TANJUNG SELOR - Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Utara (Kaltara) mencatat, awal 2019 ini sudah ada tiga korban meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan dari nyamuk ini.
Kepala Dinkes Kaltara, Usman mengatakan, sejauh ini sudah ada beberapa cara yang dilakukan untuk menindaklanjuti kasus DBD di wilayah provinsi termuda Indonesia ini. Salah satunya dengan melakukan fogging di beberapa tempat, seperti di Tanjung Palas Utara, Bulungan.
“Tapi fogging ini tidak boleh hanya sekali dilakukan pada satu tempat. Tapi harus dua siklus. Karena fogging ini hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentik yang ada di air tidak mati,” ujar Usman kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor belum lama ini.
Melihat cepatnya proses pertumbuhan jentik menjadi nyamuk dewasa yang hanya membutuhkan waktu satu hingga dua pekan, maka ditegaskannya paling lambat fogging kedua di suatu tempat dilakukan sepekan setelah fogging pertama dilakukan.
Jika tidak dilakukan fogging susulan, dikhawatirkan akan timbul kejadian baru di tempat tersebut. Dalam kondisi ini, mayoritas masyarakat terlena dengan aktivitas fogging yang telah dilakukan, karena tidak semua masyarakat mengetahui jika fogging hanya membunuh nyamuk dewasa.
“Setidaknya kita sudah melakukan upaya untuk menghambat perkembangan jentik menjadi nyamuk dewasa,” kata Usman.
Sebelumnya, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Dinkes Bulungan, Imam Sujono juga mengatakan hal yang sama. Bahkan ia menegaskan bahwa penggunaan fogging hanya untuk daerah yang bersifat mendesak seperti di daerah kejadian luar biasa (KLB).
Berdasarkan evaluasi yang dilakukan selama ini, mayoritas kejadian itu di daerah yang difogging. Di antaranya seperti di Jalan Semangka dan Kampung Arab, Tanjung Selor. Tapi sekarang dua daerah ini sudah dikendalikan dengan tidak dilakukan fogging seperti tahun-tahun sebelumnya. Adapun yang terbaik dilakukan masyarakat adalah pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Sementara, Kepala Bidang (Kabid) P2P Dinkes Kaltara, Agust Suwandy menambahkan, perlu diketahui dalam berkembang biak, satu ekor nyamuk bisa menghasilkan 100 hingga 200 telur dalam sekali bertelur. Demikian juga untuk ketahanan dari telur nyamuk itu.
“Kalau di tempat kering, telur nyamuk itu bisa bertahan hingga enam bulan. Artinya, jika telur itu terkena air sebelum enam bulan, maka masih bisa hidup menjadi jentik dan nyamuk dewasa. Nah, ini harus jadi perhatian masyarakat agar persoalan DBD dapat diatasi,” pungkasnya. (iwk/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan