PROKAL.CO- Menjadi bintang besar di panggung Ultimate Fighting Championship (UFC) tidak hanya mendatangkan kekayaan dan kemasyhuran, tetapi juga ujian mental yang luar biasa di luar oktagon. CEO UFC, Dana White, baru-baru ini membeberkan sebuah realitas pahit yang sering menimpa kehidupan rumah tangga para petarungnya. Ia menyoroti fenomena banyaknya petarung yang berakhir dengan perceraian justru setelah mereka berhasil mencapai puncak popularitas.
Menurut bos besar UFC tersebut, akar masalah dari keretakan rumah tangga ini sering kali dipicu oleh ketidakmampuan para petarung dalam mengelola transisi emosional dan ego mereka. Di satu sisi, mereka diperlakukan bak dewa di depan publik, namun di sisi lain, mereka harus tetap menjadi manusia biasa saat kembali ke rumah. Perbedaan kontras antara gemerlap dunia hiburan dan realitas kehidupan sehari-hari inilah yang kerap menjadi bom waktu.
"Anda melihat banyak petarung yang bercerai setelah menjadi terkenal. Bayangkan, saat Anda berjalan masuk ke arena, ada 22 ribu orang yang mendadak gila, berebut berfoto dengan Anda, hingga meminta tanda tangan… Lalu setelah itu Anda pulang ke rumah dan kembali ke kehidupan nyata. Di sana ada dua atau tiga anak, dan istri Anda langsung berkata, 'Buang sampahnya ke luar'. Di sinilah ego mulai ikut campur."
Dana White menilai bahwa benturan ego tersebut sering kali menciptakan jarak psikologis antara sang petarung dan pasangannya. Ketika seorang atlet terbiasa dipuja oleh puluhan ribu penggemar dan dikelilingi oleh orang-orang yang selalu memuji mereka, teguran atau permintaan sederhana dari pasangan di rumah bisa dianggap sebagai sebuah gangguan terhadap status baru mereka.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa musuh terbesar seorang petarung tidak selalu berada di dalam kurungan oktagon dengan sarung tinju, melainkan ego di dalam diri mereka sendiri. Kesuksesan finansial dan popularitas instan yang tidak dibarengi dengan kedewasaan mental serta komitmen kuat pada keluarga, sering kali harus dibayar mahal dengan hancurnya hubungan rumah tangga yang telah dibangun sejak mereka belum menjadi apa-apa. (*)
Editor : Indra Zakaria