Pura Prajapati begitu vital bagi umat Hindu di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar). Tempat jenazah disemayamkan sebelum dibayar (ngaben). Setelah rusak, bagaimana jika ada umat Hindu yang meninggal?
Pura Prajapati di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar) ambruk. Dua tugu penjaga yang semula berdiri kokoh patah. Bergeser dari posisi semula.
Pondasi depan, kiri dan kanan pun ambruk. Lantai semen pecah berkeping-keping. Tanah menurun hingga 1 meter. Memecah melintang dari sudut depan kiri pura ke sudut pondasi belakang sebelah kanan.
Menyisakan tugu tunggal di tengah pura. Hujan deras sepekan lalu setelah Lebaran, membuat tanah di sekitar lokasi pura bergerak.
Luas areal Pura Prajapati 15 meter x 10 meter persegi. Posisinya di samping Pura Dalem. Tak jauh dari tempat pembakaran mayat (ngaben) setelah melalui acara ritual di Pura Prajapati.
Kondisi lahan sekitar pura memang miring. Kontur tanah setengah basah. Sekitar pura tidak ada turap. Sehingga tanah menjadi gampang bergeser. Hujan deras pada 6 Juni 2019 atau sehari setelah Idulfitri, diduga sebagai pemicu.
Usia Pura Prajapati tidak begitu tua. Baru dibangun dua tahun lalu. Warna semen tembok pun masih putih sebagaimana bangunan baru. Umat Hindu urunan merehab pura ini. Setelah direhab permanen, nasib malang menimpa. Ambruk total. Tak bisa digunakan lagi.
Awalnya, terdapat retak kecil di lantai depan pura. Juga lantai dalam pura. Baru menyusul dua tugu jago lawang rebah pada malam 9 Juni lalu saat hujan deras.
Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PDHI) Desa Kerta Buana, I Komang Widnyana mengatakan retakan kecil sudah terlihat sejak beberapa bulan lalu. Namun, pihaknya tak pernah berpikir sampai separah ini. Dari keretakan kecil tersebut perlahan mulai membesar. Puncaknya pada pekan lalu setelah Lebaran hari pertama. Pura amblas.
Awalnya, umat sempat merespons dengan membuat turap. Kayu Ulin sudah ditanam di sekitar pura. Rencananya akan dibuat cakar. Tetapi saat intensitas hujan mengguyur lokasi sekitar membuat pura langsung ambruk.
"Posisi pura pun sebelumnya memang miring. Tapi oleh warga di percepat pembangunannya dengan pondasi. Sehingga bertahan kurang lebih dua tahun. Tapi setahun kemudian, sudah miring. Di ikuti retakan-retakan kecil," katanya di lokasi saat Sapos meninjau Pura Prajapati ini, kemarin.
Ia menyebut, lokasi pembangunan pura memang berada di lahan timbunan. Sehingga sangat mudah bergerak. Ini juga memberi kontribusi atas degrasi tanah di lokasi pura. Ia tak ingin menyalahkan lokasi tambang batu bara yang beroperasi di dekat pura. Jaraknya hanya 100 meter.
"Kami sudah rapat. Kerusakan ini tentu jadi tanggung jawab kami. Kami tidak ingin menyalahkan siapa- siapa. Yang paling penting menyikapi bijak. Ajak warga urunan untuk membangun kembali," katanya.
Secara fungsi, Pura Prajapati cukup vital. Pura ini menghimpun umat Hindu yang sudah hidup secara berkelompok. Pura ini digunakan sebagai tempat umat Hindu melaksanakan peribadatan saat ada warga yang meninggal.
Alur ritual, jenazah dibawa ke tempat ngaben di samping pura. Jenazah akan diritualkan di Pura Prajapati sebelum dibakar. Pembakaran jenazah menggunakan empat kompor yang telah tersedia. Lalu abunya dibawa ke laut.
"Ritual kematian harus dilaksanakan pada Pura Prajapati guna mendapatkan karunia dari manifestasi Tuhan sebagai Brahma Prajapati. Tuhan sebagai fungsi keseluruhan dari pencipta sampai ke pengembali. Jadi fungsinya Pura Prajapati ini wajib dan vital," jelasnya.
Secara umum tempat ibadah bagi umat Hindu dibagi dalam tiga kayangan: Pura Pusa, Pura Desa dan Pura Dalem. Ini selalu ada di setiap desa adat.
Kayangan tiga dikenal sebagai wujud dari pemujaan umat Hindu kepada Tuhan yang Maha Kuasa sebagai Maha Pencipta (Brahma) Pemelihara (Wisnu) dan mengembalikan apa yang menjadi ciptaannya (Siwa). Lantas bagaimana jika ada yang meninggal mendadak ketika Pura Prajapati belum dibangun kembali?
I Komang mengatakan ritual kematian bisa dipindah ke lokasi lain. Perpindahannya pun harus dengan ritual. "Kami akan mengadakan ritual kembali untuk pemindahan. Sehingga jika ada yang meninggal, maka kami akan sepakat rehab dan ritual dengan tempat sederhana. Warga kami meninggal, kami tetap bisa melakukan ritual sesederhana mungkin," jelasnya.
Ia tak ingat jelas keseluruhan dana untuk pembangunan pura. Karena semua dana berasal dari urunan umat. Total umat Hindu di Desa Kerta Buana ada 400 kartu keluarga (KK) atau sekitar 3 ribu jiwa.
Saat Sapos meninjau lokasi ini kemarin, alat eksavator sedang mengeruk lahan. Meratakan lahan untuk pemindahan pembangunan Pura Prajapati di samping lokasi amblas. Eksavator itu milik PT Kitadin yang beroperasi tak jauh dari lokasi pura. Mereka mematangkan lahan secara cuma-cuma. (zak/nha)
Editor : izak-Indra Zakaria