Suatu ketika pihak Belanda mengundang Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati untuk mengadakan perundingan di atas kapal perang Belanda bernama Onrust, yang sedang berlabuh di Teluk Lalutung Tuor Hilir Kota Muara Teweh. Markasim bergelar Panglima Burung Nuri dari Kampung Santallar berangkat bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati.
ROBY CAHYADI, Muara Teweh
PENDUDUK baru tersebut bernama Markasim, sempat menetap di Kampung Sikan, kemudian pindah ke Tumpung Laung Kabupaten Barito Utara. Ketika mendengar di Kampung Santallar, tidak jauh dari Tumpung Laung, ada seorang imam masjid berilmu tinggi, ia pun datang beserta keluarganya ke Kampung Santallar, ikut bergabung memperdalam ilmu yang telah ia miliki melewati bimbingan dan ajaran R Aji Sulaiman, Imam Masjid Nurul Yaqin.
Markasim menetap menjadi penduduk Kampung Santallar. Salah seorang anak laki-lakinya yang bernama Mat Tinggal dijodohkan dengan anak Muhammad Tarai yang bernama Bintang Zahara cucu R Aji Sulaiman.
Di samping telah memiliki ilmu terdahulu, Markasim memperdalam ilmu agama dan ilmu kepahlawanan bimbingan R Aji Sulaiman, maka bertambahlah ilmu agama serta ilmu kanuragan yang ia miliki. Markasim tadinya seorang guru pencak silat, ditambah dengan ilmu baru yang ia pelajari.
Sering terlihat ia berlatih ilmu-ilmu tersebut. Saking cepatnya, seakan tidak terlihat pergerakan tangannya, tahu-tahu sasaran yang ditinju roboh seketika. Lalu turun melayang seperti seekor burung, tidak mengeluarkan bunyi, sehingga Markasim dijuluki dengan gelar Panglima Burung Nuri.
Salah seorang anak perempuan Markasim, dijodohkan dengan seorang Dayak Maanyan bernama Imas bin Nganti, cucu dari seorang pemuka suku Dayak Maayan Paju Empat, bernama Suta Ono. Setelah memeluk agama Islam dan nikah dengan Bawin binti Markasim, nama Imas dirobah menjadi Masdar bin Nganti bin Suta Ono.
Ada pula lima tokoh pendatang baru yang menetap di Kampung Santallar. Satu orang berasal dari Kampung Kunut di atas Puruk Cahu, yaitu Tumenggung Baling Karta bergelar Panglima Kumbang Bakoi. Dari Kampung Lahei Temanggung Lawas bergelar Panglima Ujan Panas, satu orang berasal dari Kandangan bernama Darpa bergelar Panglima Datuk Kupiah Kajang, dan dua orang lagi berasal dari Tambak Bitin bernama Abdullah, bergelar Panglima Pating Samben, yang satunya berasal dari kampung Utus bernama Lamin, bergelar Panglima Batu Amping.
“Mereka berlima inipun ikut berguru dan jadi pengikut setia R Aji Sulaiman dan berkat ajaran yang mereka dapatkan, jadilah mereka orang-orang yang berilmu tinggi dibidang ilmu dan kanuragan, sehingga mereka mendapat gelar seperti tersebut di atas,” terang Mardiansyah, keturunan R Aji Sulaiman didampingi Suyanta, warga Kelurahan Montallat II, Kabupaten Barito Utara yang menunjukkan lokasi Kampung Santallar beserta makam para pejuang, Jumat (24/3).
Menurutnya, zaman dulu gelar panglima yang disandang oleh seseorang bukan karena pendidikan atau jabatan yang dipegang oleh orang tersebut, melainkan gelar panglima yang diberikan kepada seseorang adalah, karena ilmu yang dimiliki dan keberanian seseorang yang dapat dibuktikan secara nyata. Termasuk berperilaku baik, mempunyai sifat kepemimpinan, maka dipanggillah orang tersebut dengan panggilan panglima.
Populasi penduduk Kampung Santallar dan sekitarnya, saat ini didominasi oleh keturunan R Aji Sulaiman dan keturunan dari para pengikutnya, sehingga banyak sekali keturunan R Aji Sulaiman dan keturunan para pengikutnya, yang sampai saat ini bekerja dibidang pemerintahan, menjadi Pegawai Negeri Sipil, aparat serta instansi lainnya.
