JAKARTA – Debut John Herdman di kursi kepelatihan Timnas Indonesia berakhir sempurna. Kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts and Nevis dalam ajang FIFA Series 2026, Jumat (27/3) malam, bukan sekadar soal angka di papan skor bagi pelatih asal Inggris tersebut. Baginya, malam itu adalah perkenalan intim dengan gairah sepak bola Indonesia yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita.
Sebanyak 26.703 pasang mata memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) untuk menyaksikan aksi Jay Idzes dan kawan-kawan. Angka tersebut mungkin belum memenuhi kapasitas maksimal stadion, namun bagi Herdman, energi yang dihasilkan terasa memenuhi setiap sudut tribun.
Mantan pelatih Timnas Kanada ini mengaku terkesima sejak lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang. Pengalaman melatih selama 20 tahun di berbagai belahan dunia ternyata belum cukup untuk menyamai apa yang ia rasakan di Jakarta malam itu.
“Seperti yang saya katakan sebelumnya, atmosfer di sini unik, sangat unik. Lagu kebangsaannya begitu bertenaga, Anda bisa merasakan koneksinya di sana,” ujar Herdman dengan nada kagum, Sabtu (28/3).
Puncak emosi Herdman pecah saat peluit panjang dibunyikan. Sesuai tradisi, para pemain dan staf pelatih berdiri melingkar di tengah lapangan, sementara ribuan suporter menyanyikan lagu Tanah Airku dengan khidmat. Momen sakral ini diakuinya sebagai pengalaman baru yang sangat istimewa.
“Apa yang terjadi di akhir pertandingan, saya tidak pernah melihat itu dalam karier sepak bola saya. Bisa terhubung dengan penggemar dengan cara seperti itu, itu sangat istimewa,” tambahnya.
Bagi Herdman, dukungan suporter bukan sekadar sorakan di tribun, melainkan tanggung jawab besar yang harus ia bayar dengan prestasi. Ia sadar bahwa melatih Indonesia berarti menyatukan jutaan hati dari Sabang sampai Merauke.
“Tujuan kami adalah untuk menghubungkan negara ini dari setiap pulau, melintasi ribuan mil yang kami butuhkan, dan kami akan memberikan segalanya untuk Anda,” tegas pelatih yang pernah membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 tersebut.
Meski mengawali langkah dengan kemenangan manis, Herdman tetap bersikap realistis. Ia memahami bahwa perjalanan sepak bola tidak selalu mulus. Ia pun menitipkan pesan emosional kepada para pendukung agar tetap setia mendampingi Skuad Garuda, bahkan saat hasil pertandingan tidak sesuai harapan.
“Kami akan memberikan segalanya kepada para penggemar ini. Dan kami hanya berharap para penggemar, di saat-saat tersulit kami, mereka juga memberikan segalanya untuk kami,” pungkas Herdman. Kini, ujian sesungguhnya bagi Herdman dan koleksi taktiknya akan tersaji pada 30 Maret mendatang saat Indonesia menantang Bulgaria di babak final. Apakah magis SUGBK akan kembali membantu Herdman mengukir sejarah baru? (*)
Editor : Indra Zakaria