INGIN terkenal dan dikenal, banyak jalannya. Tak perlu ke Jakarta mengadu yang dirasakan salah satu kelompok Youtuber di Makassar.
Tak ada rencana ataupun janjian untuk bertemu. Saya sendiri tidak mengenal sebelumnya. Ketika saya minum kopi di warung Daeng Sija, di Mal Panakukang, tiba-tiba seorang berbadan kekar duduk pas di belakang saya. Ia datang bersama istri dan seorang anaknya.
Saya hafal wajahnya. Adegan kocaknya sering saya saksikan melalui Youtube. Badannya kekar, rambut gondrong yang sepertiganya berwarna pirang mengesankan tak ubahnya seorang 'preman'.
Pertemuan tak sengaja itupun saya manfaatkan buat ngobrol. Ia sebut nama lengkapnya Sukri Daeng Sikki. Tapi, dalam Credit Titlle setiap episode tak pernah menyebut nama aslinya. Yang ada nama Bassi Toayya (Basto).
Mengapa pakai nama itu? Ternyata dari sekian banyak anggota timnya, dialah yang paling tua. Karena itu, ia diberi gelar Bassi Toayya (dalam bahasa Indonesia 'Besi Tua'). Karena dialah yang paling senior. Saya pernah menyaksikan banyak espisode. Semuanya punya kesan tersendiri. Sebab ada misi yang diemban. Kadang ada juga full sponsor salah satu produk. Ada juga yang menyuarakan tertib lalu lintas. Saya terkesan dengan episode berdurasi 9 menit berjudul "Preman Belajar Insaf".
Sukri atau Basto sendiri tak tahu sudah berapa banyak episode yang ditayangkan melalui Youtube. "Banyak sekali mi pak," kata Basto dengan logatnya yang khas. Ia memang mendapat peran yang awalnya berani, namun akhirnya menunjukkan bahwa ia sebetulnya penakut.
Obrolan saya di warkop Daeng Sija sesekali terhenti. Banyak pengunjung Mal yang mengajak selfie. Semua dilayani. Mulai anak-anak hingga orang tua. Hehe, termasuk saya.
Ia punya cerita soal penggemar. Sekali waktu ia dikejutkan ketika seorang istri polisi datang ke rumahnya. Ternyata, sang ibu datang untuk mengajak ke rumahnya. Anaknya sudah dua hari demam dan selalu menyebut namanya. "Setelah saya ke rumahnya dan memegang kepala si anak lalu foto bersama, langsung sembuh," kata Basto.
Lelaki asal Kabupaten Bantaeng itu, tak menyangka bahwa dalam perjalanan hidupnya ketika sudah merasa tua, barulah terbuka rezeki dengan aktivitasnya sekarang. "Mungkin ini juga petunjuk Tuhan," ungkapnya.
Bagaimana menentukan tema, semua dibicarakan bersama. Ia hanya mendapat garis besar dialog yang akan diperankan. Lalu, pengambilan gambar yang diawali dengan hunting (pencarian) lokasi. Prosesnya tidak lama. Ia mengaku juga harus hati-hati. Harus diedit.
Karena tokoh yang diperankan seperti itu, ketika kami berbincang dengan gaya saling menyamping, kadang-kadang tak bisa diubah pada kehidupan nyata. Ia tampilkan gaya ‘penakutnya’ ketika berbincang dengan para penggemarnya.
Begitupun saat ia berjalan. Baju kaos yang dikenakan bertuliskan kata-kata yang populer di Makassar. Siapapun yang sempat membaca tulisan itu, pasti akan tersenyum simpul.
Tak mau menyebut berapa yang mereka dapatkan dari pengelola media sosial hasil aktingnya. Salah satu tayangannya berjudul 'Preman Sayang Istri ke Pasar (Lada Mas)' sudah diputar sebanyak 429 ribu kali. Pasti banyaklah yang didapatkan.
Begitulah Sukri yang tidak menyangka akan mendapatkan rezeki lewat tayangan komedinya itu, belum tahu kapan akan berakhir. Sebab, akan banyak genre seperti itu mulai bermunculan. Sehingga, lahannya pun harus terbagi-bagi.
Sayapun tidak menyangka bisa dipertemukan dengan Sukri Daeng Gassing. Salah seorang yang sering menyaksikan adegan kocaknya. Jumpa dengannya juga jadi bahan bagi saya buat bercerita. Andai badan saya sekekar Sukri, mungkin bisa juga jadi Bassi Toayya. Tidak kekar saja, sudah banyak yang bilang Daeng Toayya.(*/asa)
Editor : uki-Berau Post