PIJAI PASARIJA
TEPAT pukul 10.30 WITA kemarin, warga yang bermukim di RT 53 berkumpul di depan gapura pintu masuk Gang Kumis, Jalan Sengkawit yang dibangun secara swadaya warga. Tua, muda hingga anak-anak membaur bersama dalam balutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Suasana kemerdekaan semakin terasa kental di sepanjang lorong gang. Bendera berukuran 30x45 sentimeter (cm) menjuntai di atas ketinggian 4 meter. Tidak hanya itu saja, suasana kemerdekaan tahun ini juga semakin terasa saat detik-detik proklamasi meski di tengah pandemi Covid-19 menyelimuti. Warga yang saat itu tengah beraktivitas langsung bergegas untuk mengikuti upacara yang digelar di depan gapura yang terbuat dari beton cor tersebut.
Seluruh warga di RT yang selalu menjaga kebersihan lingkungan ini tampak semangat mengikuti detik-detik proklamasi dengan melakukan sikap sempurna dan hormat kepada bendera merah berukuran 110x64 cm yang diikat di ujung kayu sepanjang kurang lebih 3 meter.
Ketua RT 53 Basrah menyampaikan, gapura yang diresmikan itu merupakan hasil swadaya warga RT 53 dengan jumlah sebanyak 193 kepala keluarga (KK). Tetapi, jumlah itu tidak semua berdomisili di Gang Kumis. “Ada sebagian yang berdomisili di RT lain. Tetapi KK-nya tetap di Gang Kumis,” kata Basrah kala ditemui usai meresmikan gapura.
Ia juga berpesan kepada warga untuk menjaga gapura setinggi 4,5 meter tersebut. Sehingga gapura tetap utuh hingga perayaan HUT ke-76 RI mendatang. “Tahun ini RT 53 juga terpilih untuk mengikuti lomba HUT Kemerdekaan,” ujarnya.
Saat detik-detik proklamasi, seluruh warga juga diminta untuk melakukan sikap sempurna. Jadi, seluruh aktivitas dihentikan untuk menghormati sang saka merah putih. “Tetapi yang mengikuti detik-detik proklamasi ini hanya sebagian warga saja. Karena ada sebagian warga yang tidak bisa ikut karena ada kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan,” ungkapnya.
Di masa pandemi seperti sekarang ini RT dengan jumlah jiwa sekitar 500 orang ini tetap menggelar beberapa perlombaan tradisional 17 Agustus seperti lomba balap karung, makan kerupuk, memasukan pensil ke dalam botol dan memecahkan air di dalam plastik.
“Kalau tahun lalu kami masih mengadakan panjat pinang dan tarik tambang. Tapi karena sekarang ini masih pandemi ditiadakan dahulu, karena kegiatan itu dilakukan dengan kontak fisik,” sebutnya.
Perlombaan tradisional ini semua peserta berasal dari warga di 53 saja. Tidak ada peserta dari luar. “Lomba tradisional ini hanya diikuti anak-anak. Untuk dewasa kita ada lomba badminton,” tutupnya. (***/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan