BONTANG —Lewat Merdeka Belajar, digitalisasi sekolah menjadi program prioritas dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia.
Ada sekitar Rp 109,85 miliar yang dianggarkan untuk penguatan platform digital, Rp 132 miliar untuk konten pembelajaran di program TVRI dan Rp 74,02 miliar untuk menyediakan bahan belajar dan model media pendidikan digital pada tahun depan.
Kemendikbud juga menganggarkan Rp 1,175 triliun untuk menyediakan sarana pendidikan untuk peralatan digital.
Menanggapi digitalisasi sekolah di 2021, Rakhman Halim, guru bahasa Inggris di SMP 7 Bontang percaya, bahwa guru harus dapat adaptif terhadap perubahan. Termasuk kolaborasi digital pada kompentesi pedagogi. Sehingga, guru dapat menyediakan pendidikan yang berpihak pada anak.
Rakhman sendiri aktif menggunakan teknologi pada pembelajarannya sejak Juli 2019 melalui YouTube. Ia kerap mendokumentasi pembelajaran bahasa Inggris dengan kanal YouTubenya, Smart English. Selain itu, dirinya menyediakan program khusus untuk guru tutorial memaksimalkan penggunaan teknologi.
Berangkat dari pengalamannya, Rakhman menyebutkan ada lima area yang dapat dikembangkan menyambut digitalisasi sekolah. Pertama yakni berpikir kritis. Sebab ia percaya, bahwa guru mempunyai peran sebagai fasilitator untuk proses pembelajaran anak. Dalam pembelajaran, guru dituntut untuk menstimulasi siswa untuk berpikir kritis.
Dari itu, Rakhman dan Tanoto Foundation Kalimantan Timur berkolaborasi untuk terus konsisten membuat pertanyaan PIT (produktif, imajinatif, terbuka) dalam penugasan siswa. "Dengan adanya pertanyaan PIT, guru memandu siswa untuk berpikir tingkat tinggi," katanya.
Kedua, keterampilan membuat bahan ajar berupa audio visual. Diakui, pelatihan berbicara di depan publik bersama Tanoto Foundation membantu dirinya memproduksi video pembelajaran berkualitas. Hingga akhirnya mengelola penampilannya di dalam video agar menarik, dan membuat video lanskap sesuai format menonton siswa.
Dibutuhkan pula koreksi pembetulan vokal dalam video apakah sudah sesuai, terdengar, maupun kecepatan vokal. Bahkan ia membekali dirinya dengan mempelajari aplikasi pendukung, untuk membuat, menyunting video, foto, dan suara bersama Rumah Belajar.
Ketika Covid-19 memaksa untuk penggunaan digital dalam dunia pendidikan, maka hal ketiga yang harus dikuasai para guru ialah, harus adaptif dan terbuka untuk kolaborasi.
Sudah tidak zaman lagi untuk berdiri sendiri. Di zaman kolaborasi ini, guru diharapkan bersikap terbuka atas inisiasi bagus, seperti arus webinar-webinar peningkatan kapasitas digital para guru.
Guru diharapkan dapat memilah milih arus webinar yang mendukung kapasitas digital para guru, dan dapat mengidentifikasi kolaborasi untuk mendukung pembelajaran daring dana atau daring luring.
Keempat, petakan jaringan sosial media di lingkungan sekitar. Sosial media sudah terintegrasi dalam kehidupan, terutama kehidupan siswa yang beranjak SMP. Rakhman yang mengenal karakter siswa SMP-nya melihat, paparan sosial media bagi siswa begitu tinggi.
"Sebelum Covid-19 melanda saya sudah membuka saluran Smart English sendiri. Sebab saya sadar, bahwa dunia digital sangat cepat berkembang," ungkapnya.
Dengan kanal siaran yang dimiliki, siswanya tidak perlu lagi merasa ketinggalan dan dapat mengulang pembelajaran. YouTube pun dipilih karena siswanya lebih mudah memahami materi melalui video. Ditambah lagi, di Kota Bontang yang bertajuk smart city, tidak mempunyai permasalahan pasokan jaringan internet.
"Dengan menggunakan sosial media, guru menjadi lebih dekat dengan siswanya, karena dapat mengetahui siswa-siswa mana yang menonton ulang video saya untuk memperdalam pemahaman pelajaran yang saya ampu, yaitu bahasa Inggris," ucap Rakhman. (pms/lil)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan