya. ***
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co