Kronologinya, saat berkendara di malam hari, gara-gara menghindari luberan sampah di jalan ia terjatuh dari motornya. Syahrawi mendapat cedera serius. Mengalami patah tulang bahu. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (20/4) malam lalu. "Saat menghindari sampah saya dihadapkan gundukan," ucap Syahrawi, (22/4).Motor yang dinaikinya oleng, tubuhnya terhempas ke aspal.
Dia berharap, jangan lagi ada korban berikutnya. Pemko harus memikirkan bagaimana mengatasi masalah TPS yang overload ini.
Di Lingkar Dalam Selatan, luberan sampah terkadang memakan hingga separo badan jalan. Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Marzuki mengatakan, TPS itu dipaksa menampung sampah dari lima kelurahan.
Perhitungannya, dalam sehari TPS itu harus menampung 30 ton sampah. "Karena volume sampahnya luar biasa banyak, pasti meluber ke jalan," ujarnya.
Ditambah keberadaan pemulung yang kerap mengais-ngais dan membuat sampah berserakan. "Pemulung biasa menghambur-hamburkan sampah di situ," ujarnya. Kronologinya, saat berkendara di malam hari, gara-gara menghindari luberan sampah di jalan ia terjatuh dari motornya.
Syahrawi mendapat cedera serius. Mengalami patah tulang bahu. Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (20/4) malam lalu. "Saat menghindari sampah saya dihadapkan gundukan," ucap Syahrawi, Senin (22/4). Motor yang dinaikinya oleng, tubuhnya terhempas ke aspal.
Dia berharap, jangan lagi ada korban berikutnya. Pemko harus memikirkan bagaimana mengatasi masalah TPS yang overload ini.
Di Lingkar Dalam Selatan, luberan sampah terkadang memakan hingga separo badan jalan. Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Marzuki mengatakan, TPS itu dipaksa menampung sampah dari lima kelurahan.
Perhitungannya, dalam sehari TPS itu harus menampung 30 ton sampah. "Karena volume sampahnya luar biasa banyak, pasti meluber ke jalan," ujarnya. Ditambah keberadaan pemulung yang kerap mengais-ngais dan membuat sampah berserakan. "Pemulung biasa menghambur-hamburkan sampah di situ," ujarnya.
"Ketika rapat dengar pendapat, kami sudah berulang kali mengingatkan," ujarnya. "Tolong, DLH perhatikan TPS-TPS, ini hal yang mendesak. Untuk yang sifatnya rutin seperti pengangkutan sampah juga tolong lebih diperhatikan," tambahnya.
Apalagi sampah meluber di TPS Lingkar dalam Selatan yang sudah menjadi pemandangan karib."Tapi apa jawaban DLH? Mereka selalu berdalih bahwa warga yang tidak disiplin membuang sampah di situ," ujarnya.
Kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu berharap mendengar solusi, bukan alasan. Termasuk berdalih keterbatasan lahan tempat pembuangan akhir (TPA). "Bukankah sudah ada TPST atau TPS3R? Semestinya hal seperti itu yang diperhatikan," tegasnya.
"Terus terang saja, kami melihat DLH seperti menganggap remeh masalah sampah ini," cecarnya. "Akhirnya, ketika tidak bisa meraih Adipura, TPA lagi yang menjadi alasan. Padahal TPS juga bermasalah," imbuhnya.
Hendra juga menuntut DLH tegas pada keberadaan pemulung. "Intinya harus ada tindakan konkret dan jelas. Mengingat kejadian seperti ini terus berulang," katanya. "Tolong, persoalan yang berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak ini diseriusi. Jadikan prioritas," pungkasnya. (*)