Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Andalkan Modal dan Pemasaran Mandiri

Wawan-Wawan Lastiawan • 2022-05-09 09:15:11
Meski punya potensi, industri pengasinan asin di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur belum mendapat perhatian pemerintah.
Meski punya potensi, industri pengasinan asin di Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur belum mendapat perhatian pemerintah.

 Kawasan pesisir timur Balikpapan menyimpan potensi hasil laut yang cukup besar. Salah satunya adalah industri pembuatan ikan asin di RT 13 Kelurahan Manggar, yang dikelola warga secara mandiri.

BALIKPAPAN-Matahari sudah bersinar sangat terik, meski jarum jam baru menunjukkan pukul 08.00 Wita. Teriknya matahari justru jadi berkah bagi perajin ikan asin di kawasan Manggar, Balikpapan Timur. Ikan yang dijemur dapat kering dengan maksimal. “Kalau mendung, biasanya bisa dua hari baru kering. Kalau panas terik, sehari biasanya sudah kering,” kata Dahlia, salah satu perajin ikan asin.

Dalam sehari, Dahlia biasanya mampu mengolah 3 kuintal hingga 5 kuintal ikan untuk diasinkan.  Proses pengasinan ikan juga cukup sederhana. Ikan yang dibeli dari nelayan terlebih dulu dibelah, setelah itu ikan diberi garam dan disimpan dalam wadah selama satu malam. “Setelah itu ikan dibilas air laut dan dijemur satu hingga dua hari sebelum dijual,” kata dia.

Tak hanya menyuplai kebutuhan di Kaltim, ikan asin produksi Manggar, Balikpapan Timur belum mendapat perhatian pemerintah.

 

Jenis ikannya juga bermacam-macam. Namun di Manggar, ikan yang umum diasinkan adalah ikan tikotiko, haluhalu, hambar, layang dan betebete. Dengan harga jual antara Rp 10 ribu-40 ribu.

Usaha pengasinan ikan yang ditekuni Dahlia merupakan usaha turun temurun. Sang ibu, Endo Kalo, merupakan generasi pertama pembuat ikan asin.  “Ibu sudah 20 tahun lebih menjalankan usaha ini. Saya dan anak saya hanya membantu saja,” kata perempuan 50 tahun ini.

Meski kerap dipandang sebelah mata, nyatanya usaha ikan asin Dahlia cukup menjanjikan. Dalam sekali pengeringan, omzet yang dia hasilkan minimal mencapai Rp 1 juta.

Nominal pendapatan, kata dia tergantung harga ikan. Jika harga ikan sedang tinggi, maka pendapatan juga bakal meroket. Pun sebaliknya, jika harga sedang jatuh, margin keuntungan juga kian menipis.

Dahlia, generasi kedua perajin ikan asin di RT 13 Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur. 

 

Namun, omzet tersebut belum dipotong upah membelah ikan, membeli garam dan membeli ikan dari nelayan. Untuk pemasaran, selain melayani kebutuhan di Balikpapan, tak jarang ikan asin buatan Dahlia dibeli pengepul dari Samarinda dan Palu, Sulawesi Tengah. 

Perajin yang lain, Yuli, mengakui usaha pembuatan ikan asin sejatinya cukup menjanjikan. Sayang, hingga saat ini perajin tak punya akses pinjaman untuk mengembangkan usaha mereka. “Semua modal sendiri, sejauh ini belum ada perhatian dari pemerintah atau perbankan,” kata Yuli.

Tak hanya terkendala akses pinjaman, Yuli dan perajin yang lain juga memasarkan produknya sendiri. Sama sekali tak ada fasilitas yang diberikan oleh pemerintah. Biasanya, pemasaran dilakukan lewat mulut ke mulut dan teman ke teman. “Modalnya hanya saling percaya saja. Kalau tidak dibayar ya sudah rugi,” kata dia pasrah.

Ya, Yuli beberapa kali memang sempat mengalami kejadian tak mengenakkan. Dia sempat beberapa kali ditipu tengkulak dari Samarinda. “Awalnya lancar saja.  Begitu barang dikirim, lalu dibayar. Belakangan beberapa kali dikirim, pembayaran tidak jelas, nomornya juga sudah tidak bisa dihubungi,” ungkap dia.

Dia mengaku saat ini sedang mencoba menjajaki pasar ikan asin di Kupang, Nusa Tenggara Timur. “Ini saya sedang siapkan dua ton untuk pengiriman ke sana (Kupang), modalnya lebih dari 40 juta. Modal percaya saya, sebab pengiriman pertama kemarin lancar,” jelas dia.

Selain mengeringkan sendiri ikan, Yuli biasanya juga membeli ikan asin dari perajin lain. Tak hanya di Balikpapan, dia bahkan kerap mengumpulkan ikan asin dari kawasan Samboja, Kukar. “Kalau permintaan sedang tinggi, saya biasanya beli juga dari perajin lain untuk memenuhi permintaan pasar,” jelas dia. (hul)

Editor : Wawan-Wawan Lastiawan
#balikpapan