MEMPAWAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Desa Galang, Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, kini memasuki fase darurat. Peristiwa yang bermula sejak Sabtu (8/2) sore ini tidak hanya menghanguskan belasan hektare lahan gambut, tetapi juga menelan korban jiwa. Seorang warga setempat, Hj. Pusani (65), dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang melawan gangguan pernapasan hebat akibat paparan asap pekat.
Kapolsek Sungai Pinyuh, AKP Setyadi, mengonfirmasi bahwa hingga Senin (9/2), luas lahan yang terbakar diperkirakan telah mencapai 12 hektare. Kondisi lahan gambut yang kering serta tiupan angin kencang membuat api sangat sulit dikendalikan. Kepulan asap tebal kini tidak hanya menyelimuti lahan, tetapi juga merambah ke jalan raya dan kawasan permukiman, menciptakan jarak pandang yang sangat terbatas dan membahayakan warga.
Tragedi kesehatan mulai memuncak ketika beberapa warga dilaporkan menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Hj. Pusani, warga RT 04 RW 02 Desa Galang, mengalami sesak napas parah pada Senin dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Meski sempat mendapatkan perawatan di Puskesmas Rawat Inap Sungai Pinyuh dan dirujuk ke RSUD Sudarso Pontianak, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada sore harinya sekitar pukul 16.00 WIB.
Kepala Puskesmas Sungai Pinyuh, Afrizal, menjelaskan bahwa paparan asap ekstrem menjadi pemicu fatal bagi korban yang memiliki riwayat penyakit asma dan batuk. Kejadian ini menjadi peringatan keras bahwa kabut asap karhutla telah berubah menjadi ancaman mematikan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak yang memiliki komorbid pernapasan.
Di lapangan, operasi pemadaman terus berlangsung meski dihantui berbagai kendala. Kepala Bidang Damkar BPBD Mempawah, Desvan, menyebutkan bahwa jauhnya sumber air dan sulitnya akses menuju titik api di tengah hutan menjadi hambatan utama. Bantuan tambahan juga telah dikerahkan oleh PMI Kalimantan Barat yang menurunkan tim evakuasi, unit ambulans, hingga drone untuk memantau pergerakan api dari udara.
Sebagai bentuk empati, jajaran Polsek Sungai Pinyuh telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa. Dalam kesempatan tersebut, AKP Setyadi kembali mengimbau warga agar membatasi aktivitas di luar ruangan dan selalu menggunakan masker selama kabut asap masih menyelimuti wilayah mereka.
Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, Damkar, dan relawan masih bersiaga penuh di lokasi guna mencegah api merambat lebih jauh ke rumah-rumah penduduk. Sementara itu, pihak kepolisian terus melakukan penyelidikan intensif untuk memastikan apakah kebakaran ini dipicu oleh faktor alam atau adanya unsur kesengajaan manusia dalam pembukaan lahan. (*)
Editor : Indra Zakaria