PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Sebuah video wisatawan menunggangi penyu saat malam hari di Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) viral di media sosial (medsos).
Aksi itu menuai sorotan, termasuk dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau yang menegaskan perlunya kesadaran wisatawan dalam menjaga kelestarian satwa laut yang menjadi ikon wisata daerah.
Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir, menilai tindakan wisatawan tersebut sangat merugikan penyu. Menurutnya, penyu di Derawan dikenal ramah terhadap manusia, sehingga harus diperlakukan dengan baik, bukan justru dijadikan hiburan dengan cara yang membebani hewan itu.
“Itu kasihan penyunya, jadi beban. Penyu di Derawan itu Alhamdulillah bersahabat, sangat bersahabat, dan tidak liar. Karena itu kita harus memperlakukannya dengan baik,” ujarnya kepada Berau Post, Selasa (19/8/2025).
Ilyas menekankan, menaiki penyu apalagi di daratan jelas tidak boleh dilakukan. Pihaknya selama ini juga gencar memberikan edukasi, tidak hanya kepada wisatawan, tetapi juga kepada pengelola destinasi wisata agar mereka bisa menyampaikan informasi yang benar.
“Agar tidak membebani binatang seperti itu. Jangan dinaiki, jangan dipukul. Sebaiknya diperlakukan dengan baik,” tegasnya.
Terlebih, penyu di Pulau Derawan memiliki sifat unik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Satwa ini cenderung bersahabat dengan manusia dan setia terhadap lokasi tempat bertelur.
“Mereka itu hewan yang sangat setia. Kalau bertelur di Derawan, pasti kembali ke Derawan. Kalau bertelur di Pulau Sangalaki, pasti kembali ke Pulau Sangalaki. Jadi mereka ingat di mana tempatnya,” terangnya.
Atas alasan itu, ia berharap semua pihak turut menjaga agar penyu tetap merasa nyaman dan tidak terganggu. Interaksi yang dilakukan wisatawan semestinya tidak mengganggu kebiasaan alami satwa laut tersebut.
“Kalau diperlakukan dengan baik, mereka akan tetap bersahabat dengan manusia,” katanya.
Pun pengelola destinasi wisata di Pulau Derawan juga memiliki peran penting. Mereka diimbau untuk memberikan pemahaman dan standar operasional prosedur (SOP) kepada wisatawan mengenai cara berinteraksi dengan satwa laut, khususnya penyu.
“Imbauan bagi pengelola berarti untuk mengedukasi wisatawan. Jangan sampai berlaku sesuatu yang merugikan atau membuat satwa merasa terancam,” ucapnya.
Kata dia, kejadian wisatawan menunggangi penyu ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Baik wisatawan maupun masyarakat lokal diminta mengambil pelajaran agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita berharap ke depan tidak ada lagi hal seperti ini. Wisatawan bisa lebih menghargai dan menyayangi binatang,” harapnya.
Dirinya menilai perlu peningkatan kesadaran kolektif dalam menjaga keberlanjutan pariwisata. Penyu tidak hanya menjadi daya tarik utama wisata bahari Berau, tetapi juga bagian dari ekosistem laut yang harus dijaga bersama.
Sementara itu, Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika mengungkapkan, pihaknya langsung turun ke lapangan setelah kejadian tersebut viral. Wisatawan yang terlibat, kata dia, sudah dipanggil dan diberikan peringatan keras.
“Tim langsung ke lapangan, kami panggil orang yang bersangkutan. Mereka juga menyampaikan permohonan maaf dan tidak akan mengulangi lagi," bebernya.
Adapun tim terkait terdiri dari beberapa lintas sektor, dari Pemkam Pulau Derawan, Babinkamtibnas, Babinsa, dan Pos AL.
Dari keterangan yang diberikan, tindakan itu dilakukan karena iseng dan tidak mengetahui aturan, meski larangan sudah jelas dipasang di beberapa titik
"Kejadiannya malam, ketika mereka sedang jalan di pinggir pantai, mereka lihat ada penyu dan iseng menaiki. Padahal satwa yang dilindungi seharusnya dijaga,” tegasnya.
Atas kejadian itu, pihaknya memberikan sanksi berupa permintaan maaf terbuka melalui media sosial. Wisatawan juga diwanti-wanti agar tidak mengulanginya. Jika mengulangi, akan diproses secara hukum. Tapi mereka tidak dilarang berkunjung lagi ke Pulau Derawan.
“Mereka kami minta permintaan maaf secara terbuka di sosmed dan divideo. Kami beri imbauan dulu, agar tidak boleh mengulangi lagi,” jelasnya.
Untuk menghindari kejadian serupa, Pemkam Pulau Derawan sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak. Mulai dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), hingga beberapa asosiasi penginapan.
“Semua penginapan sudah diberikan imbauan agar menyampaikan larangan kepada pengunjung, salah satunya terkait satwa. BKSDA juga akan melakukan sosialisasi kepada pengelola penginapan maupun warga di Pulau Derawan,” jelasnya. (aja/far)
Editor : Faroq Zamzami