Dua tahun lalu, Kuta hingga Legian sempat menjadi kota mati. Toko-toko hingga vila banyak kosong sampai terpaksa dijual. Harganya sempat menurun drastis. Akan tetapi, kini Bali telah bangkit dan perekonomiannya bergerak cepat, jalanan pun mulai macet. Kendaraan lalu lalang menuju tempat wisata maupun ke pusat belanja oleh-oleh.
ULIL MUAWANAH, Bali
Yin.khazan@gmail.com
AKHIR pekan kemarin, awak media sempat bertandang ke Pulau Dewata, bersamaan pembukaan penerbangan perdana Lion Air secara langsung dari Balikpapan. Sekaligus membuat janji bertemu dengan Jasmin. Perempuan kelahiran Balikpapan tersebut memutuskan merantau ke Bali pada 2012, hingga akhirnya menikah dengan pria asal Prancis lalu menetap di Bali.
Pertemuan awak media dan Jasmin di sore hari itu berlangsung di tempat makan di Mall Bali Galeria. Awalnya, lulusan SMK Airlangga Balikpapan itu bekerja di salah satu stasiun TV swasta di Kota Minyak. Setelah tiga tahun bekerja dia merasa jenuh, setelah itu memutuskan hijrah ke Bali sekaligus bekerja menjadi tour guide.
Perbedaan kondisi jumlah wisatawan 10 tahun lalu dengan sekarang sangat dirasakan. Namun, kondisi ini diyakini tak berlangsung lama. Apalagi pemerintah sangat mendorong percepatan pemulihan pariwisata di Bali. Sebab bagaimanapun, daerah tersebut adalah jantung pariwisata Indonesia sekaligus penyumbang pendapatan negara terbesar.
Di awal wabah Covid-19, pengusaha di Bali sempat mengalami shocked berat. Pasalnya, harga properti begitu jatuh. Banyak alasan yang membuat pengusaha saat itu memilih menjual aset mereka, salah satunya beban biaya operasional yang membengkak tanpa ada pemasukan. Di sisi lain, kondisi tersebut dimanfaatkan bagi pengusaha lain yang memiliki uang lebih untuk membelinya. Mumpung harga sesuai bujet.
“Kita sempat mau jual vila, tapi karena harganya jatuh banget ya pilih buat disewakan aja,” tutur Jasmin. Suami Jasmin kebetulan memiliki 6 properti di Bali, 4 di antaranya vila serta penginapan harian.
Dia menyebut, sebelum pagebluk harga kontrak vila untuk setahun bernilai Rp 400 juta, sekarang dipangkas menjadi Rp 250 juta. Begitupun dengan penginapan harian yang semula Rp 1,5 juta, telah mengalami penurunan ke 1,3 juta per hari. Meski demikian, Jasmin berujar, nama Bali yang telah mendunia diyakini segera membuat daerah tersebut lekas pulih.
Wisatawan yang datang memang belum normal, masih 50 persen. Penyusutan ini tidak akan membawa Bali benar-benar mati. Dia mengatakan seluruh penginapan, termasuk vila yang dimiliki tak pernah sepi peminat. Ditambah semakin ramai rute penerbangan tujuan Bali yang dibuka oleh maskapai sebagai moda transportasi udara. Yang membuatnya optimistis tahun depan harga sudah bisa kembali normal.
“Selama pandemi, Kuta, Legian, Seminyak memang seperti kota mati, tapi daerah Canggu tetap normal. Itu membuktikan bahwa Bali tetap berpotensi, pariwisatanya yang begitu menjual tentu membuat Bali mampu melewati badai Covid-19 ini,” ucap ibu satu anak itu.
Mendengar Kaltim akan menjadi pusat ibu kota negara (IKN), Jasmin berkata, meski pariwisata di Bumi Etam belum setenar Bali, dia meyakini bila didukung infrastruktur serta fasilitas memadai suatu saat nanti pariwisata Kaltim pasti bisa lebih berkembang. Terlebih kebudayaan asli Kalimantan adalah aset utama.
Dia pun berharap, sebelum benar-benar menjadi ibu kota, pembangunan haruslah benar-benar memerhatikan kondisi lingkungan dan alam.
Ditemui terpisah, Gusti Kade Sutawa, yang merupakan ketua Aliansi Masyarakat Pariwisata Bali menuturkan, penerbangan yang semakin diperbanyak jelas membawa dampak positif bagi kedua daerah. Tidak hanya masyarakat Kaltim yang suka pelesiran ke Bali, orang Bali pun kata Kade Sutawa banyak juga berdatangan ke Kaltim untuk wisata religi maupun urusan bisnis.
“Itu banyak orang Bali juga punya investasi di Kaltim, di Bali juga ada pengusaha kayu gaharu khas Kaltim maupun komoditas lainnya. Dan menurut saya Kaltim juga mempunyai kebudayaan yang kuat, seperti halnya Bali,” ungkap Kade.
Seringnya, pelaku usaha di Kaltim maupun Bali saling bertukar informasi. Maupun bekerja sama dalam melayani paket perjalanan wisata. Para operator tur di Bali telah menggandeng asosiasi di Kaltim, termasuk Balikpapan agar saling memudahkan untuk berkolaborasi. Serta saling menjual dan menawarkan paket-paket wisata.
Apalagi keberadaan IKN di Kaltim memberi pengaruh, yang membuat wisatawan di Bali penasaran pula untuk bertandang ke Bumi Etam. “Kaltim punya kebudayaan yang tinggi, tinggal bagaimana mengemasnya, dieksplor lebih jauh dan mau membuka diri atas masukan. Teman-teman praktisi profesional di Bali juga akan senang hati bila diundang ke Balikpapan atau Kaltim dan membicarakan maupun mengonsep pariwisata ini ke depan,” ujarnya.
Semenjak Kaltim disebut-sebut sebagai IKN Nusantara, Kade juga menimpali, pengusaha di Bali berlomba-lomba mencari lahan di Kaltim. Hanya saja karena Covid-19 dan belum dilakukan groundbreaking membuat pengusaha masih menahan diri.
“Konektivitas antara Bali dan Kaltim harus dibangun secara maksimal dan saling support. Teman-teman juga sangat menanti gebrakan atau langkah dari pemerintah Kaltim. Semoga saja pembangunan IKN dapat berjalan lancar, dan semoga pariwisata di Kaltim pun semakin berkembang,” pungkasnya. (*/ndu/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria