Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Keunikan Desa Muara Enggelam Jadi Tempat Riset Peneliti Asal Australia

Redaksi • 2025-07-22 12:02:01
Tim peneliti saat berada di Desa Muara Enggelam untuk melakukan riset.
Tim peneliti saat berada di Desa Muara Enggelam untuk melakukan riset.

KALTIM Health Advisor dari University of Adelaide Australia, DR dr Afzal Mahmood selalu terkesima dengan segala keindahan yang ada di Kaltim. Bukan hanya tempat wisata terkenalnya yang membuatnya selalu ingin datang ke Bumi Etam, ia pun sangat suka menjelajah ke kawasan yang bahkan jauh dari keramaian.

Salah satunya Desa Muara Enggelam yang berada di di Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kebetulan Desa Enggelam menjadi salah satu riset penelitiannya berjudul People of the Mahakam River atau Masyarakat Sungai Mahakam.

Dalam proyek yang didanai oleh Global Seed Partnership Program University of Adelaide, Dr Afzal datang bersama tim dari Universitas Adelaide Australia, Dr Scott Hanson Easey. Kunjungan ke Desa Muara Enggelam yang dilaksanakan, Senin (14/7/2025) , dr Afzal bersama rombongan pendamping diantaranya Kepala Desa Muara Enggelam, Pimpinan Puskesmas Muara Wis, Dinas Kesehatan Kaltim, LPPM Unmul, koordinator kerja sama Kaltim-Adelaide bidang kesehatan Hj Syarifah Masitah, dan Ismi bersama masyarakat, mahasiswa KKN Unmul, serta Brida Kaltim.

Cukup panjang perjalanan menuju desa dengan sebutan desa tanpa daratan tersebut. Dr Afzal bersama rombongan menempuh jalan darat melewati Kota Bangun dengan waktu waktu tempuh sekitar dua jam menggunakan mobil dari Tenggarong ke Kota Bangun. Kemudian, dilanjutkan naik perahu selama 2 jam menuju Desa Muara Enggelam.

Desa ini terbilang unik, karena letaknya di tengah Danau Melintang. Danau yang memiliki luas sekitar 11 ribu hektare menjadi sumber daya air tawar yang melimpah. Tak heran Desa Muara Enggelam disebut desa tanpa daratan. Karena sekeliling desa yang dihuni 747 penduduk ini menggantungkan hidup sebagai nelayan dan  menggunakan perahu sebagai sarana transportasi utama untuk mobilitas masyarakat setempat.

“Luar biasa, menempuh perjalanan darat dan sungai, namun terbayar dengan keindahan desa ini, desa tanpa daratan,” ucapnya dengan bahasa Indonesia yang cukup jelas. Untuk diketahui, proyek People of the Mahakam River bertujuan untuk memberdayakan komunitas di sepanjang Sungai Mahakam agar dapat mendokumentasikan dan membagikan pengalaman hidup mereka terhadap perubahan lingkungan dari waktu ke waktu melalui penceritaan video.

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk meningkatkan kesadaran serta mendorong tindakan lokal terhadap isu-isu lingkungan. Pelaksanaan proyek terdiri dari beberapa tahapan. Pertama, anggota komunitas diundang untuk bergabung dalam proyek, dan mereka akan berdiskusi dengan peneliti mengenai tujuan proyek ini—yaitu menggambarkan perubahan yang terjadi pada sungai dan lingkungan, serta bagaimana hal itu dirasakan oleh masyarakat lokal.

Proyek ini akan melibatkan 15 peserta lokal yang tinggal di dekat dan menggantungkan hidup pada Sungai Mahakam, dengan latar belakang yang beragam dan keseimbangan gender yang diperhatikan. Adapun syarat untuk menjadi peserta adalah berusia antara 18 hingga 65 tahun dan telah tinggal di wilayah Kenohan atau Muara Wis, Kabupaten Kukar, selama minimal 10 tahun sehingga mereka memang benar-benar paham mengenai desa tersebut. Hingga pada proses tahapan hingga tahapan dalam penyelesaian proyek tersebut (*)

 

 

Editor : Indra Zakaria