Bejo Sugiantoro
Asisten pelatih Persebaya, alumnus timnas Primavera yang pernah berguru ke Italia
BICARA soal Italia tentu tidak akan pernah lepas dengan pertahanan yang solid. Buktinya, dalam sembilan pertandingan terakhir, termasuk dalam laga perdana di Euro 2020 melawan Turki, gawang skuad berjuluk Azzurri itu belum pernah kebobolan.
Semua tahu Italia dulu dikenal dengan sistem gerendel atau catenaccio. Pertahanan yang solid memang sudah menjadi akar sepak bola di sana. Saya ingat betul ketika dikirim ke Italia bersama timnas Primavera pada tahun ’90-an, kami semua diajari cara bertahan. Pendek merapat. Sepak bola yang mengedepankan bertahan dulu, baru menyerang.
Setelah mengerti cara bertahan pendek merapat, kami baru diajari cara menyerang. Yaitu, melalui serangan balik cepat. Itu yang kemudian membuat banyak tim Italia saat itu sangat luar biasa ketika melakukan serangan balik.
Tapi, berkaca pada era sekarang, sepak bola Italia juga berkembang. Walau pertahanan tetap pendek merapat, bicara soal menyerang, banyak tim dari Negeri Pizza itu yang sudah memakai kombinasi penyerangan yang bagus.
Itu yang saya lihat ketika Italia menang melawan Turki. Zona marking seperti yang saya pelajari dulu di Italia masih ada. Walau Roberto Mancini bisa dikatakan pelatih modern, ciri khas tidak dihilangkan.
Ketika diserang, zona marking langsung diterapkan. Ketika masuk ke sisi pertahanan, lini belakang Italia langsung melakukan pressing. Tanpa kompromi dan disiplin.
Coba dibandingkan dengan timnas Inggris, misalnya. Ketika diserang, mereka langsung melakukan pressing. Beda dengan Italia yang menerapkan zona marking lebih dulu.
Itu yang kemudian menjadi kunci tim-tim Italia sangat sulit dibobol. Mengedepankan pertahanan adalah kunci sepak bola mereka. Dulu dan sekarang. Meski tetap ada modifikasi, pertahanan Italia tetaplah yang terbaik.
Melawan Swiss, saya yakin gawang Italia masih akan perawan. Saya prediksi Italia bisa menang dua gol tanpa balas.
Kemenangan atas Turki juga bakal menjadi modal penting. Saya yakin kepercayaan diri itu menjadi senjata tambahan yang berharga melawan Swiss. (*/c19/ttg)
Seperti disampaikan kepada wartawan Jawa Pos Farid S. Maulana
Editor : izak-Indra Zakaria