Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

“Kita Khawatir Pasar Balik Lagi ke Komik Terjemahan”

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 19 Desember 2020 - 20:19 WIB
RASA NUSANTARA: Sweta Kartika bersama komik-komik karyanya.
RASA NUSANTARA: Sweta Kartika bersama komik-komik karyanya.

Menurunnya produktivitas karya komik bernuansa budaya Nusantara di tengah derasnya komik terjemahan memantik keresahan Sweta Kartika untuk melawan arus. Mendirikan Padepokan Ragasukma untuk mewadahi para pembuat komik Nusantara.

 

FOLLY AKBAR, Jakarta

Pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya” sangat layak disematkan pada Sweta Kartika. Seorang komikus kelahiran Kebumen, Jawa Tengah, yang konsisten dengan karya-karya komik bernapaskan budaya Nusantara.

Sweta hari ini, bak wujud perpaduan sempurna dari jiwa kedua orangtuanya. Ibunya yang gemar membaca komik, serta ayahnya, seseorang yang gemar berseni budaya. Keroncong, gamelan, wayang, hingga melukis.

Dua keseharian yang akrab sejak dia kecil itu pada akhirnya mengantarkan Sweta menemukan identitas dirinya sebagai komikus Nusantara. “Dari situ tergabung, membuat komik yang mengambil unsur budaya lokal,” ujarnya kepada Jawa Pos (Kaltim Post Group).

Bagi dia, komik sudah menjadi bagian hidup. Sejak kecil, Sweta sudah disodori berbagai judul komik bacaan dari ibunya. Umumnya yang bertema pendekar. Kebetulan, pamannya berprofesi sebagai penjaga lapak penyewaan komik. Hari-harinya selalu diisi dengan membaca komik.

Hobinya itu bertautan dengan bakat seninya yang mengalir dari ayahnya. Sweta sudah berbakat menggambar sejak balita. Bahkan, di usia tiga tahun, dia sudah pernah memenangi perlombaan menggambar melawan anak-anak lain yang berusia sedikit di atasnya.

“Saya menang gara-gara yang lain menggambar pemandangan gunung dua berjejer. Saya gambar kura-kura ninja,” ujarnya mengenang masa kecilnya.

Sadar akan passion-nya, Sweta pun terus menekuni. Saat masa kuliah tiba, dia mengambil S-1 dan S-2 di Jurusan Desain Komunikasi Visual, Institut Teknologi Bandung. Di ITB, dia bertemu dengan Prof Primadi Tabrani, guru sekaligus rekan diskusi yang memantapkan jalannya menjadi komikus dan memasukkan unsur keindonesiaan dalam karya komiknya.

“Bahkan dari yang paling remeh sekadar menamai karakter budaya. Jadi, ada makna di baliknya,” tuturnya.

Ya, kini Sweta dikenal piawai memasukkan unsur lokal ke dalam komiknya. Salah satu karya yang bikin geger pencinta komik berjudul “Nusantararanger”. Dalam komik yang digarap bersama sejumlah koleganya itu, dia menampilkan kesatria dengan ciri khas Nusantara.

Tokoh Ksatria Nusa Merah dari Jawa memiliki kekuatan elang jawa. Nusa Kuning dengan kekuatan harimau sumatra. Nusa Hitam dari Sulawesi yang punya kekuatan anoa. Nusa Hijau dari Kalimantan memiliki kekuatan roh orangutan. Serta Nusa Biru dari Papua punya kekuatan hiu gergaji.

Pun sama booming-nya saat Komik Pusaka Dewa yang disebut-sebut sebagai Game of Thrones versi Jawa diterbitkan beberapa tahun lalu. Salah satu karya terbarunya Garuda Eleven juga memiliki semangat yang sama. Kisah Sekolah Sepak Bola (SSB) Praja Garuda Kencana yang berisi para pemain bola dari berbagai daerah. Lengkap dengan berbagai karakteristik fisik, permainan, dan posisi pemain yang sesuai dengan karakter asli daerah Indonesia.

Hingga kini, sudah ada puluhan karya komik yang digarap secara khas Nusantara. Baik bertema action, romantic, sejarah, maupun komik horor yang semuanya memasukkan unsur keindonesiaan.

Selain dipengaruhi masa kecilnya, tekadnya membuat komik Nusantara juga datang dari kegelisahannya. Komik-komik dengan ciri khas budaya Nusantara yang banyak terbit di tahun 80 sampai 90-an dirasa mulai kendur. Di sisi lain, arus masuk komik terjemahan mengalir deras. Terlebih dari Jepang seperti One Peace dan Naruto yang juga membawa budayanya.

Untuk itu, sosok yang kini menetap di Bandung itu berupaya mengisi kekosongan tersebut. "Mata rantai bisa putus kalau gak disambung," tuturnya.

Membuat komik dengan nuansa budaya Nusantara tidak sederhana. Sweta membutuhkan riset di tengah minimnya literatur budaya Nusantara yang tersedia. Oleh karena itu, tak jarang dia harus observasi lapangan hingga wawancara tokoh budaya. Hal itu untuk memastikan budaya Nusantara yang diadopsi dalam komik tidak menyimpang.

Dalam komik Pusaka Dewa misalnya, Sweta harus keliling hingga Jogja dan Sumenep. Di sana, dia bertemu dan berbicara dengan para penempa keris untuk memahami filosofinya. Sebab, komik tersebut menceritakan kisah perebutan keris dengan latar belakang kerajaan Jawa.

Pun sama halnya saat Sweta menggarap series Komik Walisongo Chronicles. Dia harus banyak berbicara dengan ahli sejarah dari Nahdlatul Ulama untuk memastikan tidak ada hal yang keliru dalam penokohan maupun setting social culture-nya. “Kita sowan ke kiai biar aman,” ungkapnya.

Dan, semua kebutuhan riset dan observasi yang memakan waktu, tenaga, dan ongkos harus dipenuhi secara pribadi. Maklum saja, di Indonesia, pemerintah hanya memfasilitasi bantuan riset untuk kepentingan akademik. “Berbeda dengan di Belanda,” ucapnya membandingkan.

Hal itu pula yang membuat banyak komikus pemula ragu untuk masuk ke konten budaya. Khawatir tak mendapat imbal hasil yang setara. Walhasil, tidak sedikit yang mengambil jalan sebagai komikus drama atau romantis yang relatif minim riset.

”Di Indonesia orang kreatif biasanya berkarya dengan perut lapar. Berkreasi untuk survive,” tuturnya.

Sadar cita-cita besar sulit diwujudkan sendiri, Sweta lantas membangun Padepokan Ragasukma pada 2013 lalu. Bersama kolega satu visinya, Alex Irzaqi. Padepokan tersebut mewadahi para komikus yang punya semangat sama untuk menggairahkan komik bergenre budaya Nusantara. Lebih khususnya terkait pendekar.

Misinya sama, memperkuat komik dalam negeri di pasaran yang mulai menggeliat. “Kita khawatir pasar komik balik lagi ke komik terjemahan,” kata dia.

Pendekar, kata Sweta, salah satu aset budaya dan sejarah yang dimiliki Indonesia. Posisinya mirip dengan Samurai X di Jepang atau Super Hero di Amerika Serikat. Namun sayangnya, pendekar kurang dikapitalisasi sosoknya. Berbeda dengan Samurai X dan Superhero yang bisa dikenal secara internasional.

Saat ini sudah ada 11 komikus yang bergabung dalam wadah tersebut. Di situ, mereka saling belajar, bertukar pikiran dan ide. Tidak jarang, produksi juga dilakukan secara bersama atau kolaborasi.

Sejauh ini, cukup banyak judul yang berhasil diterbitkan. Di antaranya, Asasta, Murka Api, Madasastra, Banaspati, Gerbang Surga, Guardians os Majapahit,Tiger of Cilengkrang, dan Wijaya Kusuma.

Agar cakupannya lebih luas, Ragasukma juga melakukan digitalisasi. Saat ini, hasil karya tim Ragasukma sudah bisa diakses di berbagai platform. Mulai website, webtone, aplikasi, hingga kanal YouTube yang disesuaikan kontennya. Baik yang gratis maupun berbayar.

Sweta menuturkan, perluasan platform tidak hanya semata-mata untuk tujuan ekonomi. Namun, tak kalah penting juga demi memperkuat pengenalan di masyarakat. Harapannya, dengan dikenal dan disukai, akan muncul ketertarikan pada komik.

Cara tersebut menjadi salah satu strategi Ragasukma untuk melahirkan komikus-komikus muda, sehingga tradisi melahirkan komik budaya Nusantara tidak hilang. Sebab, harus diakuinya, mencetak komikus dengan doktrin atau mengajar secara formal sangat berat.

”Minimal ada orang terinspirasi. Dengan melihat kita sukses mengkarya, pendekar orang terpicu. Kalau suka kan ada ketertarikan gampang bikin pintu berikutnya,” tutur dia. (jpg/dwi/k16)

 

 

Editor : izak-Indra Zakaria
#feature