BALIKPAPAN-Minggu (10/4), kemarin, jadi hari bersejarah bagi umat Hindu di Kota Balikpapan. Pura Hyang Guru yang dibangun sejak setahun silam akhirnya dapat digunakan untuk peribadatan.
Prosesi peresmian berlangsung meriah namun tetap dalam suasana khidmat. Ratusan umat hindu juga turut menghadiri upacara Melaspas dan Ngenteg Linggih di Pura Hyang Guru. Sejumlah pejabat teras juga hadir dalam peresmian pura ini, mulai dari Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, Kapolresta Balikpapan Kombes Thirdy Hadmiarso hingga anggota DPRD Kota Balikpapan Syarifudin Odang.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Balikpapan, I Nengah Kayun Widyartana, mengatakan, Pura Hyang Guru merupakan pura ketiga yang berdiri di Kota Beriman, setelah Pura Giri Jaya Natha, Balikpapan Tengah dan Pura Praja Pati, di Kilometer 16, Balikpapan Utara.
Pura Hyang Guru terletak di Jalan Kesatrian, Kilometer 8, Kelurahan Graha Indah ini didirikan untuk pemujaan Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Siwa sebagai Hyang Brahma, Hyang Wisnu dan Hyang Iswara. Keberadaan pura yang berdiri di atas lahan seluas 1,3 hektare ini juga jadi solusi umat hindu yang ingin menjalankan ritual bagi ruh keluarganya yang sudah wafat.
“Kemarin kami mesti melakukan ritual di Pulau Bali, sekarang sudah bisa dilakukan di Balikpapan,” kata Nengah.
Diresmikannya Pura Hyang Guru, membuat umat Hindu Balikpapan kini hanya perlu membangun satu lagi pura, yakni Pura Segaran. Pembangunan Pura Segaran, untuk penyucian ruh, kata Nengah, sudah masuk dalam rencana.
“Pak Wali Kota juga sudah komitmen untuk membantu untuk persoalan tanah. Sebab, pembangunan pura ini kan butuh anggaran yang tak sedikit,” jelas dia.
Ketua Pembangunan Pura Hyang Guru, Nyoman Darma Yasa mengatakan, pembangunan pura ini diatas lahan seluas 1,3 hektar ini menelan anggaran hingga Rp 1 miliar lebih. Dana pembangunan ini, kata dia diperoleh dari sumbangan swadaya umat Hindu di Kota Beriman.
Pura Hyang Guru, kata Nyoman, terdiri dari beberapa bangunan utama, yaitu Tembok Penyengker dan Candi Bentar, Bale Pewedan, Pelinggih Ratu Ngurah, Pelinggih Taksu, Pelinggih Padmasari, Pelinggih Stana Hyang Guru dan Pelinggih Candi Raras/ Prasada.
Nyoman meneruskan, pengurus juga tengah berencana membangun balai serbaguna yang bisa dimanfaatkan seluruh warga, tak hanya umat hindu. “Kami berharap, kehadiran pura ini dapat memberi makna dan kontribusi bagi warga di sekitar pura,” katanya.
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud mengucapkan selamat kepada umat Hindu yang ada di Kota Balikpapan yang sudah menuntaskan pembangunan sarana ibadah yang representatif.
Keberadaan pura ini, diharapkan jadi simbol kerukunan umat beragama di Kota Balikpapan. Apalagi, bangunan Pura Hyang Guru, bersebelahan dengan Pondok Pesantren Kulliyatul Muballigin dan Masjid Sabilillah. Ini semakin menegaskan semangat toleransi yang tinggi di antara pemeluk agama di Kota Beriman.
Rahmad juga berharap, keberadaan pura menjadi sarana pembinaan generasi muda Kota Balikpapan.
“Agama merupakan pilar dan pondasi bagi kemajuan bangsa dan negara, dengan hadirnya rumah ibadah menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai sarana melaksanakan ibadah, tetapi juga untuk membina masyarakat khususnya generasi muda agar memiliki moral dan akhlak yang baik sepertibyang diajarkan oleh agama,” terang Wali Kota.
Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai agama disebut dia sangat penting guna menangkal kemerosotan moral serta untuk terus menggaungkan semangat persatuan dan kesatuan.
“Kehadiran pura ini sekaligus menjadi aset bagi keberagaman masyarakat Kota Balikpapan, di mana kita sangat bangga dan bersyukur dapat hidup dengan rukun dan harmonis di tengah masyarakat yang heterogen,” tuntas dia. (hul)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan