BALIKPAPAN – Nyaris dua bulan belakangan, atlet squash Balikpapan tak lagi menggelar latihan di Balikpapan Squash Stadium. Ya, berdasar Perda Nomor 5 Tahun 2017 tentang perubahan atas Perda Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Retribusi Jasa Usaha, setiap penggunaan Balikpapan Squash Stadium memang dikenakan tarif Rp 400 ribu/tiga kali pertemuan/minggu/grup/dua jam.
Surat permohonan keringanan biaya yang dilayangkan oleh Pengurus Kota Persatuan Squash Indonesia (Pengkot PSI) Balikpapan, sampai saat ini juga tak kunjung berbalas.
“Kami sudah bersurat kepada Dinas PU untuk memohon keringanan karena memang menurut kami tarifnya terlalu mahal. Tapi, sampai kini belum ada jawaban,” kata Ketua Pengkot PSI Balikpapan Yasmiaty, Sabtu (2/2).
Tak bisa lagi menggunakan Balikpapan Squash Stadium, Yasmiaty menyebut, mayoritas atletnya memilih latihan mandiri. Namun, disebut dia latihan tidak bisa maksimal lantaran hanya latihan fisik. Sementara untuk teknik, hanya dilakukan sesekali dalam seminggu di lapangan squash Hotel Blue Sky.
“Tarifnya juga tidak murah, per jam Rp 100 ribu. Ditambah lapangannya tidak standar untuk atlet,” ujar Yasmiaty.
Yasmiaty menambahkan, sembari menunggu jawaban dari Dinas PU, dalam waktu dekat pengurus PSI Balikpapan bakal menggalang dana untuk bisa membayar sewa sebulan di Balikpapan Squash Stadium.
“Kalau begini terus atlet yang dikorbankan, apalagi April nanti kami ikut kejuaraan junior,” imbuh Yasmiaty.
Ya, Balikpapan selama ini memang selalu mendominasi skuat squash junior Kaltim. Jika program latihan tidak segera dijalankan, Yasmiaty pesimistis, atlet junior Balikpapan bakal kesulitan mendulang prestasi.
“Kalau latihannya mepet, saya pesimistis bisa juara. Makanya, kita upayakan agar bisa kembali latihan,” pungkas Yasmiaty. (*/hul/is)
Editor : octa-Octa