Mendekati pertengah abad ke 18, Kesultanan Banjar bergejolak menetang penjajah Belanda. Terjadi perselisihan dan persaingan di Kerajaan Banjar, dan terbetik berita bahwa, Pangeran Antasari beserta para pengikutnya, telah pergi menghimpun kekuatan serta membangun benteng pertahanan di Barito Hulu, dengan didukung seorang tumenggung bernama Tumenggung Surapati.
Ketika menerima kedatangan Pangeran Antasari dari Kerajaan Banjar, yang menyampaikan tujuannya ingin membangun benteng untuk melawan pejajah Belanda, Tumenggung Surapati sangat setuju, lalu segera bergabung dengan Pangeran Antasari.
Penyerangan demi penyerangan dilakukan oleh Pangeran Antasari, Tumenggung Surapati beserta para pengikut serta dibantu oleh penduduk peribumi, terhadap benteng pertahanan Belanda di Muara Teweh dan benteng pertahan lainnya, sehingga suatu ketika pihak Belanda mengundang Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati, untuk mengadakan perundingan di atas Kapal Perang Belanda bernama Onrust, yang sedang berlabuh di Teluk Lalutung Tuor di Hilir Kota Muara Teweh.
Ketika itulah R Aji Sulaiman, menghimpun para tokoh pejuang lokal di Kampung Santallar, bermusyawarah di Masjid Jami Nurul Yaqin untuk memilih serta menunjuk, siapa di antara mereka yang diberangkatkan bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati.
Di antara para tokoh yang dipilih oleh R Aji Sulaiman adalah Markasim alias Panglima Burung Nuri, untuk berangkat bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati. Berangkatlah Markasim seorang diri, setibanya di Juking Ara, bertemu dengan seorang tokoh yang bernama Singa Ngenuh, Dayak Taboyan dari Desa Majangkan, merekapun meneruskan perjalanan memakai perahu, lalu bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati di Teluk Mayang.
Hari perundingan telah tiba, Markasim dan Singa Ngenuh bergabung dalam kubu Tumenggung Surapati, mereka berangkat ke Teluk Lalutung Tuor tempat perundingang diatas Kapal Perang Belanda bernama Onrust. Setibanya di Kapal Perang Belanda, perundingan akan dimulai tiba-tiba ada teriakan "amuuuk" dan pada kenyataannya perundingan tidak dilaksanakan, yang terjadi adalah perang antara pasukan Tumenggung Surapati melawan serdadu Belanda di atas kapal perang tersebut.
Dengan gagah berani, pasukan Tumenggung Surapati, merangsek masuk ke dalam kapal perang sambil menebaskan mandau, parang rungkup dan mengayunkan tombak terhadap musuh. Begitu juga, Markasim Panglima Burung Nuri, dengan mandau selendang mayang terhunus di bawah hujan peluru serta bunyi tembakan musuh yang memekakan telinga serta bacokan pedang, dia terus maju langsung turun ke dalam, sesampai di bawah palka, dengan segera membuka kran, sehingga air bersemburan dengan deras masuk ke dalam kapal perang.
Tidak berapa lama, kapal perang tersebut oleng dan mulai tenggelam yang didahului buritannya. Setelah perang usai, serdadu Belanda banyak yang tewas, ada yang lari dengan menceburkan diri ke Sungai Barito, pasukan Tumenggung Surapati pulang membawa kemenangan.
Bukti arkeologis bangkai Kapal Perang Belanda Onrust yang tenggelam tahun 1859 itu masih bisa dilihat sampai sekarang di Sungai Barito, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara.
Pada penghujung bulan Februari 1860, Markasim Panglima Burung Nuri, secara diam-diam pulang ke Santallar, menceritakan pengalaman serta keterlibatannya dalam perang di Lalutung Tuor, bergabung dengan pasukan Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati, yang mendapat kemenangan dengan tenggelamnya Kapal Perang Belanda bernama Onrust. (bersambung/ala)
Editor : izak-Indra Zakaria