Oleh: Helgavino Agnelly Achmad, Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Malang
Stigma yang berkembang di kalangan masyarakat menilai bahwa mahasiswa berada dalam strata tertinggi dalam pendidikan yang mana itu artinya mahasiswa merupakan panutan bagi adik-adik yang berada di tingkat di bawahnya. Oleh karenanya, sering kali citra yang sangat baik terekam di dalam status mahasiswa sehingga masyarakat pun percaya kalau seorang individu telah menjadi seorang mahasiswa/i maka individu tersebut merupakan cikal bakal panutan yang hebat bagi generasi muda lainnya.
Sebagai sekumpulan kaum intelektual, mahasiswa sendiri bahkan disebut sebagai jembatan antara rakyat dan para petinggi negara, sehingga dalam beberapa hal yang berkaitan dengan politik, masyarakat begitu mengandalkan mahasiswa. Citra baik tersebut tentunya tak terlepas dari beberapa oknum yang mencoba mengotori 'sucinya' mahasiswa di kaca mata masyarakat. Hal ini merupaka akibat dari maraknya pergaulan bebas yang berkembang di kalangan mahasiswa, yang mana sudah sepatutnya mereka menjauhi hal tersebut karena tentu saja tak sejalan dengan nilai-nilai yang mereka pelajari selama perjalanan menuju bangku kuliah yang tinggi tersebut.
Pergaulan bebas merupakan suatu jalinan interaksi yang tidak terikat dan tentunya menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Sebagai contoh kasus pergaulan bebas yang sudah berada di tingkat yang amat mengkhawatirkan dan telah menyebar di kalangan mahasiswa yakni seks bebas. Ada banyak jenis pergaulan bebas lain yang tentunya sama mengkhawatirkannya, namun dewasa ini yang sering kali menjadi perbincangan dan perhatian masyarakat luas adalah seks bebas.
Seks bebas adalah suatu perilaku yang didasari oleh hasrat seksual yang ditunjukan dalam bentuk perlakuan atau action. Beberapa penyebabnya adalah menonton film porno, pengaruh pergaulan bebas, penyaluran hasrat seksualnya dan kurangnya peran dan pengawasan orang tua. Hal ini juga tak lepas dari masuknya pengaruh asing yang tak melewati penyaringan yang baik oleh mahasiswa itu sendiri. Sebagai contoh, Film-film barat menampilkan remaja yang melakukan adekan seks ataupun sekadar bercumbu, yang mana di negara mereka hal tersebut memang sudah wajar. Mahasiswa yang menyerap budaya tersebut tanpa melakukan penyaringan terlebih dahulu tentu saja beranggapan bahwa hal-hal itu adalah bagian dari HAM dan negara tak berhak mengaturnya, yang mana akibatnya adalah timbulnya perilaku seks bebas yang menyimpang dari nilai-nilai pancasila sebagai pedoman hidup kita.
Seksualitas memang suatu kebutuhan biologis yang kodrati sifatnya seperti halnya kebutuhan makan, akan tetapi pemahaman seksualitas tidak lepas dari konteks sosial budaya yang telah ikut mengaturnya sebab itu pemahaman perilaku dan orientasi seksualitas dapat berbeda dari satu budaya ke budaya lain atau dari jangka waktu satu ke jangka waktu yang lain. Selain itu, sebagai kaum intelektual yang dijadikan contoh oleh masyarakat luas, sudah sepatutnya mahasiswa menerapkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam berperilaku maupun tutur kata.
Namun dewasa ini kehadiran pancasila sendiri seakan dilupakan dengan munculnya budaya-budaya baru dari luar seperti kpop, anime, barat dan lain sebagainya. Padahal jika kita ulas dengan serius, berpegang teguh pada pancasila tidak membawa kerugian bagi diri sendiri maupun kepada orang lain. Hal itu malah membawa banyak kebaikan bagi kehidupan individu maupun kelompok. Pun dapat menjadikan minimnya perilaku pergaulan bebas di kalangan masyarakat, sebab pudarnya pengetahuan pancasila di kalangan remaja menjadikan remaja tumbuh dan berkembang tanpa adanya ikatan dari nilai-nilai pancasila. Selama ini, pancasila-lah yang menjadi Pedoman kita dalam tumbuh dan berkembang. Namun jika peran pancasila sendiri diabaikan, tentu saja mereka akan mengalami kesulitan. Mengapa demikian?
Hal ini karena, dalam sila-sila Pancasila, kita diajarkan untuk saling menghargai satu sama lain, saling membantu dan juga merasa bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan dan juga hak yang sama dalam berbangsa dan juga bernegara. Sebagai contoh kecil. Sering sekali terjadi cek cok antara kubu kpop dan kubu anime, mereka bersikap saling tidak menghargai dan menimbulkan kericuhan di media sosial, hal tersebut tentunya tak akan terjadi apabila kedua kubu menerapkan nilai yang diajarkan pancasila untuk menghargai satu sama lain kan? Melihat dari berbagai penilaian di atas, sepertinya sulit bagi pancasila sendiri untuk mempertahankan posisinya di era globalisasi, terlebih di masa depan. Sedangkan kehancuran pancasila sendiri menjadi tanda bahwa hancur pula kehidupan yang bermoral dan damai di negara Indonesia.
Oleh sebab itu, guna mencegah perilaku-perilaku yang menyimpang, sudah sepatutnya kita kembali mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Sebab jika kita selami lebih dalam, kita akan tau apa makna apa saja yang terkandung dalam kelima sila yang ada di pancasila dan tentunya dapat membuat kita berpikir lebih matang dan baik sebelum melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang. (paks/pro)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan