BEDU -- nama samaran -- "terserang" puber kedua. Dia kembali mabuk asmara. Saat usia sudah merangkak senja. Bukan kepada istri yang memberinya anak. Tapi pada perempuan lain. Yang membuat pria 50 tahun itu mabuk kepayang. Bukan lagi Karin -- nama samaran istrinya -- yang ada di kepala. Bukan lagi Karin yang mengisi relung-relung hatinya. Bukan lagi Karin yang menjadi nyanyian rindu dalam hidupnya.
Ada Ijah -- juga nama samaran. Yang sudah mencuri hatinya. Istri yang lebih muda 10 tahun darinya pun diabaikan. Bedu dan Ijah bak anak baru gede (ABG) yang baru menemukan cinta. Walhasil, pernikahan mereka pun berakhir di meja hijau Pengadilan Agama (PA) Bontang.
Alasan Bedu memilih Ijah pun membuat Karin tak henti mengelus dada. Di mata Bedu, Karin sudah tak menarik lagi. Sudah tak aduhai lagi. Sudah tak mampu merantai hatinya lagi. Padahal Karin lah yang selama ini mengandung dan membesarkan anak-anak Bedu. Menyiapkan aneka keperluan Bedu. Yang menemani kala susah dan senang. "Bosan melihat penampilan istri," ujar Bedu.
Merasa tak dicintai lagi oleh Bedu, Karin memilih mengajukan gugatan cerai. Ia tak mau kehidupan rumah tangganya yang tak sehat merembet pada masa depan anak. Lebih baik berjuang sendiri membesarkan anak-anak daripada harus terus merasa sakit hati akibat ulah suami. Buat apa tinggal satu atap dengan laki-laki yang sudah tak mencintai.
Panitera PA Bontang Mursidi mengatakan, kasus Bedu adalah satu dari sekian banyak cerai gugat karena suami selingkuh yang masuk ke mejanya. Bahkan, ada yang sudah nikah siri. Mayoritas penggugat yakni ibu muda berusia 20-an tahun. "Tetapi ada juga istri umur 40 tahun. Suami umur 50 tahun juga ada yang selingkuh," jelas Mursidi. (mga/pro/one)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan