SAMARINDA–Skuad menembak Kaltim dominan diisi atlet yang masih berstatus pelajar. Konsekuensinya, program latihan terkadang bentrok dengan jadwal sekolah.
Hal ini diungkapkan pelatih menembak Kaltim, Ervinna Jannse Kolibu. Dia menyebut banyak yang harus dikorbankan atletnya. Apalagi program latihan panjang ini sudah dilakukan sejak masa persiapan BK-PON. Kemudian ditambah lagi pemusatan latihan daerah (pelatda) yang berlangsung selama enam bulan.
"Kita berharap pihak sekolah bisa mengerti dan memahami, bahwa ini semua demi membawa harum nama Kaltim," ucap Ervinna. Keinginan ini berkaca pada salah satu atlet andalannya, Paskalis Steven yang tercatat sebagai pelajar di SMA 5 Balikpapan. Secara khusus, Ervinna mewakili Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Kaltim, memberi apresiasi atas kebijakan dan pengertian dari kepala sekolah yang bersangkutan. Meski, diakuinya masih ada beberapa guru mata pelajaran yang berkeberatan dengan aktivitas sang murid di luar sekolah. "Ya, mudah-mudahan di masa persiapan menuju PON ini bisa lebih diringankanlah," harapnya.
Di luar persoalan akademik atlet, Ervinna mengatakan masih ada sejumlah kendala dalam persiapan tim menembak saat ini. Terutama menyangkut amunisi peluru yang harus disiapkan untuk menopang latihan.
"Sepertinya kami butuh bapak angkat untuk mengatasi masalah ini. Jujur saja, kalau untuk peluru angin mungkin tidak ada masalah, yang susah itu untuk pengadaan peluru api," pungkasnya. (rz/upi/kpg/er/k8)
Editor : Indra Zakaria