Jika Anda mudah tersinggung dan tidak terlatih berpikir untuk mempertimbangkan hal-hal rumit, Anda sebaiknya tidak usah membaca tulisan ini. Ini adalah tulisan yang mempertanyakan kenapa kita masih berusaha set-back, ingin menangani Covid dengan cara pertama kali saat pandemi melanda.
Saat ini penguncian sistemastis kembali dilakukan. Mudik telah dilarang. Bersamaan dengan itu, Pj gubernur kita juga mengeluarkan penghapusan wilayah aglomerasi. Artinya lebaran kali ini tidak benar-benar lebar. Pemerintah telah menyempitkannya.
Ada banyak kasus, ada banyak orang, ada banyak akal sehat yang menjadi korban dari pemaksaan protokol kesehatan selama hampir dua tahun terakhir. Efek kobra dari kebijakan yang semena-mena ini juga melukai banyak sektor. Di antara semuanya, ekonomi yang paling berdarah. Orang-orang tidak bisa mendapatkan uang karena lelah dengan berbagai periodisasi ketat-longgar ini.
Saat menuliskan ini, mall siap-siap tutup. Pengusaha yang membuka tenant di sana harus memikirkan bagaimana cara menggaji pegawai, memberi THR, dan tetap bertahan dalam situasi yang rumit ini.
Hampir dua tahun sejak Covid -19 pertamakali menyebar di Wuhan, pemerintah kita masih berkutat dengan metode lama. Tadinya kita menunggu vaksinasi agar bisa bebas. Dalam bayangan saya, ketika orang divaksin mereka akhirnya memiliki gelang, kartu atau tanda bukti lainnya yang membuat mereka bebas bepergian, tetapi ternyata tidak.
Vaksin ternyata tidak membuat Anda kebal, kata seseorang yang mewakili pemerintah. Tepat di sana masalahnya: kenapa kita harus merisikokan diri untuk materi asing yang toh tidak membuat kita kebal? Apa gunanya semua ini?
Mungkin ada niat yang tulus dari pemerintah untuk melindungi masyarakat dari penyakit ini. Tapi, tanpa ada kebijakan yang berkomitmen, terkoordinasi dan berpihak kepada akal sehat, melakukan penindakan atas orang-orang yang kebingungan dengan semua cara-cara kontradiktif ini--membuat kredibilitas pemerintah akan semakin jatuh.
Selama ini banyak dari kita menghadapi Covid dengan munafik. Kita menyadari pentingnya protokol kesehatan, tapi hanya jika itu membuat kita bisa masuk ke mall. Atau agar terlihat bagus saat webinar. Di luar dari itu, tidak terlalu penting lagi. Ironisnya jika ada yang mengatakan sebaliknya, kita kembali bersemangat mempertahankan argumen "keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi".
Saya kira ada baiknya pemerintah mengambil pilihan yang berani. Saatnya fokus saja membuka ekonomi. Beri banyak uang ke kantong rakyat. Beri banyak modal ke rekening industri dan sektor-sektor lainnya-- untuk meningkatkan daya beli. Buka pariwisata. Longgarkan bandara. kembalikan anak-anak ke sekolah.
Saya kira sudah saatnya pemerintah mengubah strategi menangani virus ini.. Yang harus dilakukan adalah memusatkan perjuangan pada vaksinasi saja. Seluas-luasanya. Selebar-lebarnya. Bukan malah melakukan kebijakan sesempit-sempitnya. ()
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin