Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Muncul Korban di Tarakan, Waspadai Kencing Tikus Berikut Gejalanya…

izak-Indra Zakaria • Sabtu, 24 Juni 2023 - 18:49 WIB
Photo
Photo

 Adanya keberadaan tikus di setiap rumah tidak hanya menjadi momok menakutkan pemilik rumah, namun juga keberadaan tikus dapat menjadi ancaman nyata perkembangan penyakit leptospirosis. Sehingga meski minum perhatian masyarakat leptospirosis dianggap sebagai ancaman virus yang menakutkan karena dianggap cukup mematikan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, Irwan Yuwanda menjelaskan, leptospirosis merupakan salah satu penyakit berbahaya yang bisa menimbulkan kematian. Dikatakannya gejala penyakit tersebut yakni demam tinggi, sakit kepala, tidak nafsu makan, diare, mata merah, nyeri pada otot khususnya pada otot betis dan punggung bawah. Biasanya, gejalanya muncul 1 sampai 2 minggu setelah terpapar bakteri leptospira.

“Penyakit ini patut diwaspadai, karena cukup mematikan. Biasanya penularannya bisa di benda atau air yang sudah terkena kencing tikus yang tersentuh luka manusia. Misalnya kalau kita punya luka di tangan, kita menyentuh benda atau air yang sudah dikencingi tikus maka bakterinya akan masuk ke pumbulu darah kita sehingga itu menimbulkan gejala. Kalau tidak cepat ditanggani saat gejala muncul, dalam kondisi terparah bisa menyebabkan kematian,” ujarnya, Kamis (22/6).

Dikatakan, kondisi banjir juga rawan terhadap penyebaran leptospirosis. Mengingat air yang tergenang bisa saja terpapar air kencing tikus. Sehingga ia mengimbau, warga yang memiliki luka dapat menutup luka sebelum keluar rumah saat banjir atau pun saat melakukan aktivitas bersih-bersih.

“Masyarakat perlu waspada kalau memiliki luka pada bagian kaki saat banjir. Sebaiknya saat banjir atau membersihkan rumah, kerja bakti di got, kalau punya luka ditutupi dulu. Karena air banjir yang terkontaminasi dari kencing tikus dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka. Nanti bakteri leptospira masuk ke tubuh melalui peredaran darah yang akan menimbulkan penyakit leptospirosis,” terangnya.

“Untuk mengetahui seseorang terkena leptospirosis, masyarakat bisa melakukan pemeriksaan laboratorium. Pada prinsipnya, jika terkena genangan banjir, masyarakat perlu menjaga kebersihan dan melakukan deteksi dini jika muncul sejumlah keluhan segera datang ke Puskesmas. Penyakit tersebut berbahaya dan dapat mengakibatkan kematian jika proses penanangannya terlambat,” sambungnya.Tahun ini terdapat 1 korban jiwa akibat leptospirosis. Sehingga ia menyarankan masyarakat agar dapat menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah memegang benda saat membersihkan rumah. Selain itu, disarankan kepada masyarakat untuk menutup  luka dengan plaster sebelum beraktivitas.

“Menjaga kebersihan seperti mencuci tangan  bukan hanya mencegah penularan Covid-19 tapi juga dari segala jenis bakteri. Saat punya luka, pastikan lukanya tidak menyentuh benda apapun dan sebaiknya ditutup sebelum menjalankan aktivitas,” urainya.

Dinkes Tarakan memiliki program surveilans sentinel leptospirosis dengan melakukan pemetaan di sejumlah kelurahan. Termasuk membedah ginjal tikus guna mengetahui bakteri leptospira pada tikus tersebut. Diketahui, dari hasil pengambilan sampel tikus di Kota Tarakan, terdapat bakteri leptospira pada ginjal tikus.

“Tahun 2022, ditemukan bakteri leptospira di Kelurahan Karang Rejo, Karang Balik dan Karang Anyar. Untuk hasil laboratorium tahun ini belum keluar. Untuk mengatasi kepadatan populasi tikus, itu bisa dikendalikan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan dan perangkap secara mandiri. Karena habitat tikus akan terus bertambah kalau masyarakat susah menjaga kebersihan lingkungan,” pungkasnya. (zac/lim)

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria