Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

GOODBYE EDY!

wahyu-Wahyu KP • 2019-01-21 07:14:47

BADUNG — Gelombang desakan mundur terhadap Edy Rahmayadi dari kursi ketua umum PSSI akhirnya mencapai klimaks. Kemarin pagi (20/1), pria yang juga gubernur Sumatera Utara tersebut menyatakan mundur sebagai pemimpin tertinggi organisasi sepak bola Tanah Air.

 “Detik ini, saya sah mengundurkan diri dari ketua PSSI. Dengan syarat, jangan khianati PSSI,” ungkap mantan Pangkostrad TNI itu ketika berbicara di atas podium Kongres Tahunan PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali.

Ungkapan rencana mundur ini pun disambut tepuk tangan dan teriakan peserta kongres. Sebenarnya, rencana Edy mundur sempat terendus sejak semalam sebelum kongres. Ini diyakini untuk merespons beredarnya surat mosi tidak percaya yang mengamanatkan kepada Komite Eksekutif PSSI untuk memberhentikan Edy. “Dibanding kalian berkelahi, biar saya yang keluar dari rumah ini. Setuju?” lanjutnya.

Mantan Pangkostrad itu juga meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Sebab, dirinya tidak berhasil memberikan prestasi selama dua tahun kepemimpinannya. "Memimpin PSSI itu tugas berat. Saya ingin PSSI jaya, PSSI besar, tapi saya gagal. Karena itu saya mundur," ujarnya.

Edy menjabat sebagai ketua umum PSSI sejak 10 November 2016. Ia melanjutkan kepemimpinan sebelumnya yang dipegang oleh La Nyala Mattalitti. Sepanjang menakhodai PSSI selama 1.054 hari, Timnas Indonesia hanya meraih tiga gelar juara. Namun bukan dari Timnas Indonesia senior, melainkan Timnas Indonesia U-16. Timnas yang dilatih oleh Fakhri Husaini itu menjuarai Piala Tien Phong Plastik 2017, Turnamen Jenesys Jepang 2018, dan Piala AFF U-16 2018.

Sedangkan untuk Timnas Indonesia U-22 yang diasuh oleh Luis Milla, gagal mencapai target medali emas SEA Games 2017. Begitu juga pada ajang Asian Games yang berlangsung di Indonesia, Timnas Indonesia U-22 gagal menembus empat besar.

Kemudian Timnas Indonesia senior juga tidak dapat mencapai semifinal Piala AFF 2018. Timnas yang diarsiteki oleh Bima Sakti kala itu hanya mampu berada di peringkat keempat Grup B.

Dengan kegagalan Timnas Indonesia desakan terhadap mundurnya Edy pun mulai mencuat. Pada era Edy juga terjadi kasus meninggalnya suporter Persija Harringga Sirila yang dikeroyok suporter Persib Bandung di area parkir Gelora Bandung Lautan Api (23/9/2018) menjelang duel Maung Bandung kontra Persija. Publik juga semakin muak setelah kasus drama memalukan di Liga 2 dan munculnya kasus pengaturan skor.

“Banyak masalah selama saya memimpin, mulai suporter jadi korban, hingga pengaturan skor," tuturnya.”Saya mundur karena saya bertanggung jawab kepada saudara yang datang, minta besarkan PSSI.”

BERBANDING TERBALIK

Tentu, ucapan mundur yang dilontarkan Gubernur Sumatera Utara itu berbanding terbalik dengan kata-katanya pada malam sebelum Kongres Tahunan PSSI dimulai. Yakni pada sabtu (19/1) malam. Jawa Pos yang sudah mendengar adanya desakan Edy mundur sempat menanyainya di ketika gala dinner. ’’Masa saya tinggalkan PSSI saat sedang morat-marit? Kan tidak manusiawi. Saya tidak akan mundur,’’ ucapnya saat itu.

Nyatanya, hal tersebut sama sekali tidak terbukti. Dia malah meninggalkan PSSI di tengah sergapan isu pengaturan skor yang menjerat beberapa anggotanya. Pria berusia 57 tahun itu sadar pernah berjanji tidak akan mundur. Karena itu, dia menegaskan kepada Jawa Pos usai kongres bahwa dirinya bukan kalah dan menyerah dalam kasus yang menjerat PSSI. Dia justru mundur karena merasa sudah tidak dihargai lagi oleh anggota PSSI.

Salah satu contohnya adalah dalam gala dinner tersebut. Dia sudah meminta Wakil Ketua Umum Joko Driyono agar para voters dalam acara ramah tamah itu. Dirinya ingin mengobrol banyak sebelum Kongres Tahunan PSSI diselenggarakan. Nyatanya, dari 85 voters, tidak sampai 20 orang yang datang. Bahkan, klub di   kasta teratas hanya tiga saja perwakilannya. Yakni Persebaya Surabaya, Bhayangkara FC, dan Semen Padang. ’’Lalu saya kumpulkan Exco (pagi   kemarin). Makanya hari ini (kemarin) saya putuskan,’’ katanya.

Uniknya, dalam pengunduran dirinya itu, Edy sempat menyindir Umuh Muchtar, Manajer Persib Bandung. Dalam pidatonya, Edy menyebut Umuh sebagai contoh pihak yang berkoar-koar memintanya mundur. ’’Mungkin lebih pantas Umuh pimpin di sini, silakan. Jangan berteriak-teriak di luar, kalau bangsa lain lihat nanti kami dianggap primitif,’’ katanya.

Dengan mundurnya Edy, otomatis posisi Ketua Umum PSSI diisi oleh wakilnya. Tidak lain adalah Joko Driyono. Hal tersebut sesuai dengan statuta PSSI pasal 39 ayat 6. Jokdri –sapaan Joko Driyono- akan mewakili Ketua Umum hingga Kongres berikutnya.

Jokdri tidak sendiri. Posisi Wakil Ketua Umum akan diserahkan kepada Iwan Budianto. Di Kongres pun keduanya sudah mendapat persetujuan. Artinya, pria asal Ngawi itu akan menggantikan posisi Edy hingga masa jabatan berakhir pada 2020. Itupun jika tidak ada Kongres Luar Biasa. Jokdri sendiri mengaku siap. Karena sesuai dengan statuta PSSI dan disetujui oleh anggota PSSI. ’’Saya akan menjalankan Plt ini sesuai statuta,’’ ungkapnya.

Sementara itu, Umuh Muchtar yang sempat disebut Edy Ramayadi sebagai salah satu alasan dirinya mundur mengaku tidak masalah. Manajer Persib Bandung itu sudah sangat sering dianggap sebagai musuh para pemimpin di PSSI. ’’Saya jadi korban terus. Tapi tidak apa-apa demi sepak bola Indonesia,’’ ujarnya.

Umuh juga tidak peduli. Yang jelas dengan mundurnya Edy dirinya sangat lega. Hal itu tidak terlepas dari kepemimpinan era Edy yang sangat tidak becus mengurus PSSI. ’’Habis anak buahnya semua tidak bagus. Tapi saya katakan ini kebaikan, jangan sampai menyudutkan,’’ ucapnya.

Jadi pihak yang awalnya mendukung lantas berubah arah jadi yang melawan, Umuh mengungkapkan alasannya. Itu tidak terlepas dari perlakuan buruk federasi kepada klubnya, Persib di Liga 1 musim lalu. Merasa dikerjai dengan sanksi-sanksi yang kemudian merugikan Maung Bandung, pria berusia 70 tahun itu menganggap perlakuaan PSSI era Edy kepada timnya sangat di luar kewajaran. ’’Lihat saja baru-baru ini di luar negeri ada kasus yang sama dengan Persib. Tapi hukumannya tidak seperti itu, Bobotoh mau demo tapi saya tahan,’’ paparnya.

Ya, Umuh memang punya peran dalam naiknya Edy jadi Ketua Umum PSSI pada 2016 lalu. Saat itu, 76 suara yang didapat oleh Edy, salah satu diantaranya berasal dari Umuh. Sisanya, tidak terlepas dari ajakannya kepada para voters agar memilih Edy.

Berhasil menggulingkan kekuasaan Edy, Umuh menganggap belum berhasil. Sebab, di PSSI masih ada orang-orang jahat yang dianggap bisa tetap merusak sepak bola Indonesia. ’’Banyak yang berkhianat di PSSI, tidak usah disebut, pak Edy pasti tahu siapa yang diperiksa, siapa yang ditangkap, siapa yang belum ditangkap. Mereka-mereka itu pengkhianatnya pak Edy,’’ tegasnya.(rid/jpg/tom2/k18)

Editor : wahyu-Wahyu KP