Umat Hindu di Kabupaten Malinau sangat merasa aman, nyaman dan damai dalam melaksanakan ibadah serta menjalankan aktivitas keagamaan. Mereka tidak merasa dibedakan dengan agama-agama lainnya walaupun jumlah mereka sedikit, itu karena toleransi umat beragama di Bumi Intimung sangat dijunjung tinggi.
Agussalam Sanip
Sesuai data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Malinau pada semester satu Tahun 2020, jumlah umat Hindu di Malinau sebanyak 80 orang. Di mana laki-laki sebanyak 38 orang dan perempuan 42 orang.
Walaupun jumlah umatnya tidak banyak, mereka merasa sangat diperhatikan serta didukung pemerintah daerah (pemda) dan mereka hidup harmonis berdampingan dengan umat beragama lainnya yang jumlah umatnya banyak.
“Kerukunan (umat beragama) di Kabupaten Malinau sudah sangat harmonis sekali mengingat motto dari pemda itu sendiri yang selalu mendengungkan sesuai dengan moto Bapak Bupati (Dr. Yansen TP, M.Si) setiap ada pertemuan beliau selalu mendukung, men-support yang namanya harmonis dengan slogan saya ada untuk semua, bersama kita pasti bisa,” ungkap Made Sutarno, S.Pd.H, tokoh agama Hindu Kabupaten Malinau saat ditemui di Pura Agung Femung Jagat Natha Kabupaten Malinau, Rabu (12/8).
Dengan moto itulah, kata Made Sutarno, selama ini Kabupaten Malinau sangat terjalin harmonis hubungan antar umat beragama dan tidak ada gesek-gesekan yang berhubungan dengan perbedaan, terutama perbedaan keyakinan ataupun kepercayaan.
Jadi menurutnya secara pribadi dan menurut selaku tokoh agama dari umat Hindu di Kabupaten Malinau, sangat mendukung dengan program-program kegiatan yang ada di Malinau ini dalam menciptakan kerukunan umat beragama. “Jadi selama ini kerukunan umat beragama di Malinau sudah sangat harmonis sekali,” kata pria yang berprofesi sebagai guru agama Hindu di beberapa sekolah di Malinau ini.
Dengan jumlah yang minoritas, pihaknya tidak pernah sama sekali mendapat gangguan atau larangan dalam menjalankan dan melaksanakan ibadah. Ia menegaskan lagi bahwa untuk masalah larangan atau tekanan dari pihak luar selama ini tidak ada sama sekali, terutama pada masa-masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19).
Dimana, lanjutnya, di masa pandemi sering di media sosial (medsos) muncul semacam ada larangan untuk ibadah. Pihaknya taat aturan dengan mengikutin protokol kesehatan sesuai panduan dan imbauan dari pemerintah. Pihaknya tetap melaksanakan ibadah dengan catatan mengikuti protokol yang ketat.
“Untuk larangan dari pihak lain itu tidak ada selama ini. Kami melaksanakan kegiatan ibadah dengan nyaman, aman dan tertib,” aku Made Sutarno yang juga diamanahi sebagai Pinandita Alit Pura Agung Femung Jagat Natha ini.
Kemudian, saat ditanya apakah ada bantuan serta perhatian dari pemda, ia mengakui sangat besar peran pemda, khususnya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau dalam keberlangsungan umat Hindu Kabupaten Malinau.
“Dari awal berdirinya lembaga Hindu di sini, PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia), dari pihak pemda sangat men-support dan mendukung. Kami banyak di-support dalam bentuk materi maupun motivasi,” ungkapnya.
“Kami jujur sebetulnya umat Hindu di Malinau ini sangat sedikit dan bisa dibilang minoritas, tetapi dengan dukungan, motivasi dan support dari pemda seperti pemberian hibah untuk pembangunan pura semua difasilitasi oleh pemda,” beber dia.
Seperti diketahui, di Kabupaten Malinau telah berdiri pura, pura yang diresmikan oleh Bupati Malinau Dr. Yansen TP, M.Si pada tanggal 26 November 2015 itu bernama Pura Agung Femung Jagat Natha dan berlokasi di Jl. Batu Lidung.
Selain bantuan pembangunan pura, banyak juga bantuan lainnya dari pemda, tertama di masa pandemi, pihaknya mendapat bantuan tempat cuci tangan dan juga sembako untuk melangsungkan kegiatan masyarakat, terutama umat Hindu di Kabupaten Malinau.
“Jadi perhatian dari pemerintah itu sendiri sangat komplit, artinya selalu mendukung dan men-support. Kalau misal ada kendala-kendala pasti kami komunikasikan dengan pihak pemda dan dari pihak pemda sangat mendukung dan men-support,” tuturnya.
Terkait dukungan dari pemda dan juga terkait tentang kerukunan umat beragama di Kabupaten Malinau, tentu pihaknya berharap terus terjaga dan terus meningkat. Sebab, keharmonisan sangat penting, tidak hanya untuk Malinau tapi untuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
Khususnya di Malinau, pihaknya mengharapkan tidak hanya dari pemda, tidak hanya dari tokoh agama, tapi semua masyarakat harus mendukung yang namanya keharmonisan. Tidak hanya di kata-kata, tapi juga perlu tindakan dan saling jaga silaturahmi antar umat beragama.
“Kita tahu di Malinau ini sangat multi kultur, ibaratnya mini Indonesia ada di Malinau. Jadi harapan kami walaupun di Malinau banyak perbedaan, tetapi selalu tetap bersatu yang selalu didengung-dengungkan oleh pemda dengan keharmonisannya seperti (filosofi) pelangi,” harapnya.
Karena dengan keharmonisan dan bersatunya umat bergama sebagai bagian yang tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, maka semua roda pemerintahan bisa berjalan dengan baik dan tentu kegiatan dalam keagamaan juga bisa berjalan dengan lancar untuk menuju kedamaian itu sendiri.
Dalam konsep umat Hindu, kata Made Sutarno, ada namanya damai yang biasa disebut santi santi santi yang artinya damai damai damai. Kemudian ada juga slogan kami yang namanya tat twam asi yang memiliki mana kita semua bersaudara, semua sama ciptaan Tuhan.
“Ada juga yang namanya tri hita karana, tiga hubungan yang harmonis tidak hanya hubungan dengan Tuhan, tapi juga dengan sesama dan dengan alam. Jadi dari pihak Hindu sendiri sangat mendukung yang namanya keharmonisan itu,” katanya.
Untuk itu, sekali lagi dirinya mengajak untuk semua warga Malinau, terutama warga Hindu dan lainnya untuk tetap saling menjaga silaturahmi walaupun dalam keadaan pandemi ini. “Kita bisa laksanakan dengan berbagai cara untuk melaksanakan silaturahmi. Itu sangat penting,” pungkasnya. (bersambung)
Editor : anggri-Radar Tarakan