BANJARBARU - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator saat ini menunjukkan La Nina memasuki level moderate. Kondisi ini tentu perlu diwaspadai masyarakat, sebab di Kalsel ada beberapa daerah yang rawan bencana.
La Nina sendiri merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Anomali La Nina seiring dimulainya musim hujan pada bulan Oktober ini berpotensi menjadi pemicu bencana banjir, angin kencang dan tanah longsor.
Akhir-akhir ini cuaca pun sudah mulai tidak bersahabat. Hujan deras disertai angin beberapa kali mendadak mengguyur sejumlah daerah di Banua. Akibatnya, beberapa titik jalan tergenang air.
Senin (16/11) Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor juga mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem di Kalsel.
Dalam prospek cuaca harian yang mereka rilis, masyarakat diminta waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang pada siang dan sore hari di sejumlah daerah.
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Rizki Nur Fitriani mengatakan, dalam prakiraan cuaca yang berlaku mulai Selasa (17/11) hingga Rabu (18/11) tersebut ada 10 daerah yang dianggap berpotensi mengalami cuaca ekstrem.
"Daerah-daerah tersebut yakni, Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Tanah Laut, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara dan Tabalong," katanya.
Dia mengungkapkan, dari 10 daerah rawan cuaca ekstrem itu, delapan di antaranya berpotensi terjadi angin kencang. Yaitu, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Barito Kuala, Tapin, Hulu Sungai Selatan, Banjar, Banjarbaru dan Banjarmasin.
Disinggung berapa kecepatan angin di setiap daerah tersebut, menurutnya bervariasi. Tergantung besaran kumpulan awan konvektif yang terbentuk di wilayahnya masing-masing dan intensitas hujannya. "Tapi, pada dasarnya kategori kecepatan angin pada angin kencang itu bisa mencapai lebih dari 25 knots atau 46,3 kilometer per jam," ujarnya.
Sementara itu, terkait perkembangan La Nina, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru Goeroeh Tjiptanto menuturkan, Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) pada November ini telah menunjukkan La Nina memasuki level moderate. "Level La Nina sendiri ada tiga, yakni lemah, moderate dan kuat," tuturnya.
Dia mengungkapkan, catatan historis menunjukkan La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya.
Namun, dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia. Pada November-Desember peningkatan curah hujan bulanan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan Selatan dan hampir di seluruh wilayah Indonesia kecuali Sumatera.
“Selanjutnya hingga Februari 2021, peningkatan curah hujan akibat La Nina dapat terjadi di Kalimantan bagian timur, Sulawesi, Maluku-Maluku Utara, dan Papua,” kata Goeroeh.
Lalu bagaimana dengan kesiapan Pemprov Kalsel dengan fenomena ini? Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Mujiyat menyatakan, sejak 16 Oktober lalu, pihaknya sudah menyampaikan surat edaran kepada pemerintah kabupaten dan kota untuk antisipasi dampak musim hujan.
Diungkapkannya, dari sejumlah daerah, baru Kabupaten Barito Kuala yang sudah menetapkan siaga banjir. "Untuk Kalsel secara keseluruhan, Pemprov belum menetapakan status siaga banjir. Karena saat ini status siaga darurat Karhutla masih berlaku sampai akhir November," terang Mujiyat.
Melihat prediksi dari BMKG sebutnya, tak menutup kemungkinan beberapa daerah berpotensi mengalami musibah banjir. Berkaca pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pihaknya sudah memetakan beberapa daerah yang akan terdampak ketika curah hujan dengan intensitas tinggi.
Mujiyat mengatakan, daerah tersebut meliputi Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Balangan, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru, Tapin, Barito Kuala dan Kota Banjarbaru. "Kami berharap daerah yang sering terdampak segera menetapkan status siaga banjir ini. Sehingga untuk penanganannya bisa lebih dini," pungkasnya.
Musim La Nina membuat perhatian pada sistem pengairan kota harus diseriusi. Ruas -ruas jalan di Banjarmasin tergenang setiap kali hujan deras turun.
“Beginilah setiap tahun. Pasang surut di Banjarmasin terjadi dua kali. Sehingga genangan air pun terjadi cukup lama, tak sempat habis genangan, meluap lagi,” kata Kepala Bidang Sungai Dinas PUPR Banjarmasin Hizbulwathoni kemarin.
Dia menerangkan, genangan air terjadi bukan karena sistem drainase tersumbat. “Lihat saja, genangan air di ruas jalan yang sering terjadi, tingginya sama dengan sungai kecil di sampingnya. Jadi bukan hanya tersumbat,” terangnya.
Normalisasi sungai kecil sudah sering dilakukan, termasuk penanganan dan pemeliharaan saluran drainase. Akan tetapi, ketika air di sungai utama pasang, genangan pun tak bisa dihindari. “Ini yang harus dipahami masyarakat. Apalagi untuk menuju ke sungai utama rata-rata alirannya cukup jauh,” tuturnya.
Lalu apakah kondisi ini tak bisa ditanggulangi? Pria yang akrab disapa Thoni itu mengatakan, menahan luapan air di sungai utama harus melakukan pengerukan. Salah satu yang utama adalah Sungai Kelayan. Di sungai ini sebutnya sebagai aliran terakhir air sebelum menuju ke Sungai Barito.
Terlebih Sungai Kelayan menjadi muara aliran beberap sungai kecil yang selalu meluap ketika terjadi air pasang dan turun hujan. Persoalannya, untuk mengeruk maksimal Sungai Kelayan, rumah yang berada di bantaran akan mengalami dampak. Bisa-bisa ambruk. “Jalan satu-satunya adalah dibebaskan. Kalau tak dikeruk, begitu air pasang, tetap saja terjadi luapan di beberapa titik,” paparnya.
Solusi ini sebutnya, tak hanya untuk mengurangi beban air. Namun untuk penataan bantaran sungai sebagai objek pariwisata baru. “Memang akan bersinggungan dengan masyarakat. Tapi di sisi lain, kondisi beban air akan seperti ini setiap tahun,” cetusnya.
Dia mengatakan ada solusi lain yang lebih menjanjikan. Yakni membuat tanggul. Namun perlu biaya yang sangat besar. “Ada konsep besar yakni membuat dam air seperti di Amsterdam Belanda. Di sana kalau tak dibikin tanggul akan banjir juga,” tandasnya.
Sementara itu, Pemkab Batola termasuk pemda yang telah bersiap dengan datangnya La Nina. Hal ini terlihat dari cepatnya menetapkan status siaga darurat pada 2 November 2020 tadi. Status ini bertahan hingga 2 Pebruari 2021.
"Untuk Batola, saat ini sudah melewati pergantian musim. Dari musim kemarau ke musim hujan," ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batola Sumarno kepada Radar Banjarmasin, Senin (16/11).
Berkaitan dengan bencana banjir, menurut Sumarno untuk Batola masih aman. Beberapa daerah rawan banjir seperti, Kecamatan Mandastana, Bakumpai, Tabukan, Kuripan, dan Alalak, masih stabil. Belum ada peninggian air. "Beberapa hari lalu kami bersama TNI-Polri sudah melakukan patroli keliling. Ketinggian air masih normal," ceritanya sembari menekankan untuk wilayah Batola apabila banjir, bukan banjir bandang. Tetapi banjir kiriman.
Sumarno menambahkan berdasarkan data prediksi BMKG Batola termasuk akan mendapat curah hujan tinggi. Terutama di bulan Desember 2020 hingga Januari 2021. "Pada bulan itu kita harus waspada. Bisa dikatakan itu puncak curah hujan tinggi," ujarnya.
Dengan prediksi BMKG itu, menurut Sumarno pihaknya sudah melakukan berbagai kegiatan. Seperti melaksanakan apel siaga banjir dan gelar pasukan bersama stakeholder terkait. "Sesuai status saat ini, kami juga sudah menyiapkan sarana prasarana penunjang bencana banjir di masing-masing instansi. Seperti tenda, perahu karet, dan sebagainya," ungkapnya. (ris/mof/bar/ran/ema)
Editor : izak-Indra Zakaria