Perempat final lagi-lagi menjadi pemutus jalan pelatih Uruguay, Oscar Tabarez, menuju kesuksesan. Jika di Piala Dunia 2018 lalu La Celeste disisihkan Prancis dengan skor 2-0, kemarin (30/6) Peru yang melakukannya.
PERU menahan imbang Uruguay di Itaipava Arena Fonte Nova. Penghilangan extra time di babak perempat final membuat pertandingan ini langsung diakhiri dengan tendangan penalti. Peru menang 5-4 atas Uruguay.
Dari lima penendang tim juara dunia 1930 dan 1950 itu hanya Luis Suarez yang gagal. Empat sisanya yakni masing-masing Edinson Cavani, Cristhian Stuani, Rodrigo Bentacur, dan Lucas Torreira sukses menjadi algojo.
Sebaliknya di kubu Peru, Paulo Guerrero, Raul Ruidiaz, Yoshimar Yotun, Luis Advincula, dan Michael Flores, berhasil menaklukkan kiper Uruguay Fernando Muslera.
“Yang membuat kami semua mengalami kekecewaan besar karena kami datang ke turnamen ini dengan ide jadi juara. Kami mencoba menerima apapun kenyataannya saat ini,” kata Tabarez kepada EFE.
Meski kalah beruntun di dua ajang mayor pada babak yang sama, Federasi Sepak Bola Uruguay (AUF) sama sekali tak ada tanda-tanda memecat Tabarez. Kontrak pelatih 72 tahun itu per 21 September lalu baru saja diperpanjang hingga 2022. Atau sampai Piala Dunia Qatar.
Pria yang sudah melatih dalam 39 tahun terakhir mengatakan, dibanding Copa America 2016 kekalahan tahun kini bukan yang paling menyesakkan. Tiga tahun lalu di Amerika Serikat, Uruguay bahkan gagal lolos fase knockout. Mereka hanya menduduki posisi tiga di grup C di bawah Meksiko dan Venezuela.
“Setiap kekalahan pasti menyakitkan, akan tetapi ada di satu turnamen kami datang sebagai favorit. Dan karakteristik sepak bola Uruguay mengharuskan kami untuk selalu bisa memenangi apapun,” ujar Tabarez.
Pelatih yang membawa Uruguay juara Copa America 2011 itu sebelum pertandingan sudah berkata kalau Peru adalah tim yang ulet. Walau di laga fase grup terakhir lawan Brasil (23/6) Peru dijebol lima gol, hal itu tak menundukkan Peru tim lemah.
Nah, Tabarez menjadi pelatih tersenior juga terloyal di turnamen paling bergengsi di Benua Latin ini. Dua pelatih berusia paling tua dan mendekati Tabarez di kawasan Latin saat ini adalah Carlos Queiroz (pelatih Kolombia/66 tahun) dan Ricardo Gareca (pelatih Peru/61 tahun).
Gareca dalam wawancara dengan ESPN tetap menaruh respek tinggi kepada Tabarez. Terlepas kalah dalam adu tos-tosan, namun Tabarez telah membangun sistem regenerasi yang kuat dalam skuat Uruguay.
“El Maestro (julukan Tabarez) berhasil memodifikasi performa pemain agar sama baiknya di level klub ataupun timnas. Dia juga merawat struktur tim yang ada dan itu menyulitkan lawan,” tutur Gareca.
Sementara itu, penyerang Uruguay Cavani kepada AP berkata tak mungkin menyalahkan teknologi sebagai penyebab kekalahannya. Sama seperti Brasil lawan Venezuela (19/6) di fase grup A, kemarin tiga gol Uruguay dianulir. Yakni gol Nahitan Nandez, Suarez, dan Cavani.
“Ketika semua gol kami dianulir maka ini kami rasakan sebagai ketidakberuntungan dalam sepak bola dan ini sangat menyedihkan buat kami. Setelah melihat keputusan ini saya harap VAR (video assistant referee) berikan keputusan yang benar,” tutur Cavani.
Dalam laga kemarin, Suarez yang menanggung dosa kegagalan Uruguay lolos tertangkap kamera menangis dan kapten Uruguay Diego Godin menjadi sosok yang menenangkan Suarez. Gara-gara gagal jadi algojo, penyerang Barcelona itu pun ngambek pada media.
Seperti ditulis ESPN, saat di mixed zone dan menuju bus tim, Suarez yang dicoba diadang media-media, menolak diwawancara. Suami Sofia Balbi itu ngeloyor pergi.
Bintang Brasil yang absen di Copa America 2019 yakni Neymar dalam Instagram-nya melakukan penghiburan kepada Suarez. Neymar memberikan dukungan moral kepada mantan rekannya di Barca itu. (dra/jpg/ndy/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria