TARAKAN - Pesan suara berantai terkait dugaan penculikan anak di Tarakan berhasil diungkap pihak kepolisian. Wanita berinisial NV yang diduga menyebarkan pesan suara diamankan personel Polsek Tarakan Timur, Sabtu (28/1).
“Pak Kapolres langsung memerintahkan untuk melakukan lidik, terkait pesan berantai itu. Kami cari tahu dulu rentetannya, lalu didapatkan ada WhastApp (WA) keluarga yang menyebarkan dan diteruskan,” ujar Kapolres Tarakan AKBP Ronaldo Maradona T.P.P Siregar melalui Kapolsek Tarakan Timur Iptu Gian Evla Tama, Minggu (29/1).
Diketahui, pesan suara melalui media sosial merupakan imbauan untuk lebih berhati-hati atas penculikan anak di salah satu kampung halaman. Namun pesan suara lalu diteruskan ke grup WA lainnya. Dengan pesan yang menyebutkan tempat kejadian dugaan penculikan terjadi di Kelurahan Kampung Satu.
“Ada yang tanya di grup itu, lalu dia (terduga pelaku) menjawab kejadiannya di Kampung Satu Skip. Padahal dia sendiri tidak tahu kejadiannya di mana,” tegasnya.
Setelah melakukan penyelidikan, didapati 5 orang terduga pelaku yang berdomisili di Kecamatan Tarakan Timur. Saat itu Kapolres Tarakan meminta pihak Polsek mengedukasi terduga pelaku. Terkait bahayanya menyebarkan pesan yang belum valid.
“Pihak yang kami periksa cukup kooperatif. Sebenarnya mereka menyebarkan itu untuk saling waspada saja. Adanya informasi penculikan anak ini, karena beberapa kejadian seperti di Papua dan Makassar sampai dibunuh. Tapi salahnya kejadian disebut di Tarakan, makanya timbul keresahan,” ungkapnya.
Setelah dilakukan pendalaman, dari kelima warga yang diperiksa. Salah seorang warga diketahui berinisial NV yang menyebutkan, kejadian itu terjadi di Kelurahan Kampung Satu Skip. Meski begitu, pihaknya mengimbau kepada warga Tarakan agar lebih bijak dalam bermedia sosial.
“Dari grup ke grup pesan suara itu dishare. Kami juga sampai tanya anggota di Berau dan diakui memang informasi serupa tersebar di Berau. Dari orang pertama sampai keempat, meneruskan dengan pesan yang meminta anggota grup untuk hati-hati. Tapi NV tidak menyertakan pesan apapun, ketika melakukan share pesan suara,” bebernya.
Melalui video permintaan maaf yang diedarkan Polres Tarakan, NV mengakui perbuatannya menyebarkan informasi yang belum valid. Bahkan, ia pun tak mengetahui asal dan tempat kejadian tersebut.
“Saya melihat berita percobaan penculikan anak di media sosial. Saya sendiri tidak mengerti kejadiannya dan di mana berita tersebut. Namun dengan sengaja, saya menyebarkan berita. Yang saya tidak tahu kebenarannya ke grup yang ada di handphone saya,” ucap NV dalam keterangan video.
Ia mengakui, sudah menyebut dugaan kejadian penculikan terjadi di Kelurahan Kampung Satu Skip. Sehingga informasi dari pesan suara yang disebar, membuat resah warga Tarakan.
“Atas kejadian ini saya meminta maaf kepada warga Tarakan. Atas berita hoaks yang saya sebarkan,” ungkapnya. (sas/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria