Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dermaga Cinta

uki-Berau Post • 2019-12-19 10:07:23

NUANSA biru mewarnai hampir seluruh bagian bangunannya. Standing Banner terlihat masih berjejer rapi. Ucapan selamat dari berbagai relasi.

Atap bangunan yang menyerupai punggung Penyu Hijau dicat biru. Jembatan besi menuju lantai dermaga juga dicat biru. Semua biru. Dermaga apung juga warna serupa. Bukan karena warna biru menyiratkan rasa percaya diri. Itu warna kebesaran Dinas Perhubungan.

Namanya bukan dermaga biru. Tidak menggunakan nama warna catnya.

Proyek dermaga dibangun Dinas Perhubungan. Dihadirkan untuk menata aktivitas angkutan sungai. Dermaga ini menggantikan dermaga ‘darurat’ yang ada di salah satu titik di kawasan tepian Jalan Pulau Derawan.

Dermaga ini juga dibangun agar tamu-tamu Pemkab tak lagi ‘numpang’ di dermaga milik perusahaan tambang batu bara.

Kalau ditempatkan nama ‘dermaga wisata’, juga agar pelayanan wisatawan lebih manusiawi. Agar memberikan gambaran daerah yang punya lokasi wisata terkenal juga harus punya dermaga yang memadai. Yang cantik.

Setelah semua rampung, kemarin, dermaga ini dinyatakan resmi untuk dioperasikan. Perahu cepat yang ‘mangkal’ di tepian sungai dan hanya bersandar pada batang kayu yang mulai lapuk akan memanfaatkan dermaga ini. Mereka harus boyongan ke tempat yang baru.

Calon penumpang wisatawan maupun warga Pulau Maratua dan Derawan tak lagi berpanas-panasan sambil duduk di turap tepian sungai. Menunggu giliran perahu cepat yang akan berangkat.

Ada tulisan besar berwarna kuning mempertegas. “Dermaga Wisata Sanggam”. Jelas bahwa fasilitas ini akan digunakan sebagai dermaga wisata.

Di daratnya ada terminal. Terminal yang dilengkapi ruang tunggu. Ada loket, bagi penumpang untuk mendapatkan tiket. Juga ada kantin kecil yang bisa digunakan calon penumpang selama menunggu.

Ada ruang kecil untuk petugas yang akan melakukan pencatatan. Di tempat yang lama, fasilitas untuk petugas sangat sulit. Di dermaga yang baru petugas wisata bisa mencatat berapa banyak penumpang yang berangkat dan tiba setiap harinya.

Di sisi kiri dan kanan, ada ruang terbuka. Sebelah kiri dimanfaatkan untuk parkir kendaraan. Sebelah kanannya, taman terbuka. Kalau boleh, bisa dimanfaatkan warga untuk rekreasi di tepi sungai.

Saya tidak melihat apakah ada ruang khusus ditempatkan operator radio. Yang akan memantau pergerakan semua perahu cepat yang meninggalkan dermaga. Kalau di terminal ada radio, idealnya di setiap perahu cepat juga ada radio penerima.

Dermaga ini terbilang lengkap. Petugas juga akan betah. Juga kalau ingin menambah ilmu, di seberang dermaga ada perpustakaan. Bisa meluangkan waktu untuk membaca.

Petugas bisa bekerja maksimal. Bisa ‘menindak’ perahu cepat yang tidak memiliki alat keselamatan. Petugas bisa membatalkan keberangkatan bila ada penumpang tidak menggunakan pelampung. Komplitlah.

Juga bisa membatalkan bila ternyata perahu cepat tidak memberlakukan daftar penumpang (manifes).

Tak banyak daerah yang punya dermaga dan terminal khusus wisata. Wakatobi, rasanya belum lama juga diresmikan dermaga wisatanya. Daerah lain pun begitu.

Warga yang lama merantau dan baru kembali ke Berau akan terkejut melihat kawasan ini. Dulu lokasi ini sangat kumuh. Bahkan super kumuh. Pasar basah yang campur baur.

Cikal bakal dermaga sudah ada sejak lama. Perahu tradisonal Mamuju, Sulawsi Selatan bernama ‘Sande’ sering sandar di lokasi ini. Yang dijual kasur dan sayur-mayur. Kapal yang mengangkut ternak sapi, juga lego jangkar di sini.

Setelah pasar dipindahkan. Lokasi ini memang direncanakan untuk fungsi awalnya. Yakni Dermaga. Dan kemarin, akhirnya diwujudkan.

Lapang rasanya. Duduk di terminal sambil menunggu panggilan berangkat. Penggiliran berangkat juga semakin rapi. Wisatawan mancanegara terlayani lebih manusiawi.

Tak salah, bila teman saya menyebutnya ‘Dermaga Cinta’. Semua dihadirkan demi cintanya pada para pengguna jasa angkutan sungai dan laut. Semua dihadirkan karena ‘cinta’nya pada keindahan kota. Juga demi ‘cinta’nya pada aktivitas wisata yang sedari dulu punya slogan ‘Sapta Pesona’. (*/har)

 

Editor : uki-Berau Post
#Catatan