Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Misteri di Lautan

uki-Berau Post • Senin, 26 Desember 2022 - 08:22 WIB
-
-

MASIH sekitar Warung Pojok. Selalu saja ada yang baru. Bukan menunya. Tapi, cerita dari para pengunjungnya.

Bahwa mereka yang datang itu, punya hobi sendiri-sendiri. Ada yang suka memancing di laut dan sungai. Ada yang berkebun. Ada yang tidak punya aktivitas lain, setiap hari wajib datang ke warung.

Dari setiap pertemuan itu, ada saja cerita menarik yang dijadikan bahan obrolan. Seperti yang diungkapkan Pak Rakhman, pensiunan kantor Syahbandar. Ia punya pengalaman melaut, yang menurutnya sudah ia arungi dari Sabang sampai Merauke.

Bukan itu saja, ia juga punya pengalaman mistis ketika berada di laut. Pernah sekali, kata Pak Rakhman, ia bersama teman-temannya memancing di laut. Ia ingin mencoba ‘ilmu’ yang ia dapatkan dari gurunya. Gurunya itu orang Bajau.

“Singkat saja bacaannya, Daeng,” kata Pak Rakhman. Setelah ajiannya dibaca dalam hati, tangan lalu menyentil permukaan laut. Hasilnya, mulai pagi hingga menjelang sore, tak satupun pancing yang didekati ikan.

Mengapa ia harus bersikap seperti itu, kata Pak Rakhman, hanya ingin menguji, apa betul ‘ilmu’ atau ajian yang diberikan oleh ‘orang pintar’ itu, benar-benar canggih. Dan, memang terbukti.

Sebagai pelaut, sudah banyak mengalami berbagai kejadian. “Saya juga sudah pernah mengalami, kapal tempat saya bekerja tenggelam,” kata dia. Ia hanya diselamatkan oleh jeriken yang ia pegang hingga bantuan datang. Jeriken itu sangat membantu.

Namun, di balik pengalaman yang pernah dirasakan. Sekali waktu, Pak Rakhman mengalami musibah di laut Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Kapal yang ia tumpangi, kandas di atas karang. Bisa lolos, tapi harus menunggu air pasang besar. Kalau jadwal itu diikuti, harus menunggu empat hari.

Sudah ada upaya menarik dengan bantuan kapal Tugboat. Tapi, upaya itu tidak membawa hasil. Kapal tak bergerak dan tetap ‘jongkok’ di atas batu karang. Terus upaya lain yang dilakukan apa?

Tak lama, ada nelayan yang mendekati kapal. Nelayan pancing itu, di perahunya membawa puluhan ekor ikan. “Kami memang berencana untuk membeli, bekal selama menunggu air pasang,” kata dia.

Nelayan itupun bertanya, apa yang terjadi terhadap kapal. Oleh Pak Rakhman diceritakanlah semuanya. Tak lama kemudian, sang nelayan mengeluarkan benang jahit. Ujung benang dari atas kapal dipegang Pak Rakhman. Ujung lainnya dipegang sang nelayan.

“Awalnya saya pikir, nelayan ini ngolok-ngolok,” katanya. Ditarik pakai tugboat saja tidak bergerak. Apalagi, hanya menggunakan benang jahit. Sama sekali tidak masuk akal.

Tak lama, nelayan mulai mendayung dan benangpun mulai terbentang. Hanya selang beberapa menit, kapalpun bergeser dari pundak batu karang. Dan kembali mengapung. Setelah itu, sang nelayan langsung berlalu.

“Bujur-bujur aku dibuat teheran-heran,” kata Pak Rakhman. Iapun mengakui kehebatan nelayan tersebut. “Rasanya mau kucari di mana rumahnya orang tua itu,” kata Pak Rakhman. Katanya sih, mau mengejar ilmunya.

Urusan mistis di laut. Saya juga punya pengalaman. Sekali waktu, saya diajak Pak Masdjuni (almarhum) memancing di laut sekitar Pulau Semama. “Kau tidak pemabuk ‘kan,” kata Pak Masdjuni. Saya jawab, tidak. Jawaban itu spontan, karena kondisi laut teduh. Kalau bergelombang, mabuk jua aee.

Setiba di lokasi pemancingan, dan Pak Masdjuni sudah menurunkan kailnya. Hanya beberapa menit, lalu menarik dan menggulung pancing. “Kita bulik saja,” kata Pak Masdjuni. Kenapa kita bulik, kan baru datang.

“Nanti di pulau baru kukesahkan,” ujar Pak Masdjuni. Setibanya di Pulau Derawan itulah, Pak Masdjuni bercerita. Bahwa ketika menurunkan pancing, dari dasar laut terlihat seperti kembang wijaya kesuma berwarna putih kekuning-kuningan. “Kalau ada tanda itu, pemancing sehebat apapaun, tidak akan mendapat ikan,” kata Pak Masdjuni.

Padahal selama ini kami menyebut Pak Masdjuni itu bertangan ‘amis’. Setiap memancing, pasti hasilnya luar biasa. Kali ini, nihil. Gara-gara melihat kembang wijaya kesuma itu muncul dari dasar laut. @cds_daengsikra. (*/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Catatan