BALIKPAPAN–Arus informasi kian banyak kanalnya. Tak hanya media mainstream atau konvensional, media dalam jaringan (daring/online) hingga media sosial ambil andil dalam menyalurkan informasi. Opini masyarakat kian beragam, mulai positif hingga yang berpotensi mengganggu kondusivitas suatu wilayah.
Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Ade Yaya Suryana, dalam silaturahmi dengan pemimpin redaksi dan awak media di Ruang Mahakam Mapolda Kaltim, kemarin (30/4). Bagi dia, penting untuk media ikut membantu menciptakan kamtibmas dengan produk berita yang berimbang dan kredibel. “Apalagi saat Pemilu 2019 ini. Di agenda politik yang ‘melelahkan’ bagi semua pihak ini, ada tanggung jawab media agar setiap pemberitaannya tak mengandung unsur provokatif,” kata Ade.
Dia mengingatkan ada konsekuensi setiap unggahan atau produk berita yang dihasilkan. Tentu hal yang sama berlaku di tubuh Polri. Sebagai lembaga negara punya kewajiban memberi informasi sesuai Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
“Kami pun harus transparan menyediakan akses yang bersifat informasi kepada publik. Jika tidak, ada pidana penjara satu tahun atau denda akan menjerat kami,” ungkap Ade. Dengan begitu, terjalin komunikasi yang baik. Dengan tujuan meningkatkan hubungan yang selama ini terjalin dengan media, antara Polda Kaltim khususnya Bidhumas dan awak media.
Sementara itu, dari perwakilan media, Pemred Kaltim Post Faroq Zamzami menerangkan, perusahaan media, khususnya yang terverifikasi oleh Dewan Pers, punya tanggung jawab menaati Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. “Wartawannya pun ikut uji kompetensi. Ini tanggung jawab terhadap kredibilitas produk berita yang dihasilkan,” ungkap Faroq.
Bagi dia, ada tanggung jawab media untuk ikut membantu perkembangan dan kemajuan pembangunan wilayah. Pun dalam produk yang dihasilkan “haram” untuk menyajikan berita yang beriktikad buruk. Yang berimplikasi kepada munculnya konflik sosial di masyarakat. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dan perlu diketahui saat ini bukan lagi masa di mana ‘bad news is good news’. Tapi ‘good news is good news’,” katanya. (rdh/ndy/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria