Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Osaka Jatuh di Lubang yang Sama

izak-Indra Zakaria • Rabu, 4 September 2019 - 14:17 WIB

NEW YORK– Drawing Amerika Serikat (AS) Terbuka sejak jauh hari seperti sudah diatur untuk mempertemukan Naomi Osaka dan Serena Williams di final. Mereka ada di pul paling atas dan paling bawah. Peluang terulangnya final tahun lalu sangat besar. Final yang sangat heboh, bukan karena Osaka mengejutkan dunia dengan menjadi juara. Tapi gara-gara Serena bertengkar dengan umpire Carlos Ramos.

Namun, ulangan final itu urung terjadi tahun ini. Sebab, Osaka menyerah di tangan Belinda Bencic di babak keempat kemarin dini hari WIB. Dalam 97 menit, Osaka dihajar dua set langsung 5-7, 4-6 oleh petenis Swiss tersebut. Kekalahan itu juga memastikan petenis 21 tahun itu kehilangan takhta peringkat pertama WTA lagi pekan depan. Dia kembali disalip Ashleigh Barty.

Kekalahan kemarin tidak mengejutkan sebenarnya. Sebab, sejak awal tahun, dia sudah dua kali kalah oleh Bencic. Yakni di babak 16 besar Indian Wells, serta perempat final Madrid Masters. Yang mengejutkan, dia tidak bisa belajar dari kekalahannya. ''Tentu aku merasa sedih saat ini. Tapi aku merasa belajar banyak dari turnamen ini,'' tutur Osaka seusai pertandingan, dikutip New York Times.

Osaka tiba di New York dengan kondisi fisik yang mengkhawatirkan. Sepekan sebelum AS Terbuka, dia mundur di perempat final Cincinnati Open karena lututnya terasa sakit. Ketika grand slam dimulai, dia selalu mengenakan deker selama pertandingan. Kemarin, di set kedua, pemain blasteran Jepang-Haiti itu menerima perawatan medis.

Osaka menyebut, kondisi lututnya sebenarnya membaik. ''Aku nggak ingin menyebut bahwa problem itu yang membuat aku kalah. Karena, jelas saja, aku sudah memainkan tiga pertandingan sebelum ini, dan semua baik-baik saja. Aku cuma perlu painkiller,'' papar dia. ''Lutut memang sedikit mengganggu pergerakanku. Tapi itu harusnya bisa kuatasi,'' lanjut kolektor dua gelar grand slam itu.

Tapi Osaka tak ingin membebani dirinya dengan satu pertandingan. Dia merasa sudah lebih dewasa dari beberapa bulan lalu. Dia mengenang, setelah kalah di babak pertama Wimbledon, dia ogah bertemu wartawan. ''Aku sudah lebih santai sekarang,'' imbuh dia.  

Di sisi lain, Bencic begitu menikmati menghajar Osaka. Dia bermain dengan membaca pergerakan sang lawan. Dia tahu kapan harus menjauh ke baseline, kapan harus mencegat bola di depan net. Energinya seperti tidak habis-habis. Sementara Osaka, yang bertarung dengan kondisi kaki, harus pontang-panting.

''Kurasa ini karena insting saja,'' kata Bencic merendah, seperti dikutip Washington Post. ''Dalam pertandingan, kita harus bereaksi dalam sepersekian detik. Nggak tahu ya bagaimana caranya, tapi aku tahu saja. Dari posisi dia (Osaka) berdiri, angle bolanya, kecepatannya, dan berapa banyak spin-nya, aku tahu harus mengejar ke mana,'' papar dia.

Buat pemain 22 tahun itu, ini adalah kali pertama dia menembus perempat final grand slam setelah lima tahun. Ya, pada 2014, saat masih 17 tahun, Bencic bersinar dengan menembus delapan besar turnamen di kompleks Flushing Meadows ini. Berkat kejutan itu, dia langsung masuk peringkat 10 besar. Sayang, setelah itu dia tenggelam dalam cedera.

Bencic menjalani operasi pergelangan tangan pada 2017. Dia harus absen dari turnamen selama lima bulan. Peringkatnya tenggelam di kisaran 300, dan harus merangkak lagi dari turnamen-turnamen kelas satelit di Eropa.

''Semua orang berharap aku langsung balik ke atas lagi. Tapi tenis nggak begitu cara mainnya. Atlet sejati harus melewati banyak tantangan, termasuk cedera. Semua pengalaman itu membuatku lebih baik,'' paparnya. Dan inilah hasilnya. Dini hari nanti, dia melawan Donna Vekic di perempat final. Peluangnya menembus empat besar—capaian tertingginya di grand slam—sangat terbuka. (irr/na) 

Editor : izak-Indra Zakaria
#tenis