Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Angka Stunting Banjarbaru Paling Rendah di Banua

Sheilla Farazela • Sabtu, 27 Juli 2024 - 19:30 WIB
STUNTING: Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Arifin saat meneteskan vaksin polio kepada anak-anak. Banjarbaru menjadi daerah dengan angka stunting paling rendah. (FOTO: MC BANJARBARU UNTUK RADAR BAN
STUNTING: Wali Kota Banjarbaru HM Aditya Mufti Arifin saat meneteskan vaksin polio kepada anak-anak. Banjarbaru menjadi daerah dengan angka stunting paling rendah. (FOTO: MC BANJARBARU UNTUK RADAR BAN

 

Kota Banjarbaru menjadi daerah dengan angka stunting terendah di Provinsi Kalimantan Selatan.

Berdasarkan laporan capaian pembangunan, Banjarbaru telah berhasil menekan angka stunting hingga mencapai 12,4 persen.

Kemudian disusul daerah lain dengan stunting terendah ialah Kabupaten Hulu Sungai Tengah di angka 13 persen dan Kabupaten Tapin 14,4 persen. 

Wali Kota Banjarbaru, Aditya Mufti Ariffin mengatakan bahwa hasil ini didapat dari kerja keras. Pasalnya pelaksanaan percepatan penurunan stunting di tengah masyarakat membutuhkan perencanaan dan alur kebijakan yang tepat.

Tak hanya itu, menurut Aditya, penurunan stunting juga perlu dukungan seluruh elemen masyarakat.

“Salah satunya peran keluarga yang harus dioptimalkan sebagai entitas utama dalam pencegahan stunting. Alhamdulillah, kinerja Pemko Banjarbaru dengan dukungan masyarakat telah menekan angka stunting sampai yang paling rendah,” ujarnya, Jumat (26/7) pagi.

Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa penanganan stunting tidak terhenti sampai di sini. Ia berharap semuanya tetap terkonsentrasi dalam penanganan di tahun-tahun yang akan datang.

“Setiap keluarga di Indonesia harus optimal bergerak bersama mencegah stunting, demi mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal ini sebagaimana amanat bapak presiden,” terangnya. Menurut Aditya, masalah krusial ini harus menjadi perhatian serius bagi para pemimpin di masing-masing daerah, termasuk dirinya sendiri.

“Kami terus melakukan upaya lebih intensif untuk menyelamatkan generasi penerus dari ancaman stunting melalui kebijakan pangan terjangkau dan bergizi seimbang. Tentu kita akan terus menggali lebih dalam program-program yang kita laksanakan dengan inovasi kebijakan yang lebih strategis,” tukasnya.

Sebagaimana diketahui, isu stunting telah menjadi perhatian khusus bahkan di level pemerintah pusat.

 

Stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak usia di bawah 5 tahun akibat kekurangan gizi kronis berdampak pada kerusakan kognitif dan fisik yang tidak dapat diperbaiki, bahkan juga berdampak pada generasi berikutnya.(*)

 
Editor : Indra Zakaria