CANBERRA - Para ahli ekologi Australia mendesak pemerintah federal untuk segera membuat rencana pemulihan spesies yang terancam punah. Yaitu populasi koala yang ikonis.
Kara Youngentob, ahli ekologi dari Universitas Nasional Australia, Australian National University (ANU) mengatakan, rencana pemulihan satwa marsupial tersebut harus benar-benar menjadi prioritas. Hilangnya habitat akibat aktivitas kehutanan yang diperparah oleh krisis kebakaran hutan.
“Rencana pemulihan untuk memaksimalkan kelangsungan hidup jangka panjang satwa liar Australia dan memiliki tenggat waktu tiga tahun untuk implementasi dan dana,” terang Youngentob, seperti dikutip Antara dari Xinhua.
Diketahui, Menteri Lingkungan Hidup Australia Greg Hunt pada 2015 mengesahkan rencana pemulihan untuk satwa koala dan telah melewati batas waktu selama dua tahun. Youngentob mengatakan kepada surat kabar Nine Entertainment bahwa hanya satu spesies pohon yang tumbuh kembali untuk mendominasi wilayah yang terdampak penebangan dan kebakaran hutan. Hal itu menimbulkan krisis makanan bagi para koala.
“Populasi mereka seperti lampu-lampu kecil dan mereka akan terus berkedip di seluruh habitat mereka sampai benar-benar gelap,” katanya.
Menurutnya, perlindungan yang ada saat ini tidak cukup untuk memastikan populasi tidak terus menurun. Sudah terjadi kepunahan lokal dan itu dapat terus berlanjut.
James Trezise, analis kebijakan dari Australian Conservation Foundation, mengatakan bahwa koala terdampak parah oleh kebakaran hutan pada musim panas lalu.
Diperkirakan 25 ribu koala mati dalam kebakaran hutan di Pulau Kanguru (Kangaroo Island) di lepas pantai Australia Selatan, atau sekitar setengah dari populasi di pulau itu.
Sementara 10 ribu koala lainnya mati di New South Wales (NSW), setara sepertiga dari populasi di negara bagian tersebut. Ini adalah spesies ikonis yang dicintai orang-orang dan sangat berharga bagi budaya Australia dan industri pariwisata,” kata Trezise. (ant/jpg/kri/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria