Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Imbas Angin Puting Beliung di Perairan Pulau Derawan, BPBD Berau Imbau Warga Tetap Waspada 

Faroq Zamzami • Selasa, 25 Juni 2024 - 17:28 WIB

JAUHI LOKASI KEJADIAN: BPBD Berau imbau masyarakat tidak mendekat jika terjadi kembali angin puting beliung.
JAUHI LOKASI KEJADIAN: BPBD Berau imbau masyarakat tidak mendekat jika terjadi kembali angin puting beliung.
PROKAL.CO, TANJUNG REDEB-Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Nofian Hidayat, mengimbau masyarakat tetap waspada. Ini setelah kemunculan angin puting beliung atau waterspout di perairan Pulau Derawan. 

Nofian Hidayat mengatakan, meski sejatinya secara kondisi geografis Kabupaten Berau sangat kecil kemungkinan akan terjadinya angin puting beliung, akan tetapi, kemunculan waterspout pada Minggu (23/6) di perairan Pulau Derawan tetap perlu menjadi pelajaran.

“Memang sebenarnya kontur kita menjadikan kemungkinannya (angin puting beliung) sangat kecil terjadi,” jelasnya.

Walau begitu, hal itu tetap harus menjadi perhatian. Dikatakan, langkah-langkah jika terjadinya angin puting beliung, penangannya adalah dengan masuk ke dalam rubanah. Akan tetapi, hal itu tentu bukan kebiasaan masyarakat Indonesia termasuk Berau membangun rubanah atau ruang bawah tanah.

“Di negara-negara yang sering berhadapan dengan angin puting beliung atau tornado, itu mereka masuk ke basemen,” ujarnya.

Namun, setidaknya masyarakat perlu edukasi, jika suatu waktu ada kejadian serupa, munculnya angin puting beliung, maka sebaiknya berlindung di dalam rumah yang kukuh, serta hindari berada di ruangan terbuka.

“Angin itu kan membawa material yang kita takutkan akan mengenai, sehingga berada di lokasi yang tertutup jauh lebih aman,” ujarnya.

 Nofian juga memberikan saran. Terhadap masyarakat yang membangun rumah ataupun pembangunan gedung pelayanan bisa benar-benar menerapkan standardisasi bangunannya. Sehingga, bangunan yang terstandardisasi akan melindungi orang-orang di dalamnya.

“Sehingga itu pentingnya sebisa mungkin pembangunan mengikuti aturan, sehingga di momen-momen tertentu konstruksi bangunan sesuai standar,” katanya.

Sebelumnya, masyarakat Pulau Derawan digegerkan dengan kemunculan angin puting beliung di atas langit sekitar Pulau Derawan. Dalam beberapa rekamanan yang beredar di media sosial, terlihat pusara angin berbentuk piramida terbalik, dengan warna abu-abu seperti awan mendung terus berputar selama beberapa saat.

Kepala Kampung Pulau Derawan, Indra Mahardika menuturkan sejauh ini, kemunculan angin puting beliung itu adalah yang pertama dirasakannya.

“Memang baru ini ada fenomena itu,” ujarnya, Minggu (23/6).

Dikonfirmasi kondisi terkini di Kampung Pulau Derawan, Indra mengatakan hingga kini belum ada laporan adanya kerusakan bangunan maupun korban terluka ataupun korban jiwa terkait fenomena tersebut.

“Sejauh ini, kondisi di Pulau Derawan dalam kondisi aman,” paparnya.

Salah satu wisatawan yang sedang berkunjung, Jefri, membenarkan bahwa adanya angin puting beliung di wilayah Kampung Pulau Derawan. Fenomena itu terjadi di atas perairan dan tidak mengarah ke permukiman.

“Hanya di atas air, tidak sampai ke permukiman,” ujarnya.

Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 11.00 Wita, Minggu (22/6). Usai kemunculan angin puting beliung, Kampung Pulau Derawan mengalami hujan dengan intensitas sangat lebat hingga pukul 12.00 Wita.

Terpisah, Kepala Stasiun Badan Meteorolohi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau, Ade Heryadi melalui Kepala Kelompok Observasi BMKG Berau, Reygik Riskianera Himawan membenarkan adanya kemunculan fenomena angin puting beliung.

Kata dia, fenomena ini bernama waterspout, atau fenomena angin puting beliung yang terjadi diatas permukaan air yang luas. Fenomena waterspout terbentuk dari sistem awan cumulonimbus (CB). Namun demikian, tidak semua awan CB dapat menimbulkan fenomena tersebut, bergantung pada kondisi labilitas atmosfer.

“Karakteristik fenomena waterspout adalah kejadiannya bersifat lokal dan berlangsung tidak lebih dari 10 menit,” jelasnya.

Selain itu, kejadian lebih sering pada siang hingga sore hari dan terkadang menjelang malam hari.

Dirinya menuturkan, kejadian ini memiliki peluang kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama dalam waktu berdekatan. (sen/far)

Editor : Faroq Zamzami
#berau #pulau derawan #kabupaten berau #angin puting beliung