Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jemongko, Durian Unggul Kalbar, Hasil Jelajah Sebelas Tahun

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 7 Agustus 2021 - 19:14 WIB
Photo
Photo

Dikenalnya Durian Jemongko sebagai durian unggul asli Kalimantan Barat (Kalbar), tak lepas dari peran Edy Hartono. Belasan tahun ia mengeksplorasi durian di sana. Berawal dari penikmat durian, hingga kini membuka usaha pengolahan. Edy ingin Durian Jemongko mendunia. 

IDIL AQSA AKBARY, Sanggau

Musim durian di Kalbar biasanya terjadi dua kali dalam setahun. Saat itu pula Edy Hartono beserta istrinya Yenna Wiguna harus meninggalkan rumahnya di Kota Pontianak. Tujuannya ke Dusun Jemongko, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau.

Biasanya di bulan Agustus dan Desember. Jemongko sudah jadi rumah kedua bagi pasangan pemilik usaha rumah makan ternama di Pontianak itu. Sejak beberapa tahun terkahir Edy mulai menjalankan usaha pengolahan durian di sana. Durian dikemas secara modern lalu dikirim ke pelanggan di luar daerah seperti Jakarta dan Surabaya.

Selama tinggal di sana, ia menyewa kamar di rumah kepala desa. Sementara tempat pengolahannya dibuat sederhana di samping rumah salah satu warga. Saat Pontianak Post berkunjung ke sana, Edy, Yenna serta beberapa karyawannya tengah asik mengemas durian yang akan dijual.

Mulai dari pemilihan buah yang layak, pengupasan, dimasukkannya buah durian ke beberapa kemasan hingga buah dimasukkan ke lemari es khusus untuk dibekukan (frozen). Ada yang menggunakan plastik khusus untuk kemasan daging durian tanpa biji. Ada pula yang menggunakan wadah plastik untuk durian kupas bijian. Masing-masing dikemas per 500 gram.

Semua proses pengemasan langsung dilakukan di tempat yang tak jauh dari hutan tempat durian itu dihasilkan. Itulah mengapa durian yang diberi merek Buah Khatulistiwa itu menggunakan jargon Jungle Durian 100 persen organic.

Durian yang dijualnya dalam kemasan juga bukan durian sembarangan. Tidak semua durian asal Jemongko masuk kriteria. Edy yang menyeleksi langsung secara ketat buah-buah unggulan itu. Ada tiga pilihan durian merek Buah Khatulistiwa, mulai dari premium, super, sleeping cat atau yang biasa disebut dengan kucing tidur.

“Untuk memperkenalkan durian premium saya lebih selektif, sehingga kalau (beli) durian premium (dari warga) kami hargai layak, lebih tinggi dari harga eceran di pasaran. Tujuan kami agar masyarakat memiliki insiatif menanam durian yang bagus,” ungkap Edy.

Apa yang Edy lakukan sekarang ternyata buah perjalanan yang cukup panjang. Sebelas tahun lalu tepatnya pertengahan hingga akhir 2010, ia memulai eksplorasi durian di sana. Edy yang juga Owner Pondok Ale-ale itu melihat potensi durian yang tumbuh di hutan sepanjang bantaran Sungai Sekayam cenderung bagus. Yang pasti, daging buahnya tebal-tebal.

“Awalnya saya diajak teman datang untuk menikmati durian di sekitar Sungai Sekayam. Begitu dimakan duriannya tebal, warnanya cerah kuning, cita rasanya mantap legit dan kering. Banyak juga variasi rasa selain manis, seperti pahit, rasa susu dan sebagainya,” katanya.

Pria 41tahun itu sudah cukup berpengalaman soal menilai rasa durian. Bermula dari kegemarannya makan buah durian. Bahkan sejak dulu ia sering melakukan perjalanan ke berbagai daerah dan negara lain, hanya untuk mencicipi buah durian.

Di Malaysia misalnya ia pernah datang ke berbagai daerah di Pahang, seperti Raub dan Karak, Bentong yang terkenal sebagai penghasil durian unggul. Kemudian juga di daerah Penang. “Karena di sana kan (Malaysia) ada beberapa durian yang bagus varietasnya,” katanya.

Akan tetapi jika dibandingkan dengan durian di Kalbar khususnya di Jemongko, potensinya menurut Edy tidak kalah. Baik dari segi rasa, kualitas dan ketebalan isinya, ia yakin lebih baik dari durian-durian unggul yang ada di Malaysia atau luar negeri lainnya.

“Kalau Thailand kan memang punya karakter durian daging tebal, tapi untuk cita rasa mereka tetap kurang. Kalau durian kita khususnya Kalbar di sekitaran Kabupaten Sanggau punya rasa yang beragam,” sebutnya.

Ia bahkan menemukan fakta bahwa masing-masing pohon durian di sana, bisa memiliki rasa buah yang berbeda-beda. Seperti ada pohon yang buahnya cenderung manis atau pahit dan ada pula yang beraroma mirip buah lain seperti nangka, cempedak dan petai. Rasa durian yang variatif itu menurutnya menjadi keunikan tersendiri.

“Untuk ketebalan (buah) tidak perlu diragukan, rata-rata buah durian di sekitar Sungai Sekayam ini mempunyai ketebalan minimal satu sentimeter atau lebih,” ujarnya.

Bertahun-tahun melakukan eksplorasi durian di sana, Edy akhirnya berpikir potensi yang ada harus dikembangkan. Ia tidak ingin penduduk setempat hanya menganggap durian seperti buah musiman biasa atau tidak memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Sepertinya durian (Jemongko) ini sangat bisa dikembangkan. Kita lihat saja contohnya durian Malaysia yang dijual dengan harga yang cukup tinggi, padahal di sini (Kalbar) memiliki durian kualitas premium,” imbuhnya.

Akhirnya ia pun merintis usaha durian kemasan di sana. Beserta istrinya Edy melibatkan penduduk setempat dan menyewa rumah warga untuk dijadikan tempat pengolahan sederhana. Sementara ini ia hanya ingin agar Durian Jemongko dikenal hingga luar daerah. Terutama kota-kota besar seperti Jakarta. Tapi bukan tidak mungkin ke depan, durian ini bisa mendunia.

“Maunya nanti ke seluruh Indonesia dan niat panjangnya, jauhnya, orientasi kami bisa kirim ke luar negeri,” harapnya.

Karena durian yang berasal dari daerah tersebut sudah masuk kategori premium. Edy merasa Durian Jemongko sangat layak menjadi komoditas ekspor unggulan. “Di atas layak kalau bagi saya pribadi, malahan bisa melebihi durian Thailand. Durian Thailand rata-rata manis saja, sedangkan kita (Kalbar) punya karakter yang jauh variatif dari pada itu,” tambahnya.

Ayah empat anakitu berharap ke depan semakin banyak pengusaha yang mau mengembangkan potensi durian di Kalbar. Tidak hanya Durian Jemongko di Kabupaten Sanggau, tapi juga daerah lainnya. Masing-masing harus memiliki varietas unggul dan bisa dibudidayakan lebih besar. Termasuk memiliki pasar yang jelas ke luar Kalbar.

“Seperti sekarang ini, karena memang durian yang unggul itu kadang pohon induknya hanya satu. Jadi kalau berbuah dalam satu pohon itu hanya 50 buah, setelah jatuh, 50 buah habis tidak ada lagi,” ceritanya.

Sedangkan penikmat durian unggul jumlahnya cukup banyak. Edy sendiri sempat tidak bisa memenuhi permintaan konsumen karena kondisi durian yang habis. Belum lagi durian hanya bisa didapat musiman.

Maka dari itu penting ada budidaya durian unggul. Dalam hal ini pemerintah bisa memberikan dukungan untuk mengajak atau menggerakkan masyarakat membudidayakan durian unggul di daerah masing-masing. “Kita ambil contoh Malaysia, kita mau makan durian Malaysia, Musang King, sepanjang tahun mereka ada, karena itu budidaya,” tutupnya. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria