Tiga hari terakhir, kabut asap menyelimuti langit Berau. Diduga karena kebakaran hutan dan lahan yang terus terjadi.
TANJUNG REDEB–Forecaster Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau Reygik Riskianera Himawan menjelaskan, hasil pantauan citra satelit Selasa (3/10) sekitar pukul 12.00 Wita, jarak pandang hanya 3,5–7 kilometer.
Berdasarkan rekapitulasi data hotspot harian per 1 Oktober, tercatat 9 titik panas di wilayah Berau dari total 100 titik hotspot di Kaltim. Disinggung pengaruh jarak pandang kian menurun terhadap aktivitas Bandara Kalimarau, Reygik menjelaskan saat ini bandara masih melayani penerbangan dan pendaratan pesawat.
“Idealnya kalau di bawah 5 kilometer cukup berpengaruh terhadap operasional penerbangan. Tapi bandara masih normal beroperasi," sebut dia.
Dia menegaskan, setiap bandara memiliki ambang batas minimal masing-masing. Terkait aturan operasi bandara bila berkabut. Sehingga jarak pandang saat ini, disebut masih berada di ambang batas aman untuk keperluan operasi pesawat.
"Jadi setiap bandara punya threshold masing-masing," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Cabang Pembantu Airnav Berau Muhammad Iwan menyebut ada penurunan jarak pandang di Bandara Kalimarau. Namun, masih dalam batas aman. Ia mengatakan, data menunjukkan jarak pandang masih di angka 4000 meter. “Pesawat beroperasi seperti biasa,” katanya.
Dia mengungkapkan, jika jarak aman sudah berkurang, bisa saja operasi bandara ditutup, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. “Bisa saja. Jika jarak pandang sudah di bawah 3,5 kilometer,” paparnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, menyatakan bila terdapat beberapa kemungkinan asal kabut yang menyelimuti langit Bumi Batiwakkal, tiga hari belakangan ini, yakni karhutla, potensi asap karhutla di wilayah tetangga dan potensi penguapan dari batu bara yang telah digali. (hmd/ind/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria