RIO DE JANEIRO–Skenario El Clasico tercepat selama dekade 2000-an benar-benar terjadi. Argentina akan jadi lawan Brasil pada semifinal Copa America 2019, Rabu nanti (3/7). La Albiceleste bentrok dua raksasa sepak bola Amerika Latin yang ke-110 itu dengan sempurna.
Saat perempat final di Estadio do Maracana, Rio de Janeiro, kemarin (29/6), Lionel Messi dkk menyingkirkan Venezuela dengan dua gol tanpa balas. Bukan Messi pembedanya, di laga ini Lautaro Martinez kembali jadi mesin gol Argentina. Striker berjuluk El Toro itu mampu mencetak gol keduanya di Copa America kali ini pada menit kesepuluh.
Selang 64 menit kemudian, ganti gelandang Giovani Lo Celso yang menggandakan kedudukan Argentina. “Kami datang dalam momen yang tepat dan kami akan memberikan perlawanan terbaik,” klaim Messi, seperti yang dikutip AS. Ya, waktu yang tepat bagi skuat asuhan Lionel Scaloni. Sebab, performa Argentina dalam kondisi terbaik dua laga terakhir.
Sebelum membekuk La Vinotinto, julukan Venezuela, Argentina telah membuktikan jika mereka layak diunggulkan dalam Copa America ini setelah menuntaskan matchday pemungkas fase grup dengan mengalahkan Qatar. Skornya pun sama, dua gol tanpa balas. Menciptakan dua gol dan cleansheet dua kali beruntun dalam turnamen mayor adalah capaian terbaik dalam tiga tahun terakhir.
Tepatnya setelah dua laga terakhir fase grup Copa America 2016. Catatan terbaik selama era Scaloni. Bagi Messi, dia akan berhadapan dengan fans Selecao, julukan Brasil, lagi di tanah Brasil sejak kali terakhir dia lakoni saat Kualifikasi Piala Dunia 2018. Saat itu, tiga kali gawang Argentina dijebol Brasil.
Spesialnya, kekalahan pada 10 November 2016 tersebut terjadi di Estadio Mineirao, Belo Horizonte, venue tempat laga semifinal nanti. “Kami sudah tahu Brasil seperti apa. Mereka juga punya beberapa celah. Mereka banyak berlari saat melawan Paraguay (28/6), tapi mereka gagal menjaga keseimbangan permainannya,” ulas pemain yang kali terakhir menjebol gawang Brasil dalam laga uji coba 9 Juni 2012 silam itu.
Satu aspek yang jadi indikator Argentina sudah sangat siap melakoni El Clasico America Latin ini adalah dari solidnya taktik Scaloni. Kemarin Scaloni menerapkan variasi skema ketiga dari empat laga Copa America. Setelah 4-4-2 double six dan 4-3-1-2, maka Scaloni pun memilih 4-4-2 diamond.
Nah, yang sama dari 4-3-1-2 kontra Qatar, trio MAM (Messi, Sergio Aguero, Lautaro) di ujung tombaknya lagi. Messi tetap di belakang Aguero dan Lautaro. Messidependiente, sebutan ketergantungan penampilan Argentina dari performa Messi, kembali bisa dikurangi. Messi lagi-lagi tidak menyumbang gol atau assists. Dia baru mengoleksi satu gol di Copa America saat duel kontra Paraguay (21/6).
Kemarin justru Aguero yang jadi kreator di balik dua gol Argentina. Diwawancarai Ole!, striker yang akan head to head dengan rekan setimnya di Manchester City Gabriel Jesus itu pun membeberkan resep makin klopnya dia dengan Messi dan Lautaro. “Selama dua hari kami kerja dan dengan sedikit bicara. Kami menonton video, kami tahu di mana kami berdiri. Selain itu, di saat itu kami harus perhatikan posisi Leo (Messi) dan Lautaro saat situasi bertahan. Sedikit demi sedikit kami saling melengkapi,” tutur bomber 31 tahun itu.
Dia pun ingin momen malam itu tetap berlanjut. Apalagi, sejak debutnya melawan Brasil pada laga uji coba 2 September 2006, tidak sekalipun pemain yang akrab disapa Kun itu sukses menjebol gawang Brasil. “Kami tahu duel Argentina-Brasil tidak setiap hari dimainkan, dan kami di sini lagi (lawan Brasil). Kami ingin menandainya dengan indah,” harap striker yang mencatat 40 gol dan 16 assists dalam 94 caps-nya itu. (ren/jpg/ndy/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria