Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dicoret dari Pelatda, Pelatih Effendi Bantah Indisipliner

Alfian Erik • 2024-04-19 07:18:26
Effendi
Effendi

SAMARINDA—Pelatih Effendi dan atlet Rama Vardana Prihandono dari cabang olahraga (cabor) akuatik kategori renang bebas terbuka, dicoret dari Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) KONI Kaltim. Tindakan indisipliner menjadi dasar pencoretan tersebut. Hanya, sehari setelah kabar pencoretan itu tersiar, Effendi selaku pelatih meluruskan informasi tersebut.

Dirinya menegaskan, tindakan indisipliner itu hanya dilakukan oleh sang atlet. Sedangkan dirinya sudah menjalankan tugas seperti yang diamanatkan oleh Pelatda KONI Kaltim. “Padahal saya mendukung upaya panitia pelatda dalam menegakkan aturan kepada atlet. Tetapi kemudian muncul narasi bahwa saya juga dicoret karena indisipliner. Itu tidak benar,” tegas Effendi saat menghubungi Kaltim Post, Kamis (18/4).

Menurutnya, informasi ini perlu diluruskan, lantaran berkaitan dengan kredibilitas dirinya sebagai pelatih. Effendi mengaku memiliki bukti tentang tindakan indisipliner sang atlet. Dan, itupun sudah dia laporkan secara terperinci kepada tim pelatda. “Sering keluar tanpa permisi, tanpa informasi. Itu kan tidak pantas dilakukan oleh seorang atlet yang ambil bagian dalam pelatda,” tukasnya.

Bila tim pelatda bersikeras menyebut dirinya melakukan indisipliner, dirinya meminta kepada tim pelatda untuk memberi bukti tentang jenis pelanggarannya. “Permintaan ini juga sudah saya tembuskan ke Ketua KONI Kaltim sebagai tembusan. Agar jadi koreksi sehingga ke depannya pernyataan yang dikeluarkan tim pelatda sesuai fakta,” terang pelatih asal Balikpapan tersebut.

Dia menceritakan titik mula “keributan” tersebut adalah ketika sang atlet tidak menuruti permintaannya menjalankan program kepelatihan. Ketika diminta mengulang catatan waktu tertentu, sang atlet menolak. “Dia sangat reaktif. Mengamuk, menendang start block, melempar peralatan latihan dan benda lain di sekitarnya. Dan, itu terjadi berulang kali,” jelasnya.

Situasi semakin tak kondusif karena sang atlet sering meninggalkan kampus pelatda tanpa izin dan tidak disertai keterangan yang jelas. “Masih saya simpan itu sebagai bukti. Kalau memang perlu dikonfrontasikan, saya siap,” urai dia.

Effendi sejatinya menerima keputusan pencoretan tersebut. Sudah pula dia sampaikan kepada tim pelatda. Bahkan bila dibutuhkan, dirinya siap bermitra berkaitan dengan peningkatan prestasi atlet lainnya untuk Kaltim. “Yang saya sayangkan hanya soal penyebutan indisipliner kepada dua orang yang dicoret. Padahal yang indisipliner hanya salah satunya, yakni sang atlet. Sementara saya selaku pelatih sudah menjalankan tugas dengan maksimal,” tuntas dia.

Keputusan tegas ini, kata dikatakan Komandan Pelatda Ego Arifin terpaksa diambil lantaran tindakan indisipliner.

Sejatinya, kata Ego Arifin, KONI Kaltim dan Tim Puslatda sudah berupaya menyelesaikan persoalan ini. Sayang, baik pelatih maupun atlet yang bersangkutan tidak menunjukkan itikad baik. "Atlet ini juga kerap meninggalkan lokasi latihan," kata dia.

Pencoretan ini, kata dia juga bukan keputusan sepihak. Prosesnya panjang dan melibatkan banyak tim, sebelum akhirnya diputuskan dikeluarkan.

"Ada tahapan-tahapan yang dijalankan sebelum akhirnya diputuskan dikeluarkan. Jadi bukan keputusan sekonyong-konyong," tegas dia.

Berkaca dari kasus ini, dirinya juga meminta para pelatih dan atlet untuk menjalankan kesepakatan dan program yang sudah disusun.

"Evaluasi akan terus berjalan. Jika ada atlet dan pelatih yang tak disiplin bisa jadi akan dicoret," tegas dia.

Editor : Wawan
#KONI kaltim