Apindo berkomitmen mendukung dan memfasilitasi investasi asing yang dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan ekonomi di Kaltim.
================
Sejalan dengan upaya pemerintah mendorong investasi dan pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalimantan Timur terus menjalin hubungan dengan berbagai pihak. Termasuk para investor, baik di dalam hingga luar negeri.
Apalagi kini pemerintah tengah getol melakukan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek strategis tersebut tentu saja menarik banyak investor. Ketua Apindo Kaltim Slamet Brotosiswoyo mengungkap pertemuan dengan perwakilan investor dari Tiongkok yang tengah bertandang ke Kota Minyak.
Dari pertemuan itu, Slamet berujar adanya minat positif dari investor Tiongkok untuk berinvestasi di IKN. Yang menjadi peluang besar bagi pengembangan ekonomi dan pertumbuhan bisnis di Indonesia, khususnya di Kaltim. Terutama dalam investasi infrastruktur dan properti.
Disebutkan, salah satu investor yang ikut dalam pertemuan itu ialah China Railway Group Limited. Perusahaan ini berencana menggandeng partner Indonesia, yakni PT Intiland Tbk. Mereka menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor-sektor yang menjadi fokus investasi.
“Perwakilan investor Tiongkok yang datang juga menekankan pentingnya kerja sama yang saling menguntungkan antara pihak investor dan pengusaha lokal. Kolaborasi antara investor asing dan pengusaha lokal merupakan langkah yang tepat untuk mencapai kemajuan bersama," tuturnya.
Tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi dari kerja sama yang dijalin akan membuka peluang kerja dan memberikan dampak positif pada perkembangan daerah. Slamet pun menegaskan komitmen Apindo Kaltim dalam mendukung dan memfasilitasi investasi asing yang dapat memberikan nilai tambah bagi pembangunan ekonomi di wilayah ini. Dengan mendukung terwujudnya investasi yang berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Di samping itu, Slamet mengingatkan para investor untuk menyesuaikan dengan budaya dan aturan yang berlaku. Termasuk penggunaan tenaga kerja lokal dengan perbandingan 70:30. Jangan sampai menimbulkan masalah. Begitupun sebaliknya, jangan sampai investor mendapat masalah. Dari pihak investor juga menanyakan ketersediaan material sampai besaran upah.
Pembicaraan pun membahas kerangka kerja sama, regulasi, serta mekanisme investasi yang akan diterapkan dalam proyek-proyek yang direncanakan. Sinyal itu, Slamet berharap agar kerja sama ini dapat menjadi contoh positif bagi investasi asing di berbagai sektor di Indonesia.
“Ini membuat terbuka lebih banyak peluang kerja, transfer teknologi, dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Pertemuan dan kerja sama berkelanjutan demi menghasilkan kerangka kerja yang konkret untuk proyek-proyek investasi yang akan dilaksanakan di IKN,” tandasnya. (dwi/k8)
Ulil
Yin.khazan@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria