JAKARTA– Belakangan ini, mulai muncul desakan agar aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilonggarkan. Padahal, kasus Covid-19 belum mereda. Karena itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta pelonggaran PSBB dikaji dengan hati-hati. Jangan sampai pelonggaran itu justru membuat kurva penularan makin tinggi.
Jokowi memberikan penekanan khusus pada kondisi di Pulau Jawa. Dia menjelaskan bahwa 70 persen kasus positif Covid-19 berada di Pulau Jawa. Lalu, 82 persen kematian pasien korona juga terjadi di Jawa. Karena itu, Jokowi mengingatkan agar pelonggaran PSBB tidak sampai menjadi bumerang bagi setiap daerah.
Itulah yang disampaikan Jokowi saat memimpin ratas virtual mengenai evaluasi PSBB kemarin (12/5). Menurut dia, hasil PSBB berbeda-beda di setiap daerah. Ada yang penurunan kasusnya gradual. Namun, ada pula yang laju penularan penyakitnya masih fluktuatif. ’’Ada juga daerah yang penambahan kasusnya tidak mengalami perubahan seperti sebelum PSBB,’’ ungkapnya.
Selama pandemi, daerah tampak berupaya berinovasi dalam menjalankan kebijakan jaga jarak. Meski, daerah tersebut tidak memberlakukan PSBB. Sejumlah daerah menerapkan kebijakan yang sesuai dengan konteks daerah masing-masing. Karena itu, Jokowi meminta manajemen pengendalian PSBB tidak dibatasi wilayah administratif. Penanganan di kawasan yang besar harus saling terhubung dan terpadu. Termasuk bila hendak memberlakukan pelonggaran.
’’Pelonggaran PSBB harus dilakukan secara hati-hati dan tidak tergesa-gesa,’’ tuturnya. Semua harus didasarkan pada data dan pelaksanaan di lapangan agar tidak salah langkah.
Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo menuturkan, pada prinsipnya, pemerintah pusat tidak memaksakan pemberlakuan PSBB di daerah. Setiap daerah boleh memilih pendekatan yang sesuai dengan kondisi di wilayahnya. ’’Termasuk memanfaatkan kearifan lokal dalam rangka meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan,’’ terangnya.
Yang penting, daerah tetap harus optimal meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam pelaksanaan protokol kesehatan. Dia mencontohkan Bali yang tidak menetapkan PSBB, tetapi menunjukkan pengurangan kasus positif. Banyak pasien di RS yang sembuh dan tidak ada penambahan angka kematian.
’’Bali telah melakukan upaya maksimal dengan memanfaatkan kearifan lokal, menggerakkan desa adat, dan gotong royong berbasis adat,’’ paparnya. Poin utamanya bukan pada PSBB atau tidak PSBB. Melainkan, ketaatan dan kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan.
Gubernur Bali I Wayan Koster menyebutkan, pihaknya mengandalkan dua hal untuk menekan laju sebaran penyakit. Pertama, penggunaan otoritas desa adat. Desa-desa adat itu diandalkan untuk mengendalikan pergerakan warga di dalam agar tidak keluar dan mengontrol kedatangan orang luar. ’’Karena desa adat punya hukum adat, warga jadi tertib dan disiplin,’’ ujarnya.
Kedua, ritual adat berbentuk niskala. Yakni, penanganan wabah secara mandiri melalui ritual berdasar petunjuk dari warisan leluhur. Dua hal itu menjadi kunci utama kedisiplinan warga dalam menerapkan protokol kesehatan.
Sementara itu, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengandalkan pool test alias tes komunitas. ’’Mengefisienkan pemeriksaan spesimen sehingga lebih murah, lebih cepat, dan mendapat hasil yang bisa dijadikan rujukan,’’ katanya. Karena itu, laju penularan cukup lambat. Pool test dilakukan di Sijunjung, Solok, Solok Selatan, Sawahlunto, Bukittinggi, dan Agam.
Metodenya, spesimen dari semua orang di satu wilayah tertentu seperti kampung disatukan dan diuji bersama dalam satu reagen. ’’Sekarang pool test ODP dan OTG. Ke depan merujuk ke populasi antarstatistik dengan multitest sampling,’’ jelasnya. Juga, dikuatkan dengan kajian epidemiologi.
Bila hasilnya negatif, wilayah tersebut harus disterilkan dari orang luar agar tidak ada impor penyakit. Jika hasilnya positif, tinggal dicari siapa di antara mereka yang positif untuk kemudian dikarantina dan dilakukan contact tracing.
Tantangannya saat ini adalah beberapa kampung berada di wilayah perbatasan. Karena itu, ketika hasilnya dinyatakan negatif, ternyata ada pendatang yang masuk lantaran tinggal bersebelahan. Jadilah, dari yang semula 100 persen negatif, ada warga kampung yang positif. (ada tambahan menyusul/c14/oni)
Editor : izak-Indra Zakaria