Human error at time of crisis caused by US adventurism led to disaster
Our profound regrets, apologies and condolences to our people, to the families of all victims, and to other affected nations.
Hari-hari ke depan, mungkin sampai akhir hayat si jenderal, tragedi memilukan itu akan terus membayangi. Yang tak akan cukup ditepis dengan permintaan maaf, pengunduran diri, atau hukuman fisik sekalipun.
Karena itulah, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, komandan korps udara Garda Revolusi Iran, menyebut, ”Lebih baik saya mati saja.”
Sabtu (11/1) Iran mengakui telah ”menembak dengan tak sengaja” pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan PS752 pada Rabu lalu (8/1). Pesawat Boeing 737 tujuan Kiev, Ukraina, itu jatuh di Shahedshahr, pinggiran Teheran, hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini. Akibatnya, 167 penumpang dan 9 kru tewas. Dari keseluruhan korban, 82 di antaranya merupakan warga Iran.
Hajizadeh mengaku korps yang dipimpinnya bertanggung jawab sepenuhnya atas, dalam bahasa Presiden Iran Hassan Rouhani, ”kesalahan yang tak termaafkan” tersebut. Anak buahnya telah salah mengidentifikasi pesawat komersial itu sebagai cruise missile atau peluru kendali jarak jauh. Dan, menembaknya jatuh dengan dua rudal (misil) jarak pendek.
Dalam penjelasan resmi militer Iran, seperti dilansir kantor berita Iran IRNA, disebutkan bahwa pesawat yang salah teridentifikasi itu terbang mendekati kawasan militer sensitif. Padahal, keamanan Iran tengah dalam level tertinggi buntut ketegangan dengan Amerika Serikat.
”Dalam kondisi seperti itu, karena kesalahan manusia dan tak disengaja, pesawat tersebut pun ditembak.” Demikian bunyi pernyataan resmi militer Iran seperti dikutip CNN.
Insiden tersebut terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Iran menembakkan misil ke dua markas tentara AS di Baghdad, AS. Itu salah satu respons Teheran setelah drone AS menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani, komandan pasukan elite Iran, pada 3 Januari lalu.
Sebelum resmi mengakui kemarin, Iran bersikukuh bahwa pesawat itu jatuh karena masalah teknis. Tudingan AS bahwa pesawat tersebut ditembak rudal dibantah Teheran sebagai propaganda dan kebohongan besar. ”Bukan misil yang menyebabkan pesawat itu jatuh,” kata Ali Abedzadeh, kepala Badan Penerbangan Nasional Iran, Jumat lalu (10/1).
Hajizadeh mengaku, dirinya sebenarnya sudah menyampaikan kepada pihak-pihak terkait bahwa pesawat itu jatuh karena ditembak rudal beberapa jam setelah kejadian. Dia juga menyebut telah pula meminta agar diterapkan aturan zona larangan terbang (no-fly zone) untuk rute penerbangan yang berdekatan dengan kawasan militer. Tapi, permintaan tersebut –tak dijelaskan kenapa– ditolak.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei langsung memerintah Iran menyelidiki ”kemungkinan kekurangan atau kesalahan” yang berbuntut pada tragedi itu. ”Saya meminta semua pihak terkait agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah hal serupa terulang,” kata Khamenei seperti dikutip The Guardian.
Sementara itu, Presiden Hassan Rouhani menyampaikan permintaan maaf dan dukacita mendalam kepada para keluarga korban. ”Penyelidikan akan dilanjutkan untuk mengidentifikasi dan menghukum siapa saja yang terlibat dalam tragedi dan kesalahan yang tak termaafkan,” kata Rouhani lewat Twitter.
Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, pada akhirnya memberikan keterangan yang membuka misteri jatuhnya pesawat Ukraina tersebut. Zarid memang tak secara gamblang mengakui pesawat itu tertembak rudal Iran. Namun, dari cuitannya di Twitter jelas bahwa ada kesalahan manusia dan bersamaan dengan serangan Iran ke pangkalan militer AS di Irak. Hal itu jelas mengarah ke serangan rudal Iran.
A sad day. Preliminary conclusions of internal investigation by Armed Forces:
Human error at time of crisis caused by US adventurism led to disaster
Our profound regrets, apologies and condolences to our people, to the families of all victims, and to other affected nations.
“Hari yang menyedihkan. Kesimpulan awal investigasi internal oleh Angkatan Bersenjata: Kesalahan manusia saat krisis yang dipicu aksi Amerika Serikat,” cuit Zarif di akun Twitter resminya, @JZarif.
“Kami sangat menyesal, meminta maaf, dan menyampaikan belasungkawa kepada warga negara kami, kepada keluarga korban, dan kepada negara-negara yang terkena dampak dari insiden tersebut,” imbuh Zarif.
Respons Ukraina
Ukraine International Airlines (UIA) memastikan, sebelum insiden terjadi, pihaknya sama sekali tak menerima informasi tentang kemungkinan ancaman untuk penerbangan sipil. Baik yang terbang dari Kiev maupun Teheran.
”Sampai pesawat akan lepas landas, tak ada informasi dan juga tak ada keputusan apa pun dari pihak berwenang yang disampaikan kepada kami,” kata CEO UIA Yevgenii Dyhkne dalam jumpa pers di Kiev, Ukraina, kemarin.
Dyhkne juga memastikan bahwa pesawat terus berkomunikasi dengan bandara sampai detik terakhir sebelum musibah terjadi.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memastikan segera mengontak Presiden Iran Hassan Rouhani mengenai tragedi itu. ”Kami mengharapkan jaminan Iran tentang kesediaan mereka untuk menjalankan penyelidikan secara penuh dan terbuka, menghukum siapa saja yang bertanggung jawab, mengembalikan semua jenazah, membayar kompensasi, dan menyampaikan permintaan maaf resmi melalui saluran diplomasi,” katanya seperti dikutip Al Jazeera.
Reaksi Internasional
Sejumlah maskapai penerbangan langsung merespons terungkapnya penyebab jatuhnya UIA PS752. Maskapai Bahrain, Gulf Air, misalnya, menunda semua penerbangan ke Baghdad dan Najaf di Iraq karena alasan keselamatan dan keamanan.
Begitu pula Austrian Airlines. Melalui Twitter, maskapai Austria itu juga menyatakan telah membatalkan semua penerbangan ke Teheran kemarin dan hari ini.
Dari Kanada, Perdana Menteri (PM) Justin Trudeau menegaskan bakal berfokus pada pengungkapan, pertanggungjawaban, transparansi, dan keadilan. Warga negeri jiran AS tersebut paling banyak kedua yang menjadi korban dalam tragedi PS752 itu
Senada dengan Trudeau, PM Inggris Boris Johnson menegaskan, negaranya akan bekerja sama dengan Kanada, Ukraina, dan semua partner internasional untuk memastikan penyelidikan yang transparan dan independen.
”Tragedi ini semakin memperlihatkan pentingnya menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah,” tutur Johnson seperti dikutip Al Jazeera.
Ukraina menjadi pihak yang paling dirugikan terkait peristiwa jatuhnya pesawat maskapai mereka di dekat Bandara Imam Khomeini, Teheran, Iran, pada Rabu (8/1). Pesawat jenis Boeing 737-800 milik Ukraine International Airlines tersebut tertembak rudal Iran. Pemerintah Iran sudah mengakuinya lewat pernyataan Menteri Luar Negeri Javad Zarif dan Presiden Hassan Rouhani.
Dalam insiden tersebut, seluruh penumpang termasuk kru yang berjumlah 176 orang meninggal dunia. Dari jumlah itu, 11 orang merupakan warga Ukraina termasuk kru.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky telah mengeluarkan pernyataan terkait pengakuan Iran tersebut. Zelensky meminta Iran menyampaikan permintaan maaf secara resmi lewat jalur diplomatik dan membawa pihak yang bersalah ke pengadilan untuk diadili.
“Pagi ini bukan kabar yang baik, tetapi membawa kebenaran. Bahkan sebelum Komisi Internasional dapat menyelesaikan pekerjaannya, Iran mengakui menembak jatuh pesawat kami,” sebut Zelensky seperti dilansir CNN.
“Kami menuntut pengakuan bersalah sepenuhnya dari Iran. Kami mengharapkan Iran untuk melakukan penyelidikan penuh dan terbuka, membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan, mengembalikan jenazah korban, membayar kompensasi, dan mengeluarkan permintaan maaf resmi melalui saluran diplomatik,” imbuh Presiden Zelensky.
Ukraina disebut Presiden Zelensky akan membantu proses investigasi dan berharap bisa tuntas secara cepat. “Kami berharap investigasi akan berlanjut tanpa penundaan dan hambatan. Sebanyak 45 profesional kami membutuhkan akses penuh dan keterlibatan untuk menegakkan keadilan,” pungkas Zelensky. (jpc)
Hari-hari ke depan, mungkin sampai akhir hayat si jenderal, tragedi memilukan itu akan terus membayangi. Yang tak akan cukup ditepis dengan permintaan maaf, pengunduran diri, atau hukuman fisik sekalipun.Karena itulah, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, komandan korps udara Garda Revolusi Iran, menyebut, ”Lebih baik saya mati saja.”Kemarin (11/1) Iran mengakui telah ”menembak dengan tak sengaja” pesawat Ukraine International Airlines dengan nomor penerbangan PS752 pada Rabu lalu (8/1). Pesawat Boeing 737 tujuan Kiev, Ukraina, itu jatuh di Shahedshahr, pinggiran Teheran, hanya beberapa menit setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini.Akibatnya, 167 penumpang dan 9 kru tewas. Dari keseluruhan korban, 82 di antaranya merupakan warga Iran.Hajizadeh mengaku korps yang dipimpinnya bertanggung jawab sepenuhnya atas, dalam bahasa Presiden Iran Hassan Rouhani, ”kesalahan yang tak termaafkan” tersebut. Anak buahnya telah salah mengidentifikasi pesawat komersial itu sebagai cruise missile atau peluru kendali jarak jauh. Dan, menembaknya jatuh dengan dua rudal (misil) jarak pendek.Dalam penjelasan resmi militer Iran, seperti dilansir kantor berita Iran IRNA, disebutkan bahwa pesawat yang salah teridentifikasi itu terbang mendekati kawasan militer sensitif. Padahal, keamanan Iran tengah dalam level tertinggi buntut ketegangan dengan Amerika Serikat.”Dalam kondisi seperti itu, karena kesalahan manusia dan tak disengaja, pesawat tersebut pun ditembak.” Demikian bunyi pernyataan resmi militer Iran seperti dikutip CNN.Insiden tersebut terjadi hanya berselang beberapa jam setelah Iran menembakkan misil ke dua markas tentara AS di Baghdad, AS. Itu salah satu respons Teheran setelah drone AS menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani, komandan pasukan elite Iran, pada 3 Januari lalu.Sebelum resmi mengakui kemarin, Iran bersikukuh bahwa pesawat itu jatuh karena masalah teknis. Tudingan AS bahwa pesawat tersebut ditembak rudal dibantah Teheran sebagai propaganda dan kebohongan besar.”Bukan misil yang menyebabkan pesawat itu jatuh,” kata Ali Abedzadeh, kepala Badan Penerbangan Nasional Iran, Jumat lalu (10/1).Hajizadeh mengaku, dirinya sebenarnya sudah menyampaikan kepada pihak-pihak terkait bahwa pesawat itu jatuh karena ditembak rudal beberapa jam setelah kejadian. Dia juga menyebut telah pula meminta agar diterapkan aturan zona larangan terbang (no-fly zone) untuk rute penerbangan yang berdekatan dengan kawasan militer. Tapi, permintaan tersebut –tak dijelaskan kenapa– ditolak.Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei langsung memerintah Iran menyelidiki ”kemungkinan kekurangan atau kesalahan” yang berbuntut pada tragedi itu. ”Saya meminta semua pihak terkait agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah hal serupa terulang,” kata Khamenei seperti dikutip The Guardian.Sementara itu, Presiden Hassan Rouhani menyampaikan permintaan maaf dan dukacita mendalam kepada para keluarga korban. ”Penyelidikan akan dilanjutkan untuk mengidentifikasi dan menghukum siapa saja yang terlibat dalam tragedi dan kesalahan yang tak termaafkan,” kata Rouhani lewat Twitter.Respons UkrainaUkraine International Airlines (UIA) memastikan, sebelum insiden terjadi, pihaknya sama sekali tak menerima informasi tentang kemungkinan ancaman untuk penerbangan sipil. Baik yang terbang dari Kiev maupun Teheran.”Sampai pesawat akan lepas landas, tak ada informasi dan juga tak ada keputusan apa pun dari pihak berwenang yang disampaikan kepada kami,” kata CEO UIA Yevgenii Dyhkne dalam jumpa pers di Kiev, Ukraina, kemarin.Dyhkne juga memastikan bahwa pesawat terus berkomunikasi dengan bandara sampai detik terakhir sebelum musibah terjadi.Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memastikan segera mengontak Presiden Iran Hassan Rouhani mengenai tragedi itu. ”Kami mengharapkan jaminan Iran tentang kesediaan mereka untuk menjalankan penyelidikan secara penuh dan terbuka, menghukum siapa saja yang bertanggung jawab, mengembalikan semua jenazah, membayar kompensasi, dan menyampaikan permintaan maaf resmi melalui saluran diplomasi,” katanya seperti dikutip Al Jazeera.Reaksi InternasionalSejumlah maskapai penerbangan langsung merespons terungkapnya penyebab jatuhnya UIA PS752. Maskapai Bahrain, Gulf Air, misalnya, menunda semua penerbangan ke Baghdad dan Najaf di Iraq karena alasan keselamatan dan keamanan.Begitu pula Austrian Airlines. Melalui Twitter, maskapai Austria itu juga menyatakan telah membatalkan semua penerbangan ke Teheran kemarin dan hari ini.Dari Kanada, Perdana Menteri (PM) Justin Trudeau menegaskan bakal berfokus pada pengungkapan, pertanggungjawaban, transparansi, dan keadilan. Warga negeri jiran AS tersebut paling banyak kedua yang menjadi korban dalam tragedi PS752 ituSenada dengan Trudeau, PM Inggris Boris Johnson menegaskan, negaranya akan bekerja sama dengan Kanada, Ukraina, dan semua partner internasional untuk memastikan penyelidikan yang transparan dan independen.”Tragedi ini semakin memperlihatkan pentingnya menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah,” tutur Johnson seperti dikutip Al Jazeera.
Editor : izak-Indra Zakaria