Pelajar SMAN 7 Banjarmasin ini menusuk temannya di kelas. Diduga penusukan itu dipicu perundungan yang berlangsung sejak SD.
***
BANJARMASIN – MR, 15 tahun, masih dirawat di Rumah Sakit Ulin Banjarmasin. Usai ditusuk temannya Senin (31/7) pagi. Siswa SMAN 7 Banjarmasin ini menderita luka serius di perut sebelah kanan. Ditambah dua luka tusuk di bahu.
Yang menusuk adalah ARR, 15 tahun, teman sekolahnya. Insiden ini terjadi di dalam kelas, sekitar pukul 07.00 Wita, sebelum apel bendera. Dalam rekaman CCTV sekolah, ARR masuk ke dalam kelas. Begitu melihat MR, ia langsung menusuknya dengan pisau sepanjang 30 sentimeter.
MR terluka, ARR lalu lari keluar kelas. Menuju jalan raya sambil menenteng sajam yang berlumur darah. “Kejadiannya di dalam kelas. Korban didatangi pelaku, lalu diserang dengan senjata tajam hingga terluka,” ungkap salah seorang pelajar Smaven kepada Radar Banjarmasin.
Keduanya siswa kelas X, namun beda kelas. “Pelaku kelas X K dan korban kelas X D,” ujarnya yang meminta namanya tak dikorankan. Latar belakangnya, pelaku sering diejek korban soal kartun Jepang yang diidolakannya. Pelaku memang dikenal seorang wibu (penggemar budaya populer Jepang).
MR dan ARR memang berteman, karena dahulu bersekolah di SD dan SMP swasta yang sama di Banjarmasin. “Dulu satu SD. Pelaku sudah lama marah, karena di-bully sejak SD. Rupanya pecah saat SMA ini,” kata seorang pelajar yang mengaku mengenal keduanya, walaupun tidak bersekolah di SMA yang sama.
Orang tua MR, Faisal Akly menyangkal anaknya merundung ARR. “Menurut kami tidak benar ada bullying seperti yang diberitakan. Semua kami serahkan ke kepolisian. Meminta untuk diproses seadil-adilnya dan setuntasnya sesuai hukum yang berlaku,” kata pria 42 tahun itu.
Korban masih dalam penanganan instensif setelah menjalani proses operasi. “Alhamdulillah operasinya lancar, tetapi menurut dokter, ditakutkan mengenai bagian organ sensitif. Semoga setelah melalui pemeriksaan rontgen dan CT scan bisa ditangani. Mudah-mudahan berjalan baik,” harap Akly.
Akly mengaku selalu berkomunikasi dengan anaknya ketika berada di meja makan di rumah. Selama itu, ia tak pernah mendengar ada masalah. “Tidak pernah ada cerita soal pelaku. Tidak ada sama sekali,” tegasnya ASN di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Banjarmasin itu.
“Ada tawaran mediasi yang diarahkan oleh kepolisian. Soal biaya perawatan medis dan pemulihan. Tapi soal biaya saya cukup saja,” imbuhnya. Sementara itu, kuasa hukum Akly, Kurniawan menegaskan pemberitaan yang beredar tidak benar.
Ia mengaku telah menemukan riwayat percakapan di WhatsApp korban. Di sana ada pesan-pesan dari pelaku. Yang intens menanyakan soal tugas sekolah dan lainnya kepada korban. “Dari percakapan itu semua, tampak pelaku yang aktif menghubungi korban sejak Oktober tahun 2022 lalu. Jadi menurut kami tidak ada terjadi bullying. Isi percakapannya biasa saja,” katanya.
Kurniawan juga melihat ada unsur berencana, pelaku memang berupaya menghabisi nyawa korban. “Lokasi kejadiannya tidak wajar, di ruang kelas dan sajam bisa masuk. Dan pelaku sempat mengirim pesan, menanyakan keberadaannya di mana. Tangkapan layarnya telah kami ajukan sebagai bukti dalam laporan,” pungkasnya. Akly dengan ini resmi melaporkan kasus pidana penganiayaan berat itu ke Polresta Banjarmasin.
Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin, Kompol Thomas Afrian mengatakan kasus ini masih diselidiki. “Dugaannya sementara karena masalah bullying, tetapi ini masih didalami,” ujarnya singkat. Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kalsel, Muhammadun mengatakan kasus ini harus menjadi pelajaran berharga untuk dunia pendidikan. “Dengan kejadian ini akan kami evaluasi tentang pendidikan karakter siswa,” ujarnya. Untuk pencegahan ke depan, dia menegaskan sistem pengawasan sekolah harus lebih baik. Terutama untuk pemasangan kamera CCTV.
Berikutnya, mencegah benda terlarang seperti sajam untuk masuk ke sekolah. “Kami sudah peringatkan Bidang Sarpras (Sarana dan Prasarana) Disdik untuk memasang alat detektor di sekolah. Untuk mencegah masuknya benda terlarang ke dalam sekolah,” tambah Muhammadun. (lan/gr/fud)
Editor : izak-Indra Zakaria