TOKYO – Dunia bela diri baru saja memberikan penghormatan terakhir bagi salah satu ikon terbesarnya, Takeru Segawa. Setelah menjalani laga perpisahan yang emosional, ucapan terima kasih mengalir deras dari para penggemar untuk dedikasi luar biasa petarung asal Jepang tersebut sepanjang kariernya. Meski Takeru resmi gantung sarung tinju, sorotan publik kini beralih pada angka-angka fantastis di balik layar kompetisi bela diri dunia. Menariknya, jika nilai kontrak atau fight money Takeru cenderung tertutup rapat dari publik, detail pendapatan sang rival, Rodtang Jitmuangnon, justru menjadi buah bibir karena skalanya yang masif.
Berdasarkan data yang dihimpun, Rodtang diperkirakan mengantongi bayaran antara 86 juta hingga 100 juta Yen atau setara dengan kisaran Rp9 miliar hingga Rp10,5 miliar untuk penampilannya kali ini. Angka tersebut menunjukkan tren kenaikan yang signifikan dibandingkan saat ia berhadapan dengan Takeru sebelumnya, di mana ia menerima sekitar 73,3 juta Yen. Besarnya pendapatan Rodtang dalam satu malam ini memicu perbandingan mencengangkan dengan kondisi ekonomi di negara asalnya, Thailand, di mana pendapatan rata-rata tahunan penduduknya hanya berkisar antara 1,3 juta hingga 1,4 juta Yen.
Jika dikalkulasikan, pendapatan Rodtang dalam sekali naik ring setara dengan akumulasi kerja keras rata-rata warga Thailand selama hampir 70 tahun. Perbandingan ini sangat kontras mengingat bayaran terbarunya yang mencapai 86 hingga 100 juta Yen berbanding jauh dengan rata-rata gaji tahunan masyarakat umum yang hanya belasan juta Rupiah jika dikonversikan. Angka ini menegaskan posisi Rodtang bukan hanya sebagai "The Iron Man" di dalam ring, tetapi juga sebagai salah satu komoditas olahraga paling berharga di Asia saat ini. Sementara bagi Takeru, meski nilai pastinya dirahasiakan, warisan prestasinya dianggap jauh melampaui sekadar materi, menutup babak karier legendarisnya dengan martabat tinggi. (*)
Editor : Indra Zakaria